
"Kamu jahat kak,"
Tidak ada lagi teriakan yang keluar dari bibir Hazel yang belum lama keluar dari bibirnya, saat Hazel baru saja masuk ke dalam kamarnya.
Ucapan yang keluar dari bibirnya sekarang terdengar begitu pilu bagi siapa pun orang yang mendengarkan.
Derai air mata tidak ada hentinya membanjiri ke dua pipi Hazel, yang sekarang duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di dipan tempat tidur.
Sakit, tentu saja Hazel merasakan sakit di hatinya.
Di mana baru pertama kali Hazel tertarik dan menyukai seorang pria, dan di saat itu juga dia harus mendapati kenyataan. Jika pria yang sangat di cintanya, dengan terus terang hanya menganggapnya sebagai adik dan tidak lebih dari pada itu.
Namun yang lebih menyakitkan bagi Hazel adalah, pria tersebut hanya mencintai sang mami.
Hazel terus menangis, tidak ada lagi ucapan yang keluar dari bibirnya, hingga Jimi yang sudah masuk ke dalam kamarnya, dan berjongkok tepat di depannya, Hazel pun tidak menyadarinya, karena Hazel menangis sambil menutup wajahnya dengan ke dua tangan.
"Untuk apa menangisi seseorang Hazel, Hazel. Seperti di dunia ini tidak ada laki-laki lain selain dia,"
Hazel yang baru saja menyadari keberadaan Jimi, langsung membuka ke dua tangannya yang masih menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Om, pergilah. Aku hanya ingin sendiri," ucap Hazel di sela sela tangisnya.
Namun tidak di hiraukan oleh Jimi, yang sekarang ikut duduk di samping Hazel lalu mengelus kepalanya.
"Tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan Zel, ada kalanya kita sudah yakin jika yang kita inginkan akan kita miliki, namun takdir berkehendak lain, karena yang kita inginkan menjadi milik orang lain, itulah namanya kehidupan. Karena Tuhan tahu betul apa yang terbaik untuk kita, dan Tuhan juga sudah menentukan jalan hidup kita, termasuk jalan hidup kamu,"
"Om, aku mohon. Pergilah!" perintah Hazel yang tidak ingin mendengar apa pun yang di katakan oleh Jimi.
"Memang sakit mengetahui orang yang kita cintai tidak mencintai kita melainkan mencintai orang lain, tapi itu lebih baik, dari pada kita masih mengharap sesuatu yang tidak akan pernah menjadi milik kita. Apa lagi kamu masih muda Zel, langkahmu masih panjang. Banyak laki-laki di luar sana yang akan mencintaimu, karena di cintai itu lebih membahagiakan, ketimbang mencintai. Jadi lupakan dia, biarkan dia bahagia dengan mami kamu,"
"Tapi kenapa harus mami yang dia cintai Om, kenapa?" tanya Hazel yang sudah bisa mengontrol tangisnya.
"Karena cinta tidak memandang, status, usia dan apa pun itu,"
Belum juga Hazel meneruskan ucapannya, Jimi sudah membawa Hazel ke dalam pelukannya.
"Biarkan mami kamu bahagia dengannya Zel,"
"Tapi aku tidak bisa tinggal bersama dengannya Om, antarkan aku pergi ke apartemen papi,"
__ADS_1
"Tidak sekarang, Om akan mengantar kamu, jika kamu sudah menerima pernikahan mami kamu yang baru, dan lupakan cinta kamu pada papi baru kamu itu,"
"Aku akan mencobanya Om," akhirnya ucapan itu yang keluar dari bibir Hazel.
Membuat Jimi sekarang melepas pelukannya, lalu menghapus air mata Hazel. "Anak pintar."
Camel membuka ke dua bola matanya, saat jam dinding di kamar tempatnya semalam tidur sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Dan Camel yang masih mengingat betul jika semalam tidur sambil memeluk Santos, langsung menoleh ke sisi kanan di mana Santos semalam tidur.
Namun Camel tidak mendapati sang suami berada di atas tempat tidur.
"Sayang," panggil Camel setelah beranjak dari tidurnya, lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya sebelum turun dari tempat tidur.
Kemudian Camel, melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi yang ada di kamar tersebut untuk mencari keberadaan sang suami, namun hasilnya nihil.
"Sayang, kamu di mana?"
Bersambung...............
__ADS_1
Bisa tebak di mana Santos?
Jualan cilok thor 🤪🤪🤪🤪🤪🤪