
"Mi, aku tidak asing lagi dengan jalanan yang kita lewati ini," ujar Hazel saat mengikuti sang mami masuk ke gang tepat di samping minimarket, menuju kontrakan Santos.
"Oh ya, apa kamu memiliki temen yang tinggal di sini?"
Namun Hazel tidak menjawab pertanyaan sang mami, tentu saja membuat Camel langsung menghentikan langkahnya, untuk menatap sang putri.
"Sayang, kenapa tidak menjawab pertanyaan mami. Mami tidak pernah melarang kamu berteman dengan siapa pun, kamu tahu itu kan?" tanya Camel.
Mengingat lagi jika dia tidak pernah melarang sang putri bergaul dengan siapa pun, meskipun keluarganya berasal dari golongan atas.
"Aku sering datang ke pemukiman ini, karena–" Hazel tidak jadi meneruskan ucapnya, takut sang mami marah jika dirinya sering datang ke pemukiman kumuh hanya karena seorang laki-laki.
Camel mengukir senyum melihat tingkah sang putri. "Ya ampun sayang, apa ada laki-laki yang kamu sukai tinggal di pemukiman kumuh ini. Jika iya, kenapa kamu tidak pernah cerita pada mami. Apa kamu pikir mami akan melarang? Tidak sayang,"
Mendengar apa yang baru saja sang mami katakan, Hazel yang sedari tadi tidak berani menatap wajah sang mami, kini beralih menatap wajahnya.
"Jadi, mami tidak akan pernah marah jika aku menyukai laki-laki yang berasal dari lingkungan kumuh ini?"
"Tentu saja tidak sayang, untuk apa mami harus marah padamu, jika laki-laki yang kamu sukai berasal dari lingkungan kumuh, mereka sama sama ciptaan Tuhan iya kan,"
"Benarkah mami tidak marah?" tanya Hazel lagi untuk memastikan.
"Ya ampun sayang, mami tidak akan pernah marah. Tenang saja. Mami malah jadi penasaran siapa laki-laki yang sudah mencuri hati anak mami ini," ujar Camel sambil mencubit hidung Hazel.
__ADS_1
"Dia kakak kelas aku Mi, dia sangat baik karena setiap hari mau mengajari pelajaran yang tidak aku pahami, pokoknya dia laki-laki terbaik di dunia yang pernah aku temui, dan aku jatuh cinta padanya," jelas Hazel tak lupa senyum menghiasi ke dua sudut bibirnya.
"Kenapa kamu tidak menceritakan pada mami sayang?"
Senyum yang tadi menghiasi ke dua sudut bibir Hazel kini memudar, tentu saja membuat Camel langsung menautkan keningnya melihat perubahan ekspresi wajah sang putri.
"Ada apa sayang?"
"Tapi aku dengar dia sudah menikah,"
"Menikah? Bukannya dia masih sekolah?"
"Dia baru saja lulus sekolah Mi, tapi aku yakin rumor jika dia sudah menikah itu hanya gosip belaka. Karena aku tahu persis, jika dia belum memiliki kekasih,"
"Aku akan merebut dia dari istrinya,"
"Ya ampun, mana bisa begitu sayang,"
"Bisalah, grandma bilang juga tidak apa apa mengambil yang seharusnya menjadi milikku,"
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Camel mendengar ucapan sang putri.
"Itu tidak baik sayang, karena hidup, mati dan jodoh sudah Tuhan tentukan. Jika kamu tidak berjodoh dengan dia berarti ada jodoh lain yang sudah Tuhan tentukan untukmu,"
__ADS_1
"Tidak bisa aku hanya ingin dengan dia,"
Jika sudah seperti ini tentu saja Camel tidak ingin meneruskan perbincangan dengan sang putri yang keras kepala.
"Mami jadi ingin tahu siapa laki-laki itu, apa mami boleh tahu siapa namanya?"
"Sa–"
"Minggir kalian, orang mau lewat kalian berdua ada di tengah jalan, kalian pikir ini jalan nenek moyang kalian!" seru seorang pria yang sedang mengendarai motor.
Tentu saja membuat Camel dan juga Hazel memiringkan tubuhnya di gang yang hanya muat satu motor tersebut, dan mempersilakan pengendara motor tersebut lewat.
"Sayang, lebih baik kita segera keluar dari gang ini, kebetulan rumah papi baru kamu tidak jauh dari sini," ajak Camel.
Hazel menatap sang mami saat Camel menggandeng tangannya menuju ke kontrakan Santos yang sudah sangat di kenalnya.
"Mi ini–"
"Meri," panggil Camel memotong perkataan sang putri, saat melihat Meri.
Tentu saja Meri segera menghampiri Camel. "Kakak," ucap Meri. Lalu menatap ke arah Hazel. "Kakak juga ada di sini?" tanya Meri yang sudah mengenal Hazel.
Tentu saja membuat Camel dan juga Hazel saling pandang, setelah mendengar Meri memanggil ke duanya kakak.
__ADS_1
Bersambung...........................