My Wife SUGAR MOMMY

My Wife SUGAR MOMMY
Model


__ADS_3

"Lupakan, kakak salah bicara, tadi kakak hanya pergi ke rumah teman kakak," bohong Santos, karena telah teledor mengucapkan apa yang seharusnya tidak di ucapkan.


"Ish kirain benar, aku juga ingin naik kuda kak,"


"Kapan kapan kita pergi ke taman hiburan, di sana nanti kamu bisa naik delman,"


"Benar ya kak, awas kalau bohong,"


"Iya adikku yang cantik, oh ya kamu sudah makan apa belum? Ini kakak beli martabak untuk kamu dan ibu," Santos menyodorkan bungkusan plastik ke arah Meri.


Namun Meri tidak mengambilnya, tentu saja membuat Santos langsung mengerutkan keningnya, karena makanan yang di bawanya sekarang adalah salah satu makanan yang selalu Meri inginkan.


"Kenapa tidak di ambil?" tanya Santos.


"Meri dan ibu sudah makan Tos," sambung ibu Rina yang berjalan menghampiri nya.


"Sudah makan?"


"Iya, kebetulan tadi di lemari pendingin banyak sekali makanan, jadi ibu masak sebagian," jelas ibu Rina.


Karena memang Camel sudah memenuhi dapur yang ada di rumah tersebut dengan berbagai macam bahan pokok dan semuanya lengkap.


"Sepertinya istri kamu yang menyiapkan bahan makanan di dapur. Ibu jadi tidak enak,"


"Tidak apa Bu, aku akan mengganti apa yang sudah istriku sediakan untuk ibu,"

__ADS_1


"Kamu ingin mengganti dengan apa?"


"Aku sendang memikirkannya Bu," jawab Santos. "Apa masih ada makanan yang tersisa Bu, aku sangat lapar,"


"Banyak, ibu sengaja memasak lebih untuk kamu dan juga Camel. Eh nanti dulu, istri kamu ke mana?" tanya ibu Rina yang baru menyadari jika Santos tidak datang bersama dengan Camel.


"Dia pulang dulu ke rumahnya Bu," jawab Santos, sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan yang terlihat dari ruang tamu.


Ibu Rina menemani Santos yang sedang makan malam dengan lahapnya.


Bagaimana Santos tidak lahap menyantap makanan yang ada di hadapannya, mengingat lagi jika dirinya belum lama menghabiskan tenaga untuk mencapai kenikmatan.


"Bagaimana dengan kuliah kamu, apa kamu akan melanjutkannya?" tanya ibu Rina saat Santos sudah selesai menyantap makanan yang ada di hadapannya.


"Tentu Bu, pendidikan nomor satu untukku,"


"Aku tahu Bu, aku akan tetap berjualan cilok seperti biasa, mengingat lagi aku masuk kuliah hanya di akhir pekan saja,"


"Apa cukup hanya dengan berjualan cilok?" tanya ibu Rina yang tidak yakin dengan berjualan akan mampu menghidupi Camel.


"Sepertinya tidak Bu, aku akan menghubungi Vano, dan menerima ajakan dia tempo hari,"


"Tapi pekerjaan itu–"


"Bu, percaya padaku. Aku akan melakukan pekerjaan itu dengan profesional, dan ibu jangan pernah kuatir dan berpikir negatif dengan pekerjaan yang Vano tawarkan untukku," jelas Santos sambil menggenggam tangan sang ibu yang terlihat cemas dengan pekerjaan yang pernah Vano teman Santos tawarkan pada sang putra.

__ADS_1


Bagaimana ibu Rina tidak cemas, jika Santos di tawari menjadi seorang model, yang menurut ibu Rina pekerjaan itu dekat dengan dunia bebas.


"Baiklah ibu akan mendukung kamu,"


"Jika ibu mendukung aku, kenapa ibu tidak tersenyum,"


Ibu Rina pun langsung mengukir senyum meskipun dengan terpaksa, karena entah mengapa dirinya begitu berat jika Santos harus bekerja sebagai model.


"Terima kasih Bu," ujar Santos yang akhirnya mendapat dukungan dari sang ibu.


Karena dari dulu sang ibu tidak mengizinkan Santos terjun ke dunia model.


*


*


*


Setelah acara pesta ulang tahun selesai, Camel langsung menuju kamarnya untuk beristirahat, karena tidak mungkin dirinya harus menyusul Santos di rumah barunya.


Mengingat lagi jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, bukan hanya itu, Camel juga masih merasa lelah karena olahraga ranjang yang dirinya lakukan dengan Santos tadi.


"Sehebat apa dia melayani kamu di atas ranjang, hingga kamu menikahi anak ingusan yang berkasta di bawah kamu itu?"


Camel yang ingin membuka pintu kamarnya, langsung di urungkan, saat tahu siapa pemilik suara yang berada tepat di belakangnya.

__ADS_1


Bersambung............................


__ADS_2