
"Simpanan?" tanya Meri yang baru saja mendengar ucapan dari bibir Siska.
Lalu Meri mendekati Siska dan juga Vano yang sedang duduk si bangku kedai milik Santos.
Saat tadi Vano yang ingin menjemput Santos ke rumahnya, Siska meminta ikut. Padahal Vano menjemput Santos karena ke duanya ingin ke kampus untuk melengkapi persyaratan masuk kampus, karena kebetulan Santos dan juga Vano juga satu kampus.
Meri yang ingin membantu sang ibu untuk merapikan kedai milik sang kakak. Yang kebetulan semua menu cilok buatan Santos sudah terjual semua, meskipun jam baru menunjukkan baru pukul sebelas siang.
Akhirnya Meri mengurungkan niatnya untuk membantu sang ibu, karena sekarang Meri menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan Siska.
"Apa yang Kakak maksud simpanan itu, menjadi pacar dari pria yang sudah beristri. Seperti di sinetron sinetron yang sering aku lihat?" tanya Meri.
Tentu saja membuat Siska langsung menautkan ke dua alisnya sambil menatap ke arah Meri.
"Eh bocil masa kini, simpanan pun tahu, tak patut," ujar Siska sambil menatap Meri.
"Tahu lah, apa kakak tidak takut jika menjadi simpanan? Karena semua simpanan di sinetron yang aku tonton semuanya kena azab, dari kaki pincang, gagu, mata juling, tangan buntung dan masih banyak yang lainnya. Kan sayang jika kakak cantik kena azab karena jadi simpanan,"
"Hadeh korban sinetron ikan terbang," ucap Siska sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Tuh dengar apa kata Meri,"
"Ish kamu tidak usah ikut ikutan," sambung Siska dan kembali menatap Meri. "Meri cantik lupakan tuh sinetron ikan terbang yang kamu tonton, karena semua itu tidak benar, oke. Lebih baik sekarang kamu panggil kakak Santos,"
Meri langsung mengulurkan tangannya ke arah Siska.
__ADS_1
"Kenapa dengan tangan kamu?" tanya Siska penasaran.
"Seratus ribu,"
"Untuk apa?"
"Memanggil kakak Santos,"
"Oh ya Tuhan, selain korban sinetron iman terbang, kamu juga jago malak, dasar bocil," ucap Siska. "Jangankan seratus ribu, satu juta aku juga akan memberikan padamu,"
"Oh ya, baiklah sekarang mana uangnya,"
"Et nanti dulu, ada syaratnya,"
"Kamu harus membuat kakak kamu itu jatuh cinta padaku, oke,"
"Tidak oke. Kakak Santos sudah memiliki istri, jadi kakak Santos hanya mencintai kakak Camel," sambung Meri yang sekarang melipat ke dua tangannya. "Awas saja, kakak cantik berani rayu rayu kakak Santos, aku do'ain mata kakak cantik juling kena azab,"
"Ish bocil tidak bisa di ajak kompromi,"
"Tidak untuk yang satu ini bay," ujar Meri yang kini beranjak dari duduknya dan menghampiri sang ibu.
Bertepatan dengar Santos yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Membuat Siska tidak berkedip melihat ketampanan Santos yang begitu sempurna.
__ADS_1
"Jaga matamu, dia sudah memiliki istri,"
"Aku tidak peduli, karena aku bisa mendapatkan dia. Karena aku yakin istrinya yang sudah berumur itu tidak bisa memuaskan nya di atas ranjang. Dan aku yang akan memuaskan nya," sambung Siska yang kini berjalan menghampiri Santos lalu memeluk lengannya.
Tentu saja Santos yang terkejut, langsung melepas tangan Siska dengan kasar, hingga Siska terjatuh.
Dan Santos yang merasa bersalah langsung membantu Siska untuk berdiri.
"Maaf aku tindakan sengaja," ujar Santos yang merasa tidak enak hati.
"Aku tidak ingin memaafkan kamu, kecuali kamu mau makan siang hari ini denganku. Tapi jika kamu tidak mau, aku juga tidak ingin memaafkan kamu," ujar Siska dengan nada yang di buat seolah olah kesal pada Santos.
Santos berpikir sejak, karena dirinya merasa bersalah akhirnya mengiyakan ajakan Siska.
"Baiklah aku mau makan siang," ucap Santos.
"Terima kasih," Siska pun langsung mengukir senyum. "Dari makan siang aku bisa membawamu ke atas ranjang," batin Siska.
"Jangan macam macam, jernih kan otak kamu," sambung Vano tahu persis apa yang sedang di pikirkan Siska.
Namun tidak di hiraukan oleh Siska yang berjalan terlebih dahulu.
"Aku yang menyetir," ucap Siska yang berjalan menuju ke arah mobil Vano, yang terparkir tidak jauh dari halaman rumah Santos.
Bersambung....................
__ADS_1