My Wife SUGAR MOMMY

My Wife SUGAR MOMMY
Menyihir


__ADS_3

"Mami. Apa yang mami katakan!" sahut Camel setelah mendengar ucapan mami Asha.


Yang seolah oleh tidak menyukai apa yang baru saja Camel sampaikan.


"Kamu akan menikah dengan anak pembantu?! Yang benar saja Camel!" teriak mami Asha yang sekarang beranjak dari duduknya.


Saat sudah berdiri tegak mami Asha langsung bertolak pinggang sambil mengamati Santos dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Dan mami Asha paham benar, jika Santos masih sengatlah muda.


"Berapa umum kamu?" tanya mami Asha pada Santos.


"Untuk apa Mami bertanya umur padanya,"


"Diam kamu. Dan jangan bicara! Ini rumah mami bukan rumah kamu. Jadi yang berhak berbicara adalah mami, kamu paham!"


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Camel, lagi dan lagi sang Mami masih belum mengubah sikapnya.


"Bicara saja sepuas yang mami mau!" kesal Camel.


Lalu beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Santos dan juga ibu Rina.


"Lebih baik ibu panggil Meri dan kita tinggalkan rumah ini," pinta Camel, mengingat lagi, jika Meri ikut dengan ibu Rina di rumah tersebut.

__ADS_1


"Pergi sana, mami malu punya anak seperti kamu. Yang hanya bisa membuat malu orang tua. Kamu bukan orang rendahan yang harus menikah dengan orang rendahan seperti bocah ingusan seperti ini!"


"Mi, sudahlah," Papi Arthur yang sudah berdiri dari duduknya memegang bahunya untuk menghentikan ucapan sang istri.


Dan Camel yang mendengar apa yang baru saja mami Asha katakan, langsung membalik tubuhnya, dan mendekati ke arah nya.


"Jaga mulut Mami, bukan calon suami aku yang rendahan. Tapi mulut Mami yang rendahan. Kapan Mami akan menghargai seseorang yang derajatnya di bawah kita. Kapan?" seru Camel sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah sang mami. "Aku akui Santos memang umurnya masih muda. Tapi asal mami tahu , kedewasaan seseorang tidak di ukur dari umur. Camkan itu baik baik. Apa Mami lupa pria yang selalu Mami banggakan? Umur dia harusnya sudah matang, tapi apa perilaku dia seperti anak kemarin,"


Akhirnya Camel yang tidak tahan dengan ucapan sang Mami, karena seolah olah sudah menghina Santos. Menyindir sang Mami yang selalu membela Jack, dan terus menyatukan Jack dan Camel untuk bersama kembali.


"Dasar anak kurang ajar, apa kamu sedang menyindir Mami?"


"Baguslah, jika Mami tersindir,"


"Mi, hentikan!" perintah papa Arthur sambil menahan tangan sang istri yang ingin melayangkan pukulan untuk Camel.


"Terus saja papi membela anak tidak tahu diri ini! Dan membiarkan dia memilih besi berkarat di banding permata yang sudah jelas adanya. Apa kurangnya Jack coba, dia punya segalanya,"


"Tapi yang mau menjalani hidup anak kita Mi. Biarkan saja Camel dengan pilihannya,"


"Terus saja bela anakmu yang tidak tahu diri ini, mami sudah paham. Pasti anak pembantu itu sudah menyihir anak kita, agar dia bisa numpang hidup dengan Camel,"


"Asha!" seru papi Arthur memanggil nama sang istri.

__ADS_1


"Jangan berteriak," sahut mami Asha yang langsung melangkahkan kalinya meninggalkan ruang tamu.


"Pi,"


"Lakukan apa yang kamu inginkan Camel, kebahagiaan kamu. Kamu sendiri yang mencari. Dan jangan hiraukan perkataan mami kamu,"


"Terima kasih Pi," Camel dengan segera memeluk sang papi yang tidak pernah melarang apa pun yang di inginkan nya. "Untuk pernikahan kali ini, aku yakin dengan pilihan aku Pi," ujar Camel setelah melepas pelukannya.


"Boleh papi berkenalan dengan calon suami kamu?"


Tentu saja tanpa pikir panjang, Camel berjalan mendekati Santos dan menarik tangannya untuk mendekati papi Arthur.


Santos pun langsung mengulurkan tangan ke arah Papi Arthur, yang langsung menjabat tangannya.


"Aku Santos calon suami Camel, aku akan bertanggung jawab penuh atas putri Anda. Untuk segala hal, termasuk dengan materi. Anda tenang saja, aku akan menjaganya, seperti aku menjaga diriku sendiri," ucap Santos dengan pasti.


Mendengar ucapan Santos membuat Camel langsung mengukir senyum, merasa begitu terharu, dan Camel tidak menyangka ucapan tersebut terlontar dari mulut remaja berumur dua puluh tahun.


Senyum juga terukir dari bibir papi Arthur, lalu menepuk punggung Santos.


"Aku percaya padamu, dan aku titipkan Camel padamu,"


Bersambung......................

__ADS_1


__ADS_2