My Wife SUGAR MOMMY

My Wife SUGAR MOMMY
Impossible


__ADS_3

Parmin dan juga Parman yang sedang berpatroli di setiap sudut penjuru perusahaan Camel saat semua karyawan sedang makan siang. Menghentikan langkahnya saat berada tepat di depan ruang kerja Camel sang atasan. Sebenarnya hanya Parmin yang menghentikan langkahnya, membuat Parman yang berjalan tepat di belakang Parmin mau tidak mau juga menghentikan langkahnya.


“Min, ada apa?” tanya Parman pada rekan kerjanya tersebut.


Namum tidak mendapat jawaban dari Parmin yang sekarang malah mengamati pintu dan juga tirai ruang kerja sang atasan yang tertutup rapat.


“Min, ada apa sih?” tanya Parman lagi saat tidak mendapat jawaban dari rekan kerjanya tersebut yang sekarang mondar mandir tepat di depan pintu ruang kerja Camel.


“Kenapa ruang kerja bos di tutup tirai nya ya?” tanya Parmin balik tanpa menjawab pertanyaan Parman rekan kerjanya.


“Tidak usah kepo Min, lebih baik kita kembali ke pos,” ajak Parman.


“Aku takut bos sedang bertengkar dengan suaminya di dalam,” ujar Parmin karena tadi mengetahui jika Santos sudah lama berkunjung ke perusahaan tersebut. “Padahal tadi sebelum suami bos datang, tirai ini terbuka loh Man,”


“Sudahlah, bos kita sedang menikmati makanan penutup,” sambung Parman yang tidak pernah ingin tahu sedang apa Camel di dalam. Tidak seperti Parmin.


"Makanan penutup, masa tirai di tutup. Aku harus masuk ke dalam. Aku takut bos mengalami kekerasan dari suaminya itu,"


"Kekerasannya juga pasti yang enak. Sudahlah kita kembali ke pos, jam makan siang sebentar lagi akan habis," Ajak Parman.


Tentu saja mendengar apa yang baru saja Parman katakan, Parmin langsung menautkan keningnya menatap rekan kerjanya tersebut.


"Di mana mana kekerasan itu tidak enak Man. Kalau bicara asal saja," sambung Parmin yang sekarang mengetuk pintu kaca ruangan Cancel yang tertutup rapat tirai black out, dan memanggil bos nya beberapa kali.

__ADS_1


Namun tidak ada sahutan dari dalam, membuat Parmin coba untuk membuka pintu tersebut yang ternyata di kunci dari dalam.


Dan sekarang Parmin menoleh ke arah Parman yang berdirinya tidak jauh darinya.


"Man, pinjam kunci cadangan pintu ini," ujar Parmin. Karena yang memegang kunci cadangan semua pintu yang ada di perusahaan Camel adalah Parman.


"Dasar tidak pengertian, lebih baik kita kembali ke pos," Parman menarik tangan Parmin untuk menjauh dari pintu ruang kerja bosnya. "Mereka sedang huh hah huh hah Min,"


"Kepedesan?" tanya Parmin yang tangannya terus di tarik oleh Parman untuk menjauh dari ruang kerja Parmin.


"Keenakan peak!" seru Parmin yang sekarang menoyor kepala rekan kerjanya tersebut. "Makanya kawin!"


"Tidak ada bos yang mau sama aku Man, seperti bos Camel ke suami brondongnya,"


"Ngaca! Speak pantat wajan. Nyarinya speak bidadari. Impossible!" seru Parman yang kembali menoyor kepala Parmin.


Setelah dirinya mendapat jatah di siang hari bolong untuk menikmati surga dunia, setelah membujuk sang istri yang tadi sempat menolak memberi jatah. Namun bukan Santos namanya, jika tidak bisa membawa sang istri menikmati surga dunia.


"Terima kasih sayang," ucap Santos di akhiri dengan mencium setiap jengkal wajah sang istri yang masih berada di atas sofa, tempat keduanya baru saja melakukan olah raga siang.


Kemudian Santos membantu sang istri mengenakan pakaian, saat dirinya sudah memakai pakaiannya, namun di tolak oleh Camel.


"Kenapa sayang,"

__ADS_1


"Aku bisa sendiri. Lebih baik kamu pergi membeli bakso yang aku inginkan,"


"Oke sayang. Lima belas menit aku sampai ke sini dengan semangkuk bakso keinginan kamu," sambung Santos sambil mengukir senyum, lalu mencium bibir sang istri sebelum meninggalkan nya.


Camel memutuskan untuk menyusul sang suami karena sudah hampir setengah jam Santos belum juga kembali, padahal kedai Bakso yang dia inginkan letaknya tepat di depan perusahaan Camel.


"Siang Bos," Sapa Parman dan juga Parmin yang sedang berjaga di pos saat melihat Camel yang keluar dari perusahaannya.


"Siang, apa kalian melihat suamiku?"


"Baru saja dia menuju kedai bakso Bos, setelah berbincang dengan kita," jawab Parman.


Tentu saja membuat Camel langsung menautkan keningnya mendengar apa yang baru saja Parman katakan.


"Dasar kang cilok, awas kamu, aku sudah menunggu lama, kamu malah ah, menyebalkan," guman Camel yang langsung berjalan menuju tepi jalan untuk menghampiri sang suami.


"Sayang," panggil Santos yang berada di sisi jalan lainnya sambil menunjukkan jika dirinya sudah membeli bakso keinginan sang istri.


Dan Santos pun menoleh ke kanan kiri jalan sebelum menyebrang. Lalu Santos menautkan keningnya saat ada mobil melaju dengan kecepatan penuh menuju ke arah sang istri yang berdiri di tepi jalan sambil menatap ke arahnya.


"Sayang awas!"


"Sayang!"

__ADS_1


Brak!


Bersambung....................


__ADS_2