
Jack yang sedari tadi hanya melihat ke tiganya dari kejauhan,sekarang mendekati ke tiganya.
"Selamat untuk pernikahan kalian," Jack mengulurkan tangannya ke arah Santos, yang langsung di jabat olehnya.
Dan Santos tidak bertanya tanya tentang siapa pria yang sedang menjabat tangannya, karena Camel sang istri tadi sempat memberi tahu jika di rumahnya masih ada papi kandung sang putri, yang Santos yakini pria yang sedang menjabat tangannya lah papi kandung Hazel mantan suami sang istri.
"Terima kasih," balas Santos sambil mengukir senyum.
"Perkenalkan aku Jack, papi dari Hazel,"
"Senang bertemu dengan anda," balas Santos yang langsung melepas jabatan tangannya.
"Apa kamu punya waktu. Jika ada, mari kita berbincang bincang,"
"Tidak, dia harus beristirahat," sahut Camel yang sudah melepas pelukan sang putri, lalu mendekati Santos dan memeluk lengannya, setelah mendengar apa yang baru saja Jack katakan.
Santos kini menoleh kearah sang istri sambil mengukir senyum. "Sayang, tidak apa apa, aku belum lelah, lagian tidak ada salahnya aku berbincang sebentar dengan papi Hazel," ujar Santos.
__ADS_1
Namun Camel tidak menghiraukan perkataan Santos, karena dirinya langsung menarik tangan Santos menjauh dari Jack menuju ke arah kamarnya.
Camel tahu siapa Jack yang pasti akan menghina sang suami, karena Camel tahu Jack tidak menyukai suami barunya tersebut.
Setelah kepergian Camel dan Santos yang sudah masuk ke dalam kamar.
Jack langsung mengukir senyum ke arah sang putri lalu mendekatinya, kemudian menepuk punggungnya.
"Apa kamu sudah siap, menjalankan rencana yang sudah kita rencanakan sayang?"
"Siap dong Pi, apa pun akan aku lakukan untuk mendapatkan laki-laki yang aku cintai," jawan Camel sambil menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.
"Sayang ini kamarmu juga mulai sekarang," ujar Camel saat sudah memasuki kamarnya yang berada di lantai dua rumah mewahnya.
Namun tidak mendapat tanggapan dari Santos, tentu saja membuat Camel yang masih memeluk lengan sang suami, kini melepas pelukannya lalu menoleh ke arahnya.
"Sayang ko kmu hanya diam saja, apa kamu tidak suka tinggal di rumah aku?"
__ADS_1
"Maaf sayang," Santos mengukir senyum sambil menatap sang istri. "Sepertinya, aku tidak bisa jika harus tinggal di rumah ini, dan satu atap dengan putri kami yang sudah remaja," ucap Santos yang tiba tiba mengubah pendiriannya, karena tadi dirinya sudah mengiyakan untuk tinggal di rumah sang istri.
Namun dirinya urungkan lagi, bukan karena Santos minder dengan kekayaan sang istri, namun lebih menjaga, agar dirinya tidak satu tempat tinggal dengan putri Camel.
Karena Santos tadi sempat melihat wajah Hazel, yang menurutnya perkataan yang terlontar dari bibirnya dan juga mimik wajahnya saat sedang memeluk sang istri tidaklah singkron.
Namun alasan utama Santos memutuskan untuk tidak ingin tinggal di rumah tersebut adalah, dirinya tidak ingin tinggal satu atap dengan putri sambungnya, yang sudah dewasa untuk menghindari hal yang tidak di inginkan, mengingat lagi Hazel menyukai dirinya, dan Santos tahu persis, putri sambungnya tersebut keras kepala. Dan merasa jika Hazel masih menyukainya.
Santos meraih ke dua tangan Camel lalu menggenggamnya dengan erat.
"Sayang, aku mohon, untuk keputusan aku satu ini, aku harap kamu tidak akan keberatan. Kita bisa tinggal di rumah itu bersama dengan ibu dan juga Meri, dan sesekali kita bisa menginap di rumah kamu ini,"
"Tapi tadi kamu sudah mengiyakan untuk tanggal di rumahku sayang, tapi kenapa sekarang kamu berubah pikiran, apa karena masih ada Jack di rumah ini? Tenang saja, besok aku akan mengusir dia. Karena dia bukan siapa-siapa lagi di rumah ini,"
"Bukan itu sayang,"
"Tapi jika aku tetap memaksa kamu untuk tinggal di sini bagaimana?"
__ADS_1
Bersambung...............