
"Ya ampun. Mami, Papi!" teriak Hazel yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan Santos.
Lalu Hazel dengan segera membalik tubuhnya saat melihat pemandangan yang seharusnya tidak dirinya lihat.
"Kak ada apa?" tanya Meri yang berada tepat di belakang Hazel.
Saat Meri dan ibu Rina, tadi pamit sebentar untuk pergi ke kantin rumah sakit.
Dan bertemu dengan Hazel tepat di depan ruang perawatan Santos, saat Meri dan juga ibu Rina ingin kembali dari kantin.
"Bukan apa-apa Mer," Hazel menutup ke dia mata Meri menggunakan telapak tangannya. "Lebih baik kita keluar dulu," ajak Hazel.
Dan ibu Rina yang berdiri di belakang Meri dan juga Hazel, langsung menarik tangan Meri.
Ketika ibu Rina melihat apa yang sedang di lakukan Santos dan juga Camel.
Tentu saja perlakukan itu membuat tingkat ke ingin tahuan Meri meningkatkan.
Kemudian Meri melepas tangan sang ibu yang menarik tangannya. Dan menyingkirkan tangan Hazel yang masih menutupi ke dua matanya.
Dan saat sudah bisa menyingkirkan tangan sang ibu dan juga Hazel. Meri mendongakkan kepalanya ingin tahu apa yang terjadi.
Lalu Meri menatap ke arah Hazel, setelah mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Kak ada apa sih?" tanya Meri penasaran.
Pasalnya saat mendongakkan kepalanya, dirinya melihat sang kakak dan juga Camel sudah memejamkan matanya di atas ranjang perawatan Santos.
Karena tadi Santos dan juga Camel langsung menghentikan kegiatannya, dan memejamkan matanya untuk pura pura tidur, saat mengetahui ada yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
Mendengar pertanyaan Meri, tentu saja membuat Hazel langsung membalik tubuhnya dan menatap ke arah ranjang perawatan sang papi.
"Syukurlah," ucap Hazel sambil menghembuskan nafasnya lega, karena tidak mendapati pemandangan yang pertama kali tadi dirinya lihat. "Mau ke mana?" tanya Hazel sambil mencekal tangan Meri yang melangkahkan kakinya ingin menuju ranjang perawatan sang kakak.
"Mau ke Kakak Santos,"
"Jangan. Papi sedang tidur,"
Kemudian Meri melepas tangan Hazel yang masih memegangi tangannya, lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang perawatan sang kakak.
"Dasar bocil meresahkan," batin Camel ketika mendengar apa yang di katakan oleh Meri. "Sayang, kenapa kamu tidak bilang jika adik kamu masih ada di rumah sakit," bisik Camel pada sang suami, tentu saja Camel masih terus memejamkan matanya.
"Maaf sayang, tidak sempat. Pikiran aku hanya tertuju pada sexynya tubuhmu," bisik balik Santos, tentu dengan berpura pura tidur.
"Ish sekarang kamu mesume ya sayang,"
"Kan kamu yang ngajarin aku sayang, dan membuat aku kecanduan,"
__ADS_1
"Awas ya, jika sudah berada di rumah. Aku hajar kamu sampai tidak bisa berdiri,"
Plak!
Meri memukul paha Camel, membuat pemilik paha yang terkejut langsung membuka matanya dan menatap ke arah Meri yang sudah berdiri di sisi ranjang di mana sekarang dirinya berada.
Begitu juga dengan Santos yang langsung membuka ke dua matanya, saat ke dua telinganya mendengar dengan jelas suara keplakan di paha sang istri.
"Ya ampun Meri. Apa yang kamu lakukan?" tanya Camel yang sekarang beranjak dari tiduran nya.
"Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan untuk melindungi Kakak Santos. Tega teganya Kakak Camel ingin menghajar Kakak Santos. Sebelum Kakak menghajar Kakak Santos tersayang, Kakak Camel hadapi aku dulu," ujar Meri yang sekarang sudah bertolak pinggang.
Saat tadi Meri mendengar apa yang Camel bisikan pada Santos.
Tentu saja Camel dan juga Santos, langsung menepuk jidatnya masing masing mendengar apa yang baru saja Meri katakan.
"Turun. Dan jangan dekat dekat dengan Kakak Santos. Tega teganya Kakak Camel ingin melukai Kakak Santos," ujar Meri sambil menarik tangan Camel untuk turun.
"Ya Tuhan. Karung mana karung," batin Camel dan langsung turun dari atas ranjang perawatan sang suami.
"Awas ya, Kakak Camel dekat dekat Kakak Santos lagi," Meri pun segera naik ke atas ranjang perawatan sang Kakak. "Tenang Kak, selama ada aku di sisi Kakak. Kakak Santos akan baik baik saja," ujar Meri sambil tersenyum ke arah Santos.
"Kakak yang tidak baik baik saja Meri!!!!"
__ADS_1
Bersambung.................................