
"Tidak!!!" Teriak Camel lagi sekuat tenaga hingga suaranya terdengar menggema di seluruh tempat di mana sekarang dirinya berada.
Air mata sekarang meluncur bebas dari ke dua kelopak mata Camel, bibirnya yang bergetar seketika tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun
Dan tubuh Camel seakan tidak memiliki tulang lagi, hingga dirinya terjatuh tepat di atas brankar di mana jazad sang suami telah terbujur kaku di atasnya.
Suara isak tangis penuh kesedihan yang keluar dari bibir Camel, membuat semua orang yang berada tidak jauh dari Camel, begitu sedih. Dan papi Arthur yang berdiri tidak jauh dari sang putri, sekarang mendekatinya. Lalu menepuk punggung Camel yang masih terus saja menangis.
"Mel. Ini sudah takdir Tuhan," ujar papi Arthur yang sekarang ikut menitikkan air matanya yang sedari sudah di tahannya.
"Tidak!" teriak Camel lagi dengan kencang.
"Mel, ada apa dengan kamu. Bangunlah,"
"Iya Nak, bangun," sambung ibu Rina sambil menggoyang goyangkan tubuh Camel, yang terus berteriak saat dia belum juga tersadar dan masih berada di atas ranjang perawatannya.
Begitu pun dengan papi Arthur yang berdiri di sisi ranjang perawatan sang putri. Yang kini menepuk nepuk pipi Camel yang terus berteriak.
Camel pun langsung membuka ke dua bola matanya, lalu menatap sang Mami dan juga sang papi yang berdiri di sisi kiri ranjang perawatannya. Lalu Camel bergantian menatap ibu Rina sang mertua yang berdiri di sisi kanan ranjang yang di tidurinya.
Dan Camel pun segera beranjak dari tidurnya dengan ke dua bola matanya menyusuri ruangan di mana sekarang dirinya berada.
"Di mana suamiku? Katakan dia masih hidup," ujar Camel.
Tentu saja membuat mami Asha, papi Arthur dan juga ibu Rina langsung menatap ke arah Camel yang terlihat begitu bingung.
Tentu saja Camel bingung, saat baru saja dirinya mimpi buruk, tentang sang suami yang meninggal dunia.
"Aku harus menemui suamiku," ujar Camel dan ingin menggeser tubuhnya untuk turun, namun dirinya urungkan, saat satu tangannya merasa sakit, karena selang infus yang terpasang di tangannya tersebut tertarik.
__ADS_1
"Nak, kamu tetap di sini," ujar ibu Rina yang sekarang memegang lengan sang menantunya tersebut. "Suamimu baik baik saja, dan berkat keajaiban dari Tuhan, suamimu sudah sadar. Dan sekarang sedang di urus untuk segera di bawa ke ruang perawatan, saat kondisinya sudah tidak ada lagi yang perlu di kuatir kan," jelas ibu Rina.
Karena memang kondisi Santos sekarang sudah membaik, setelah Camel tidak sadarkan diri.
Tentu saja Camel langsung menatap ibu Rina, setelah mendengar apa yang baru saja di katakan nya.
"Aku ingin menemuinya sekarang juga Bu,"
"Tidak bisa, kamu harus tetap berada di sini, agar cucu papi baik baik saja," sambung papi Arthur
Membuat Camel kini mengalihkan tatapannya ke arah sang papi, sambil menautkan keningnya mendengar apa yang baru saja sang papi katakan.
"Cucu?"
"Iya sayang, cucu mami, papi dan juga cucu ibu Rina," Mami Asha menjawab pertanyaan sang putri yang di tunjukkan untuk papi Arthur.
"Terima kasih Mel. Akhirnya kamu bisa memberikan cucu untuk kita semua," ujar mami asal yang begitu bahagia saat mendengar jika sang putri sedang mengandung.
"Maksud mami apa?" tanya Camel yang masih bingung dengan apa yang baru saja sang mami katakan, saat nyawanya memang belum terkumpul, ketika hampir sehari semalam Camel tidak sadarkan diri di atas ranjang tersebut.
"Kamu sedang hamil Nak," jawab ibu Rina yang kini ikut duduk di pinggiran ranjang di mana Camel berada, dan satu tangannya membelai perut sang menantu.
Air mata kini meluncur bebas dari ke dua pelupuk mata Camel. Dan air mata tersebut adalah air mata kebahagiaan. Bagaimana dirinya tidak bahagia, saat sudah sangat lama dirinya dan juga sang suami menginginkan buah hati, akhirnya sekarang Tuhan telah memberikan buah hati padanya.
"Terima kasih ya Tuhan," ujar Camel yang sekarang mengelus perutnya yang masih rata. Dan langsung mendapat pelukan dari mami Asha dan juga ibu Rina.
Papi Arthur yang masih berdiri di sisi ranjang, merasakan kebahagiaan yang sang putri rasakan, lalu mengelus rambutnya dengan begitu lembut.
Camel yang ingin mendengar sendiri dari dokter kandungan, jika dirinya hamil. Meminta sang Papi untuk memanggil dokter kandungan yang berada di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Camel tidak hentinya mensyukuri anugrah Tuhan yang sudah di berikan ke pada dirinya, setelah dokter kandungan tersebut baru menjelaskan tentang kehamilannya.
Dan saat ini Camel meminta perawat untuk melepas selang infus yang masih menempel di satu tangannya, saat dirinya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, karena Camel ingin menemui sang suami yang tidak lagi berada di ruang ICU, melainkan sudah di pindah ke ruang perawatan.
Camel meminta sang papi menghentikan kursi roda yang di duduki nya, tepat di depan ruang perawatan Santos, pasalnya papi Arthur tidak mengijinkan Camel berjalan dari ruang perawatannya menuju ruang perawatan sang suami, meskipun jaraknya tidak jauh.
Kemudian Camel masuk ke ruang perawatan sang suami seorang diri, karena papi Arthur, mami Asha dan juga ibu Rina yang tadi berjalan bersama di belakang papi Arthur yang mendorong kursi roda yang di duduki Camel, tidak ingin menggangu Camel dan juga Santos.
Camel yang sudah berada di dalam ruang perawatan sang suami, langsung mengukir senyum. Saat melihat Santos yang sedang terbaring di ranjang perawatan yang sudah di setel setengah duduk.
Dan senyum itu hilang, dan sekarang di gantikan oleh tetesan air mata, saat Camel mengingat lagi apa yang terjadi pada sang suami beberapa hari lalu, yang membuat hidupnya serasa berhenti. Apa lagi Santos saat itu di nyatakan kritis dan juga koma.
Camel terus melangkahkan kakinya menuju ke arah sang suami yang sedang memejamkan mata, dengan kepala yang di balut dengan perban, dan selang infus yang menempel di salah satu tangannya.
Camel yang sudah mendekati di mana Santos berada, langsung menghapus air matanya. Lalu satu tangannya membelai wajah sang suami yang terlihat begitu pucat dengan begitu lembutnya.
Hingga pemilik wajah membuka ke dua matanya, karena istirahatnyw terusik dengan sentuhan tersebut.
Senyum manis Camel tunjukkan pada sang suami, yang sekarang sedang menatap wajahnya tanpa membalas senyum Camel.
"Sayang," ucap Camel dengan senyum yang tidak pudar dari ke dua sudut bibirnya. "Akhirnya kamu terbangun juga sayang, aku sangat merindukanmu,"
"Siapa kamu?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Santos. Tentu saja membuat senyum Camel kini memudar di gantian dengan kebingungan, ketika mendengar apa yang baru saja Santos tanyakan.
"Sayang. Jangan bercanda, aku istrimu sayang,"
"Istriku. Kapan aku menikah?" tanya Santos lagi.
Bersambung.............
__ADS_1