
“Dasar bodoh kamu Tos,” ucap Santos pada dirinya sendiri yang baru menyadari apa yang membuat sang istri kesal, setelah papi Arthur dan juga mami Asha menjelaskan apa itu arti bulan madu, yang Santos pikir bulan madu hanya menghabiskan hari di dalam kamar untuk memproduksi calon debay.
Santos kini berlari menuju kamar sang istri sambil memukul kepalanya sendiri yang menyadari betapa bodoh dirinya. Santos yang baru saja membuka pintu kamarnya langsung mengukir senyum saat melihat sang istri sedang terbaring di atas tempat tidur.
Kemudian Santos melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang istri, lalu Santos naik ke tempat tidur dan ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri, tentu saja Santos langsung memeluk tubuh sang istri yang sedang terbaring sambil membelakangi tubuhnya.
“Maaf sayang, sudah membuat kamu kesal. Ayo kita kembali lagi ke Hawai mengunakan tabungan aku, dan kita bisa berkeliling dan menikmati pariwisata di sana, dan aku janji tidak akan mengurung kamu lagi di sana,” ujar Santos dan semakin mengeratkan pelukannya. “Sayang, jangan marah lagi. Aku sungguh minta maaf. Lagian kamu di sana kamu juga mendessah terus kan, dan menikmati acara tanam menanam,” ujar Santos tidak tahu diri padahal baru sama meminta maaf.
Santos kini melepas pelukannya lalu beranjak dari tidurnya saat tidak mendapat tanggapan dari sang istri. “Sayang, apa kamu benar benar tidur. Padahal kamu sudah tidur selama penerbangan,” ujar Santos yang mengingat lagi sang istri selama penerbangan terus tertidur.
Dan lagi lagi Camel tidak menanggapi apa yang baru saja sang suami katakana, membuat Santos langsung membalik tubuh sang istri. Dan Santos langsung menautkan keningnya saat melihat wajah sang istri begitu pucat tidak seperti tadi, kemudian Santos memegang pipi sang istri dan keningnya.
“Ya ampun sayang, kamu demam,” ujar Santos begitu kuatir, apa lagi tidak mendapat respon dari sang istri yang terus memejamkan matanya kemudian Santos mengangkat tubuh sang istri dan langsung membawanya keluar dari kamar, dan ingin segera membawa sang istri ke rumah sakit.
*
__ADS_1
*
*
Bukan hanya Santos yang cemas saat sang istri sedang di periksa oleh Jimi Ketika sudah berada di rumah sakit, tapi juga papi Arthur dan juga mami Asha tidak kalah cemasnya dengan Santos, saat melihat sang putri tidak berdaya di atas sebuah ranjang ruangan rumah sakit di mana mami Asha dan juga papi Arthur ingin melihat sang putri yang sedang di periksa oleh Jimi.
“Dok, bagaimana keadaan istriku?” tanya Santos yang sedari tadi terus berdiri di sisi ranjang sambil menggenggam salah satu tangan sang istri yang tidak terpasang selang infus.
“Ah kamu Tos, sudah aku bilang jangan panggil aku dokter. Panggil aku Jimi saja seperti Camel memanggil aku,” ujar Jimi tanpa menjawab pertanyaan dari Santos.
“Ish kang cilok kalau sedang panik ganas juga ya,” ledek Jimi sambil menahan senyum. Karena Jimi tidak pernah melihat Santos berbicara dengan nada yang kencang penuh penekanan.
“Jim jangan bercanda, katakan apa yang terjadi pada Camel,” sambung papi Arthur yang juga begitu cemas dengan keadaan sang putri.
“Tenang, kalian tidak perlu kuatir. Camel baik baik saja,” ujar Jimi. “Harusnya Om Arthur marahi nih kang cilok, ini semua pasti karena kang cilok yang sudah membuat Camel kelelahan,”
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja Jimi katakan membuat Santos, papi Arthur dan juga mami Asha yang sedari tadi begitu kuatir, kini bisa bernafas dengan lega.
“Syukurlah Jim, benar benar keterlaluan kang cilok Jim. Masa sepuluh hari di Hawai dia hanya mengurung Camel di kamar,”
“Kuat amat, gaya apa saja yang kamu mainkan Tos?” tanya Jimi menanggapi apa yang baru saja papi Arthur katakan.
Tentu saja membuat Santos hanya tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, saat papi Arthur dan juga Jimi menatap ke arahnya.
*
*
*
“Kali ini kamu harus berhasil, jika tidak. Kamu akan tahu akibatnya!”
__ADS_1
Bersambung………………….