
"Kok aku,"
"Kan kamu sendiri yang menarik tangan aku sampai sini," kesal Parman sambil menyingkirkan tangan Parmin yang baru saja menarik tangannya ingin menuju ruang kerja Camel.
"Ish aku takut terjadi sesuatu pada bos Camel, ini sudah jam berapa. Dari tadi dia belum keluar juga dari ruang kerjanya," sambung Parmin.
"Ya elah Min, bos kita bersama dengan suaminya di dalam, apa yang kamu takutkan, sudahlah kita kembali ke pos saja,"
"Jelas takut lah, bagaimana jika Bos di mutilasi oleh suaminya, iya kan,"
"Dasar bocah," Parman menoyor kepala Parmin satu rekan kerjanya, saat ke duanya menjadi security di perusahaan Camel tersebut. "Paling bos kita sedang kikuk kikuk, sudahlah kita kembali ke pos," ajak Parman sambil menarik tangan Parmin.
Namun Parmin menolak ajakan Parman, dan melepas tangan rekan kerjanya tersebut yang menarik tangannya.
"Apa lagi Min, Min?" tanya Parman.
"Kikuk kikuk apa?"
"Oh walah bocil sok polos, kemarin saja aku melihat kamu sedang nonton kakek Sugiono. Dasar," Parman kembali menoyor kepala Parmin yang usianya masih sangat muda di banding usianya.
"Oh ya itu," Parmin mengingat lagi apa yang baru saja rekan kerjanya katakan. "Tidak mungkin, tadi suami bos yang berondong itu datang jam lima, ini sudah jam delapan. Masa main lama amat, apa tidak encok tuh pinggang,"
"Suami bos kan masih berondong tentu kuat,"
"Ish jadi pengin kawin,"
"Kerja dulu yang benar, cari duit yang banyak. Buat modal nikah,"
__ADS_1
"Sepertinya aku harus beralih profesi menjadi tukang cilok, biar bisa dapat istri tajir seperti Bos Camel," ujar Parmin karena semua karyawan Camel sudah mengetahui siapa Santos, karena Camel sang bos tidak pernah malu mengenalkan sang suami pada siapa pun termasuk kepada semua karyawannya.
"Ngimpi, vermak dulu tuh muka," dan lagi lagi Parman menoyor kepala rekan kerjanya tersebut.
*
*
*
Tepat pukul sembilan malam Camel dan juga Santos tiba di rumah ibu Rina, untuk makan malam bersama.
Karena tadi Camel menerima pesan dari sang putri, yang sedang berada di rumah ibu Rina untuk makan malam bersama.
Dan itu yang sering Hazel dan Camel lakukan di setiap akhir pekan, seperti malam ini.
Mengingat lagi setelah Hazel menerima pernikahan sang Mami, dia sering datang ke rumah ibu Rina bersama dengan sang Mami.
"Telat. Makanan sudah habis," ujar Meri saat melihat Santos masuk ke dalam rumah dan menuju meja makan sambil menggandeng tangan Camel.
"Maaf kakak terlambat,"
"Iya, tidak apa apa Nak, makanannya juga masih banyak," sambung ibu Rina sambil tersenyum ke arah Santos dan juga Camel, yang sekarang duduk di salah satu kursi makan tepat di samping sang suami.
"Maafkan kami ya Bu, sayang dan adikku Meri," ujar Camel sambil tersenyum ke arah ibu Rina, Hazel sang putri terakhir pada Meri, yang sedang memicingkan matanya ke arah Camel.
Kemudian Meri beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Camel sang kakak ipar.
__ADS_1
"Ada apa Mer?" tanya Camel penasaran saat Meri sudah berdiri di sampingnya dan masih memicingkan matanya ke arah Camel.
"Bentar Kak," ucap Meri sambil menyingkirkan rambut Camel ke belakang lalu menurunkan kerah kemeja Camel. "Ya ampun Kak, apa yang terjadi pada Kakak, hewan apa yang sudah melukai leher kakak," ucap Meri lagi saat melihat leher Camel penuh dengan tanda merah keunguan.
Ibu Rina dan juga Hazel yang tahu tanda apa itu langsung menahan senyum. Berbeda dengan Santos yang langsung menepuk jidatnya sendiri mendengar apa yang baru saja di tanyakan oleh sang adik.
"Tadi di gigit semut," Sambung Santos.
"Ish mana ada di gigit semut seperti ini, semut macam apa dia,"
"Semut kepala hitam," sambung Hazel yang beranjak dari duduknya dan menghampiri Meri. "Yuk lebih baik kita main game," ajak Hazel.
"Nanti Kak, aku ingin tahu semut model apa yang sudah menggigit Kakak Camel,"
"Nanti aku kasih tahu," Hazel langsung menarik tangan Meri untuk meninggalkan meja makan.
Begitu pun dengan ibu Rina yang langsung meninggalkan meja makan tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Ini gara gara kamu sayang," ujar Camel setelah kepergian ibu Rina.
"Habisnya enak," sambung Santos sambil mengukir senyum ke arah sang istri.
*
*
*
__ADS_1
"Bagaimana apa kamu sudah siapa?"
Bersambung.......................