My Wife SUGAR MOMMY

My Wife SUGAR MOMMY
Penasaran


__ADS_3

Camel tidak ingin memarahi sang putri, setelah apa yang dilakukannya semalam. Karena Camel paham betul, di usia sang putri sekarang, pasti Hazel penasaran dan ingin tahu hal baru yang belum pernah dilakukannya.


"Bagaimana rasanya. Enak?" tanya Camel pada sang putri yang baru saja terjaga dari tidurnya.


"Mi, aku pusing,"


"Sekarang kamu sudah tahu bagaimana rasanya setelah meminum minuman keras bukan? Itulah mengapa dari dulu mami selalu mengatakan jangan pernah meminumnya,"


"Iya aku tahu," sambung Hazel yang masih terbaring di atas tempat tidur, tentunya masih berada di kamar tamu rumah Jimi.


"Sekarang kita pulang,"


"Mi, kepala aku masih sangat pusing," Hazel memijat keningnya sendiri merasakan pening di kepala yang tidak mau hilang sejak tadi.


Karena ini baru kali pertama bagi Hazel meminum minuman keras, saat Hazel semalam yang ikut bersama Ana dan juga Aza ke klub malam. Penasaran dengan minuman keras yang sering ke dua sahabatnya minum, akhirnya Hazel pun mencoba minuman tersebut.


"Apa kamu mau mengulang lagi?


" Tidak Mi,"


"Bagus," sambung Camel yang kini duduk di pinggiran tempat tidur di mana sang putri berada. "Dan mama memutuskan untuk kembali tinggal di rumah menemani kamu,"


Akhirnya keputusan itu yang di ambil Camel saat ini, karena dirinya ingin dekat dengan sang putri dan mengawasinya, tidak ingin kejadian semalam terulang lagi. Meskipun dirinya belum berbicara pada Santos sang suami.

__ADS_1


Hazel tidak menanggapi apa yang baru saja sang mami katakan, karena sekarang Hazel memejamkan matanya kembali.


"Sayang, Mami ada rapat penting siang ini. Mari kita pulang,"


"Biarkan saja Hazel di sini dulu, kamu pergi saja," ucap Jimi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Jack dari belakang.


"Jim, aku tidak ingin merepotkan kamu,"


"Mel, jangan bicara seperti itu. Seperti dengan siapa saja, Jack juga masih berada di sini, biar nanti dia yang mengantar Hazel pulang,"


Mendengar apa yang baru saja Jimi katakan, Camel melirik ke arah mantan suaminya, yang begitu memuakkan bagi Camel.


Namun bagaimana pun, Jack memanglah ayah kandung sang putri.


"Baiklah Jim, aku titip Hazel. Hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya, aku pergi dulu," pamit Camel pada Jimi, namun tidak berpamitan pada Jack.


"Jim," panggil Jack setelah kepergian Camel.


"Iya,"


"Apa aku boleh meminta tolong padamu,"


"Katakan saja Jack, aku akan menolong mu,"

__ADS_1


"Kamu tahu, aku masih berharap Camel kembali padaku,"


"Jangan bilang kamu ingin meminta aku memisahkan Camel dan Santos?"


"Iya, kamu tahu sendiri suami Camel itu–"


"Masih muda dan juga dari golongan bawah?" tanya Jimi memotong perkataan Jack.


"Itu kamu tahu, jadi tolong a–"


"Maaf Jack, untuk hal ini aku tidak bisa membantu kamu. Aku rasa Camel sangat bahagia dengan pernikahan barunya. Dan satu lagi, jangan pernah menilai seseorang dari umur apa lagi kasta. Lebih baik kamu lupakan Camel dan mencari pendamping baru," ujar Jimi kembali memotong perkataan Jack, lalu menepuk bahu sang sahabat, kemudian Jimi keluar dari kamar di mana Hazel berada meninggalkan Jack yang terlihat tidak suka dengan apa yang di katakan Jimi barusan.


"Dan aku tidak akan pernah bosan untuk memisahkan Camel dengan sampah itu. Karena Camel adalah sumber uang yang harus aku dapatkan kembali," batin Jack sambil menyunggingkan senyum sinis, mengingat lagi Jack ingin kembali bersama dengan Camel hanya demi hartanya.


*


*


*


"Emm mantap kan? Mau lagi?"


"Tidak,"

__ADS_1


"Ayolah sekali lagi, nanggung tahu,"


Bersambung......................


__ADS_2