
Tentu saja Camel yang mendapat tendangan tiba tiba dari Siska, membuat dirinya yang tadi jongkok tepat di hadapan Siska, kini terduduk di lantai
Frans yang berdiri tidak jauh dari Camel, langsung membantu bosnya tersebut untuk beranjak dari tempatnya.
"Bos. Bos tidak apa apa?" tanya Frans untuk memastikan Camel baik baik saja.
"Kamu ambil tongkat kayu yang ada di sana," perintah Camel sambil menunjuk tongkat kayu yang berada di sudut ruangan di mama dirinya berada, tanpa menjawab apa yang baru saja Frans tanyakan pada dirinya.
"Bos, biar aku saja yang mengurus dia," ujar Frans tahu apa yang ingin bos nya lakukan dengan tongkat kayu di sudut ruangan tersebut.
"Frans. Cepat ambilkan!" seru Camel. Dan tatapan matanya terus menatap ke arah Siska dengan tatapan yang tidak suka.
"Bos, aku tidak ingin bos mengotori tangan bos. Biar aku saja yang melakukannya,"
"Frans!" seru Camel lagi.
Tentu saja sekarang Frans langsung mengambil tongkat kayu yang di inginkan oleh Camel.
Dan Camel yang sudah mengambil tongkat kayu yang baru saja di ambilkan oleh Frans, kini melangkahkan kakinya mendekati Siska yang juga sedang menatap Camel dengan tidak suka.
Siska mengayunkan kedua kakinya yang masih terikat, berniat untuk menendang kaki Camel. Namun belum juga menyentuh kaki Camel, ke dua kaki Siska di pukul dengan tongkat kayu yang berada di tangan Camel.
Suara erangan terdengar menggema ke seluruh ruangan tersebut saat Camel bukan hanya sekali memukul kaki Siska, melainkan berulang kali, saat emosi di tubuh Camel tidak bisa di kontrol.
Frans yang tidak ingin terjadi sesuai pada Siska dan merugikan bosnya, kini menghentikan tangan Camel yang sekarang sudah beralih memukul tangan dan juga wajah Siska, hingga Siska tidak berdaya dan terkapar di atas lantai sambil mengerang kesakitan.
"Bos, hentikan. Jangan sampai dia mati dan kita berurusan dengan pihak berwajib," ujar Frans yang kini melempar jauh tongkat kayu yang baru saja di ambil dari tangan Camel.
"Lebih baik dia mati, dari pada hidup hanya menjadi sampah!" seru Camel dan tatapan matanya terus tertuju ke arah Siska. "Berikan pistol milikmu Frans," pinta Camel yang mengetahui, jika asisten pribadi nya tersebut selalu menyembunyikan pistol di balik jas yang di gunakannya.
"Maaf Bos, kali ini aku tidak membawa pistol," bohong Frans, karena tidak ingin sang bos membunuh Siska dengan pistol miliknya. Dan tidak ingin bosnya tersebut terjerat hukum jika sampai membunuh Siska yang sudah tidak berdaya.
"Frans, aku tahu kamu sedang berbohong. Sekarang berikan pistol milikmu!"
"Maaf Bos tidak bisa,"
"Frans!" teriak Camel yang sekarang mengalihkan tatapannya ke arah Frans yang berdiri di sampingnya. "Apa kamu sudah bosan bekerja denganku?"
"Maaf Bos, tapi aku tidak ingin memberikan pistol ini,"
"Oh jadi kami sudah boβ"
"Sok jagoan," suara seseorang yang sangat Camel kenal menghentikan ucapannya.
__ADS_1
Kemudian Camel menoleh ke arah sumber suara, di mana Santos sang suami lah yang baru berucap.
Dan Santos kini melangkahkan kakinya mendekati sang istri sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah menghampiri sang istri, kini tatapan mata Santos tertuju ke arah Siska yang sedang tergeletak di atas lantai dengan tubuh dan wajah yang sudah babak belur. Dan sekarang Santos mengalihkan tatapannya ke arah Frans.
"Bawa dia dan serahkan ke pihak berwajib," perintah Santos, yang sudah mengetahui jika Siska sedang di cari oleh pihak berwajib karena sudah menabrak dirinya beberapa waktu lalu.
"Baik Bos," sambung Frans yang langsung mengikuti apa yang baru saja Santos katakan.
Santos pun kini beralih menatap sang istri sambil menggelengkan kepalanya.
"Ceritanya mau jadi jagoan begitu, apa mau jadi preman? Hebat sekali istriku ini," ucap Santos.
"Aku hanya inginβ"
"Apa pun alasan kamu melakukan ini, kamu tetep bersalah," sambung Santos memotong perkataan sang istri, karena Santos tahu Camel akan membela diri dengan apa yang baru saja dilakukannya. "Sekarang pulang," Santos meraih tangan Camel yang hanya pasrah di tarik tangannya untuk meninggalkan rumah kosong tersebut.
*
*
*
Camel tetap diam dan tidak menanggapi apa yang terus sang suami katakan padanya, saat ke duanya sudah berada di dalam mobil yang di kendarai sopir pribadi Camel.
"Sudah ceramahnya?" tanya Camel saat Santos sudah berhenti berbicara.
"Ingat apa yang baru saja suamimu katakan, buang jauh jauh tuh sifat dendam,"
"Iyβ" Camel tidak jadi meneruskan ucapannya, karena tiba tiba dirinya merasa kesakitan di area perutnya yang tadi terkena tendangan dari Siska meskipun tendangannya tidak kencang.
Tentu saja hal itu membuat Santos langsung begitu kuatir, lalu memeluk tubuh sang istri yang duduk tepat di sampingnya, dan reflek satu tangannya mengelus perut sang istri. kemudian Santos langsung menyuruh sang supir untuk menuju ke rumah sakit terdekat.
*
*
*
Sesampainya di rumah sakit, Santos terus berada di samping sang istri sambil menggenggam tangannya, saat Camel sedang di periksa oleh dokter kandungan, bukan hanya di periksa. Santos juga menyuruh dokter tersebut melakukan USG, saat Santos tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungan sang istri.
Saat Camel baru memberi tahu Santos, jika tadi dia sempat di tendang oleh Siska.
__ADS_1
"Dok, bagaimana dengan istri dan juga kandungannya?" tanya Santos yang masih terlihat begitu kuatir, meskipun Camel sudah tidak merasakan sakit lagi. Saat dokter tersebut baru saja selesai memeriksa Camel.
"Istri Tuan hanya mengalami kram di perut, karena tadi mengalami benturan. Dan kondisi ke tiga janin yang berada di dalam kandungan Nona sangat baik dan juga kuat,"
Mendengar apa yang baru saja dokter katakan, membuat Camel dan juga Santos langsung menatap ke arah dokter tersebut yang masih berdiri di sisi ranjang di mana Camel berada.
"Tiga?" tanya Santos.
"Iya Tuan. Karena bayi yang berada di kandungan Nona, kembar tiga," jelas dokter tersebut sambil mengukir senyum.
"Terima kasih Tuhan," ucap syukur Santos penuh dengan kebahagiaan setelah mendengar penjelasan dokter tersebut.
Dan Santos langsung menciumi setiap jengkal wajah Camel sang istri untuk mengekspresikan kebahagiaannya, tanpa peduli dengan dokter yang baru saja memeriksa Camel, yang kini langsung keluar dari ruangan tersebut tidak ingin menggangu kebahagiaan sepasang suami istri tersebut.
Bukan hanya Santos yang bahagia, Camel pun sangat bahagia karena ada tiga nyawa yang berada di rahimnya, hingga air mata kebahagiaan tidak bisa di tahan.
"Terima kasih sayang," ucap Santos setelah menghentikan aksinya. Lalu menghapus air mata sang istri. "Sayang kenapa menangis? Apa kamu tidak senang?"
"Tentu saja aku sangat senang, aku hanya masih tidak percaya. Tuhan akan menitipkan tiga nyawa sekaligus di rahimku," jawab Camel sambil mengukir senyum.
"Siapa dulu bibitnya sayang, papi Santos," sambung Santos membanggakan dirinya sendiri. Lalu Santos kini menciumi perut sang istri. "Papi akan menjadi papi kebanggaan kalian sayang," ucap Santos sambil terus menciumi perut sang istri.
Dan kini Santos menegakkan kepalanya untuk menetapkan Camel sang istri.
"Dan aku akan menjadi suami siaga yang selalu ada untuk kamu sayang," ucap Santos sambil membelai wajah sang istri. "Dan sebagai suami siaga, setiap hari aku akan menjenguk tiga malaikat kita ini," ucap Santos lagi tak lupa mengukir senyum dan satu tangannya mengelus perut Camel.
"Dasar mesum,"
"Tapi kamu suka kan?"
Belum juga Camel menjawab, Santos sudah terlebih dahulu menempelkan bibirnya di bibir sang istri, yang di sambut dengan senang oleh Camel yang balas mencium bibir sang suami
TAMAT
AKHIRNYA TAMAT SUDAH KISAH SANTOS DAN JUGA CAMEL. TERIMA KASIH UNTUK KALIAN YANG SETIA DENGAN MEMBACA KISAH MEREKA HINGGA AKHIR.
UNTUK EKSTRA PART, DI TUNGGU SAJA YA GAES. JIKA NOVEL INI DI PROMOSIKAN OLEH PIHAK NT, TENTU, AKU AKAN MEMBUAT EKSTRA PART UNTUK KALIAN.
JIKA TIDAK, YA SUDAHLAH. KALIAN MASIH BISA KOK INTIP SANTOS DAN JUGA CAMEL DI NOVEL MY SUGAR BABY, KARENA DI SANA MEREKA AKAN AKU MUNCULKAN.
JADI JANGAN LUPA MELIPIR KE NOVEL MY SUGAR BABY YA GAES.
PENTING!!!!!!!!!
__ADS_1
UNTUK PEMENANG GIVEAWAY NOVEL INI. AKAN AKU UMUMKAN DI NOVEL MY SUGAR BABY ESOK HARI YA GAES. JADI, STAY TUNE TERUS YA.
SALAM SAYANG DARIKU πππππ