
"Bilang padanya, kakak mau senam pa–" Belum juga meneruskan ucapannya.
Mulut Santos sudah di bekap oleh sang istri. Yang langsung melotot ke arah Santos, sambil menggelengkan kepalanya.
"Sayang, mulut kamu ini lama lama tidak bisa di kontrol, ingat Meri masih kecil. Jangan kamu racuni otaknya dengan kata kata yang keluar dari mulut nan manis mu ini," ucap pelan Camel.
Karena lagi lagi Santos sang suami akhir akhir ini sering sekali keceplosan mengatakan hal yang seharusnya anak seumuran Meri tidak mendengarnya.
Kemudian Camel melepas tangannya yang masih membekap mulut sang suami.
"Maaf sayang, sepertinya mulut aku sudah terkontaminasi olehmu," balas Santos dengan volume suara yang tidak kalah pelannya dengan sang istri.
"Kok aku sih,"
"Kan kamu gurunya sayang, yang selalu mengajari sesuatu yang baru, apalagi soal yang enak anak, dan itu membuat aku ketagihan. Dan sekarang aku menginginkannya," ucap Santos lagi dengan pelan.
"Tapi itu siapa yang ingin bertemu kamu,"
"Tidak pe–"
Brag!
Suara tendangan dari luar pintu menghentikan ucapan Santos.
"Kakak ini benar benar bolot apa!" teriak Meri dari depan pintu.
__ADS_1
Membuat Santos mendessahh kesal, dan junior yang sudah berdiri tegak tapi bukan keadilan di basah sana, kini lunglai tidak berdaya.
"Iya, bawel. Kakak dengar,"
"Jika masih dengar kenapa hanya diam saja dari tadi!" teriak Meri lagi.
"Sudahlah Meri, nanti Papi dan juga Mami pasti keluar. Lebih baik kamu teruskan sarapan kamu. Biar aku yang menemui teman papi," ajak Hazel yang menghampiri Meri.
Brag!
Meri menendang pintu kamar Santos kembali sebelum meninggalkan nya.
Membuat Santos di dalam kamar langsung menggeleng kan kepalanya.
"Sudah sayang, lebih baik kamu pakai baju dulu. Masih banyak waktu untuk kita berdua. Aku janji nanti malam akan memuaskan kamu oke," ujar Camel sambil mengukir senyum.
Dan saat Santos sudah puas dengan bibir sang istri, Santos segera melepas tautan bibirnya, lalu mengusap bibir Camel.
"Sekarang sudah pintar ya," ujar Camel yang sekarang membantu sang suami mengenakan pakaian.
"Tentu, ada pawangnya di sini," Santos mencubit hidung sang istri dengan gemas.
Sementara itu Hazel menemui teman Santos yang tak lain dan tak bukan adalah Vano, yang juga Hazel kenal, mengingat lagi Vano juga kakak kelasnya dulu.
Hazel melempar senyum ke arah Vano saat sudah duduk di kursi di samping kursi yang di duduki Vano.
__ADS_1
"Pagi Zel, sekarang kamu berbeda ya. Tidak seperti dulu. Padahal dulu aku tidak pernah melihat senyum dari bibirmu itu," ujar Vano yang mengingat Hazel dulu. "Ternyata, setelah Santos menjadi papi kamu, banyak hal positif yang dia ajarkan untuk kamu ya,"
"Tentu, dan aku sangat bahagia memiliki papi seperti dia,"
"Bagaimana pe–" Vano tidak jadi meneruskan ucapannya. Saat dirinya sudah tahu, jika Hazel sudah menerima pernikahan sang mami bersama dengan Santos. Karena setahu Vano, dulu Hazel sangat tergila gila pada Santos.
"Kenapa tidak di teruskan,"
"Tidak, lupakan saja," sambung Vano lalu menyodorkan ponsel ke arah Hazel. "Apa aku boleh meminta nomor ponselmu?"
"Boleh," Hazel lalu mengambil ponsel Vano, dan memberikan nomor ponselnya.
"Terima kasih,"
Dan Hazel langsung mengangguk sambil tersenyum ke arah Vano.
"Nanti malam kamu ada acara tidak. Jika tidak, apa boleh aku mengajak kamu makan malam," ajak Vano yang memang sudah lama tertarik pada Hazel.
Namun Hazel tidak menanggapi ucapan Vano, dan sekarang dia beranjak dari duduknya saat sang mami dan juga Santos keluar dari rumah.
Kemudian Vano dan juga Santos menuju mobil milik Vano yang terparkir di depan rumah. Setelah Santos berpamitan pada sang istri dan juga Hazel sang putri.
"Tos," panggil Vano saat baru saja dirinya melajukan mobil yang di kendarai nya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu,"
Bersambung......................