
Suara deheman bergantian dari arah pintu kamar Hazel, tentu saja membuat pemilik kamar yang masih memeluk Santos mengalihkan tatapannya ke arah pintu, dan langsung melepas pelukannya, saat tahu siapa yang sudah berada di dalam kamarnya.
Begitu pun dengan Santos yang beranjak dari duduknya, sambil menoleh ke arah pintu.
Santos yang juga mengenal siapa yang sudah berada di dalam kamar Hazel, menaruh nampan berisi sarapan untuk Hazel yang sedari tadi berada di tangannya ke atas meja nakas.
Kemudian Santos kini menoleh ke arah Hazel.
"Nanti kita bicara lagi, sekarang aku keluar dulu. Jangan lupa, habiskan sarapannya, aku tidak ingin putriku sakit," ucap Santos dan setelahnya mengelus kepala Hazel.
"Cie, cie sepertinya kedatangan kita mengganggu kesenangan seseorang iya tidak Ca," ujar Ana sambil menyenggol lengan Aca yang berdiri tepat di sampingnya.
"Iya nih, apa kita pulang saja ya," sambung Aca sambil menahan senyum.
"Tidak perlu, aku akan keluar," ucap Santos yang kini sudah berjalan menuju ke arah pintu kamar Hazel, di mana ke dua sahabat Hazel, Ana dan juga Aca berada. "Oh iya kenapa kalian tidak sekolah?"
"Kakak Santos ingin tahu, apa ingin tahu banget?" tanya Aca yang memang sudah mengenal Santos.
"Lupakan saja pertanyaan aku," ujar Santos yang tidak ingin menanggapi pertanyaan Aca. "Ke dua orang tua kalian menyekolahkan kalian, agar kalian pandai dan bisa di banggakan oleh ke dua orang tua kalian, bayangkan saja, jika orang tua kalian mengetahui anaknya selalu bolos sekolah. Mereka akan kecewa pada kalian," Nasihat Santos yang tahu persis jika ke dua sahabat Hazel sering bolos sekolah, begitu pun dengan Hazel. Sebelum Hazel mengenal dirinya.
Mendengar apa yang baru saja santos katakan membuat Aca dan juga Ana langsung menutup ke dua telinganya.
"Tidak dengar,"
"Tidak dengar," ujar Aca dan juga Ana bersamaan, lalu meninggalkan Santos dan berjalan menuju ke arah Hazel yang masih berada di atas tempat tidurnya.
Santos langsung menggelengkan kepalanya, lalu meninggalkan kamar Hazel tanpa mengatakan apa pun lagi.
Sementara itu Aca dan juga Ana langsung baik ke atas tempat tidur Hazel.
"Cie akhirnya bisa mendapatkan kang cilok nih ye, ceritain dong kenapa kang cilok itu bisa kamu dapatkan," ujar Aca sambil menyenggol bahu Hazel, saat Aca duduk tepat di sampingnya.
"Iya kasih tahu kita bagaimana kamu bisa menaklukan kang cilok itu, dan kenapa kamu tidak memberi tahu kami," sambung Ana yang juga penasaran kenapa Santos berada di kamar Hazel.
Namun tidak mendapat tanggapan dari Hazel yang sekarang mengambil gelas berisi air putih yang ada di meja nakas tepat di samping tempat tidurnya.
Aca dan juga Ana yang tidak mendapat tanggapan dari Hazel, kini menatap intens wajah sahabatnya tersebut, saat Hazel sedang meminum air putih yang baru saja di ambilnya.
"Ets nanti dulu," Aca meraih dagu Hazel setelah menaruh gelas ketempat semula, agar dirinya bisa menatap dengan jelas wajah Hazel. "Kenapa matamu sembab? Apa kamu habis menangis,"
"Jangan jangan kamu menangis karena kang cilok itu sudah mengambil keperawanan mu? Tapi untuk apa kamu menangis, itu kan yang kamu inginkan," sambung Ana.
"Ya sakit lah, jika pertama kali melakukannya, dulu kamu sakit tidak, sakit kan?" tanya Aca pada Ana.
"Sakit sih, tapi kan lama lama enak, lebih enak lagi setelahnya di lempar uang segepok," jawab Ana sambil tersenyum.
"Dasar simpanan sugar daddy,"
"Apa bedanya dengan kamu," sambung Ana.
"Sudah jangan di bahasa, kita lebih baik menginterogasi Hazel, kenapa dia tidak cerita pada kita sudah mendapatkan kang cilok itu," ucap Aca dan sekarang menoleh ke arah Hazel kembali. "Apa kamu tidak ingin bercerita pada kita, kenapa kamu bisa membawa kang cilok itu ke rumah kamu, dan ke kamar ini?"
"Dia papi baruku,"
"Papi baru? Berarti suami mami kamu?" tanya Aca penasaran.
"Iya,"
"Apa?!"
"Apa!"
__ADS_1
Aca dan juga Ana sangat terkejut dengan pernyataan Hazel, karena ke duanya belum mengetahui jika mami sang sahabat sudah menikah lagi.
*
*
*
"Baiklah, sekarang aku tugaskan kamu untuk mencari tempat di mana dia tinggal,"
Bersambung..............
Gaes jangan skip ya, ada rekomendasi bacaan keren di bawah ini, yuk di baca dulu.
Judul: Dikira Satpam Ternyata Sultan
Penulis: Rini Sya
Cuplikan bab 12
"Elu!" Nadin menatap kesal.
Rasyid dan beberapa orang yang ada di sana, menatap penuh tanya.
"Ngapain elu di mari?" tanya Nadin tanpa menyapa tamu yang lain terlebih dahulu.
"Aku di sini diundang. Lah kamu... Ngapain juga kamu di mari? Ngerusak pemandangan aja!" balas Rasyid tak mau kalah.
"Enak aja! Ini rumah gue lah! Elu yang ngapain di mari?" balas Nona barbar itu.
"Ohhhh, jadi ini rumah kamu. Kaya juga kamu ya. Pantesan barbar!" celetuk Rasyid
"Ya, aku kaya. Kenapa? Situ iri?" Nadin semakin berani.
"Pemabuk elu bilang, elu yang nggak bisa nyetir. Kenapa jadi gue yang salah?" Nadin enggan mengalah.
"Oh ya, jadi kamera yang ada di mobil ku itu yang salah, iya? Dasar!"
"Gue nggak mau tahu, ya. Pergi dari sini. Bikin badmood aja!"
"Maaf Nona, tanpa kamu suruh, aku pun akan dengan senang hati pergi dari sini. Permisi!" jawab Rasyid seraya melangkah meninggalkan rumah Nadin.
Namun, sebelum pria itu melangkah lebih jauh, Laras memanggilnya terlebih dahulu.
"Rasyid! Tunggu!"
"Apaan sih nek? Ogah aku nikah sama gadis barbar nggak tahu diri ini!" balas Rasyid kesal.
"Gue juga nggak mau nikah sama satpam bodoh kek elu!" serang Nadin.
"Kamu pikir aku mau, hiiii.... bisa pecah gendang telingaku tiap hari dengerin macan betina meraung!" balas Rasyid.
"Apa? Macan betina? Elu bilang gue macan betina?"..
" Iya, kamu macan betina? Meraung nggak ada aturan!"
Tak ayal, telinga Nadin pun panas, emosinya meledak sempurna, mata cantik itu menatap tajam, lalu ia pun membalas, "Dasar jerapah. Lihat kakimu panjang seperti jerapah! Jerapah menyebalkan!"
"Jerapah? Biarin aja aku jerapah. Setidaknya aku tampan. Lah kamu, pendek jelek, tukang marah nggak jelas. Apa bagusnya kamu, ha?"
"Tampan konon? Tampan dari mana? Dari Hongkong?" balas Nadin.
__ADS_1
"Kamu.... " Rasyid masih ingin membalas, namun sang nenek memukul kesal kepalanya.
"Aduh, Nek!"
"Diam kau!" pinta wanita itu.
"Rasain, hahahhaha....!
" Kamu!" Rasyid melotot kesal.
Pusing dengan pertengkaran dua anak manusia itu, akhirnya Zarin pun berteriak marah, "Diiiaaammmmm! Duduk kalian!" perintah wanita tua itu.
Melihat kemarahan yang tersirat di mata wanita itu, seketika, Rasyid dan Nadin pun diam.
"Duduk kalian!" pinta Zarin, masih dengan tatapan ingin menghajar mereka berdua.
Pelan namun pasti, Nadin pun duduk bersebrangan dengan pria itu. Namun, kilatan genderang peran masih terlihat jelas dari tatapan mata mereka.
Zarin menghela napas dalam-dalam. Tak menyangka pertemuan pertama mereka memberikan kesan yang sangat buruk.
Tak menutup kemungkinan, pernikahan yang mereka rencanakan, pasti bakalan bubar.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Zarin, membuka sidang antara Nadin dn Rasyid.
"Nggak!" jawab keduanya, serempak.
"Benarkah? Kalian bisa Seheboh itu, tapi bilang tidak kenal. Bukankah ini bisa dikategorikan penipuan?" pancing Zarin.
"Dia pria bodoh itu, Oma. Pria yang nggak bisa nyetir. Orang yang bikin mobil Nadin lecet-lecet," jawab gadis itu.
"Bukan saya yang nggak bisa nyetir, Nyonya. Tapi gadis barbar ini yang nggak fokus bawa mobilnya. Dia mabok waktu itu, Nyonya," jawab Rasyid tak mau kalah.
"Aku nggak mabok, jangan fitnah ya!"
"Fitnah dari mana? Mau ku putar video yang kemarin?" tantang Rasyid.
"Kamu!" Nadin hendak melempar Rasyid dengan bantal. Namun Zarin segera melotot ke arahnya.
"Apa benar kamu sedang mabok waktu itu?" tanya Zarin, serius.
"Tidak Oma, Nadin hanya minum sedikit." Nadin melemahkan suaranya.
"Fix, di sini, berarti kamu yang salah!" putus Zarin.
Rasyid menatap dengan senyum senang.
"Nggak Oma, Nadin nggak salah," jawab Nadin, masih berusaha membela diri.
"Oke... aku nggak mau tahu dengan masalah yang terjadi antara kalian. Karena itu adalah maslah kalian. Tujuan pertemuan ini adalah membahas perihal pernikahan kalian. Bagaimana? Kalian siap?" tanya Zarin langsung pada pokok pembahasan yang seharusnya.
"Nadin ogah!" jawab gadis ayu itu.
"Oke, berarti kamu pilih konsekuensinya. Oke, nggak pa-pa!" jawab Zarin, terlihat lelah.
Rasyid diam. Sebab jiwanya dilema.
"Kamu Rasyid, bagaimana denganmu? Apakah masih mau lanjut? atau ...."
Rasyid nasih belum mengeluarkan suaranya. Hatinya sungguh bimbang. Pria tampan ini terlihat meremas jari-jarinya.
Ingatannya tentang pengalaman yang pernah ditinggalkan di pelaminan seorang diri, bergulat penuh amarah di pikirannya. Ia takut, jika menyetujui pernikahan ini, tak menutup kemungkinan bahwa Nadin pasti akan meninggalkannya seperti, dia. Dia ... wanita yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati. Namun tega menghianati dan meninggalkannya demi seseorang yang dinilai mapan oleh keluarganya.
__ADS_1
Ingin tahu kelanjutannya cus ke lapak author Rini Sya dengan cover di bawah ini ya gaes.