
Satu bulan berlalu, Santos benar benar sudah sembuh total setelah mengalami kecelakaan, dan Santos pun sudah melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Dan Camel yang sedang mengandung, tidak merasakan ngidam seperti wanita hamil pada umumnya dan kandungannya begitu kuat. Namun, tetap saja Santos sang suami tidak mengijinkan Camel melakukan aktivitas, dan sudah selama sebulan Camel bekerja dari rumah. Ketika Santos juga tidak mengijinkan sang istri pergi ke kantor.
"Ingat tidak boleh pergi ke mana pun," ucap Santos pada sang istri, saat dirinya ingin pergi meninjau kafe miliknya. Saat Santos sekarang juga melebarkan sayap dengan membuka sebuah kafe kekinian yang menjual berbagai menu masakan lokal yang di kemas dengan sentuhan modern, dan itu membuat kafe miliknya tidak kalah ramainya dengan usahanya yang selama ini di tekuni.
"Meskipun pergi ke rumah ibu?"
"Iya dong sayang,"
"Tapi rumah ibu dekat sayang," sambung Camel mengingat lagi, jika sang suami belum lama membelikan ibu Rina rumah yang lebih besar, dari rumah yang di tempati sebelumnya. Dan rumah tersebut tidak jauh dari rumah Camel.
Santos yang berdiri tepat di hadapan Camel, kini memegang dagunya agar dirinya bisa menatap lekat wajah sang istri yang kecantikannya tidak pernah pudar.
"Aku sudah menyuruh ibu untuk datang ke sini dan menemani kamu saat aku tidak berada di rumah. Oke sayang,"
"Tidak oke, aku ingin pergi ke salon hari ini,"
"Oke,"
"Berarti kamu mengijinkan aku pergi ke salon?" tanya Camel sambil mengukir senyum.
"Tidak, aku akan memanggil orang salon ke rumah," jawab Santos dan tangan yang tadi di gunakan untuk memegang dagu sang istri, kini dirinya gunakan untuk mengelus perut Camel yang sudah membuncit, padahal usia kandungan Camel baru akan memasuki bulan ke empat. "Aku tidak ingin kamu kelelahan karena ada calon kesebelasan di sini,"
"Jangan asal bicara. Kesebelasan, kamu pikir aku kucing apa. Kucing saja, juga tidak ada yang melahirkan sampai sebelas," sambung Camel dan menyingkirkan tangan sang suami yang sedang mengelus perutnya.
Dan Camel yang merasa kesal dengan sang suami, karena tidak pernah di ijinkan keluar rumah dengan Santos, berniat untuk meninggalkan sang suami.
Namun, Santos langsung menghentikan langkah Camel dengan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Marah nih ye," ledek Santos sambil mencium ceruk leher Camel.
__ADS_1
"Tentu, sejak aku hamil kamu terlalu posesif tahu,"
"Itu demi kesehatan kamu dan juga anak kita sayang,"
"Tapi aku ingin menggerakkan tubuhku dengan keluar rumah sayang,"
"Untuk apa harus keluar rumah, jika kamu ingin menggerakkan tubuhmu. Di atas ranjang pun bisa. Dan sekarang pun aku bersedia menggerakkan tubuhku bersama dengan kamu di atas ranjang sayang. Sekalian memberi nutrisi untuk anak kita," ujar Santos di sela sela aktivitasnya menciumi ceruk leher Camel.
"Dasar mesum!" seru Camel yang langsung melepas pelukan sang suami dan keluar dari kamar, tentu saja langsung diikuti oleh Santos, dengan senyum yang tidak pernah pudar dari kedua sudut bibirnya, saat ke dua bola matanya menatap tubuh sang istri dari belakang yang terlihat begitu sexy bagi Santos.
Camel kembali ke dalam kamar untuk mengerjakan pekerjaannya, saat sudah selesai menyantap sarapannya, dan Santos sudah pergi beraktivitas.
Baru saja Camel masuk ke dalam kamar, sudah mendapati ponsel miliknya yang berada di atas meja nakas, di samping tempat tidurnya berdering. Dan dengan segera Camel mendekati meja nakas untuk mengangkat sambungan ponselnya.
"Baik aku segera datang, dan kirim alamat di mana kamu berada saat ini," ucap Camel sebelum menutup sambungan ponselnya.
*
*
*
Camel turun dari mobil yang di kendarai supirnya tepat di depan rumah kosong tujuannya.
Dan Camel pun segera masuk ke dalam rumah kosong tersebut, dimana Frans sang asisten pribadinya sudah berada di dalam rumah kosong tersebut.
Camel menuju salah satu ruangan yang ada di dalam rumah kosong tersebut, mengikuti pesan yang Frans kirimkan pada Camel.
Senyum sinis tersungging dari sebelah sudut bibit Camel, saat sudah memasuki ruangan tujuannya. Ketika Camel melihat seorang wanita yang sangat dirinya kenal, sedang duduk dia atas kursi dengan kedua kakinya dan juga kedua tangannya terikat, bukan hanya itu saja, karena mulut wanita tersebut juga di sumpal dengan menggunakan kain.
"Bos, akhirnya aku bisa menemukan dia dalam persembunyiannya," ujar Frans asisten pribadi Camel. Yang kini sudah menghampiri Camel.
__ADS_1
"Bagus Frans. Sekarang buka sumpalan kain yang ada di mulutnya," Perintah Camel. Tentu saja Frans segera mengikuti apa yang Camel perintahkan pada dirinya.
Camel mendekati wanita tersebut yang masih berada di tempatnya dengan tubuh yang sudah tidak berdaya, setelah Frans membuka sumpalan kain di mulut wanita tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Siska.
Dan akhirnya Frans bisa menemukan keberadaan Siska, yang selama ini bersembunyi dari kejaran polisi setelah menabrak Santos.
Karena yang menabrak Santos di hari itu adalah Siska.
Plak! Plak!
Dua kali tamparan kencang mendarat di ke dua pipi Siska yang di layangkan oleh Camel yang sudah mendekati Siska yang tidak bisa berbuat apa pun karena tangan dan juga kakinya masih terikat.
Bugh!
Tendangan kencang tepat mendarat di perut Siska, yang di lakukan oleh Camel, hingga pemilik perut mengerang kesakitan.
"Sakit itu belum seberapa dengan sakit yang suamiku rasakan. Dasar wanita tidak tahu diri!" seru Camel tepat di hadapan Siska.
Lalu sekarang Camel menoyor kepala Siska dengan kencang, hingga Siska terjatuh dari bangku.
"Ah!" teriak Siska saat Camel kali ini menginjak kaki Siska.
"Ini baru permulaan jalaang!" teriak Camel dan menginjak kaki Siska kembali, dan satu tangannya menarik rambut Siska dengan kencang.
Ini yang memang Camel inginkan, dengan menyuruh Frans mencari Siska. Karena Camel ingin menyiksa Siska terlebih dahulu sebelum polisi menjebloskan ke dalam penjara.
Tentu saja tanpa sepengetahuan Santos sang suami, yang pasti akan melarang apa yang sedang Camel lakukan pada Siska saat ini.
"A– aku, mo–Mohon. Maaf kan aku," ucap Siska yang yang benar benar sudah tidak berdaya, saat Camel terus saja menghajar Siska dengan membabi buta.
"Cih," Camel yang begitu sarkas, kini meludah tepat mengenai wajah Siska. "Maaf? Setelah apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak malu mengatakan hal itu. Aku sudah pernah membebaskan kamu dari dalam penjara, tapi apa yang kamu lakukan. Dasar jalaang!" seru Camel sambil menarik rambut Siska lagi.
__ADS_1
Dan kini Siska yang benar benar tidak terima dengan perlakuan Camel, menendang tubuh Camel yang sedang berjongkok di hadapannya, meskipun kaki Siska masih terikat.
Bersambung...........................