
"Tunggu!" perintah papi Arthur menghentikan langkah seorang pria yang baru saja mendapat perintah dari mami Asha.
Tentu saja membuat pria tersebut langsung menghentikan langkah nya, apa lagi saat papi Arthur berjalan mendekatinya.
Lalu papi Arthur meraih tangan pria tersebut, dan memberikan amplop coklat di tangannya yang berisi sejumlah uang.
"Itu uang lebih dari pada yang sudah kamu terima. Dan sekarang kamu pergi dan jangan pernah mengikuti perintah apa yang baru saja istriku perintahkan padamu. Kamu paham!"
"Pak. Ma–"
"Aku bilang pergi! Dan jangan pernah mengikuti perintah dari istriku!" bentak papi Arthur memotong perkataan pria tersebut. "Ingat, jika kamu masih mengikuti perintah istriku. Aku tidak segan segan membuat perhitungan denganmu. Kamu paham!"
Pria yang masih berada di hadapan papi Arthur langsung menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Sekarang pergilah!"
Dan pria tersebut langsung pergi meninggalkan rumah papi Arthur dan juga mami Asha.
Selepas kepergian pria tersebut papi Arthur segara menghampiri sang istri, yang sedang duduk di ruang makan.
Setelah sebelumnya mami Asha menyuruh pria yang baru saja pergi dari rumahnya untuk mencari tahu tempat tinggal Santos.
"Aku sudah memberi tahu kamu Mi. Biarkan Camel bahagian dengan suami barunya, dari manapun Santos berasal. Kita sebagai orang tua cukup mendoakan kebahagiaan anak kita,"
"Bagaimana akan bahagia, jika suaminya berasal dari golongan sampah seperti dia. Camel itu di butakan dengan cinta pada bocah ingusan itu, nanti juga cinta itu akan pudar dengan berjalannya waktu. Dan mami tidak ingin Camel menyesal karena sudah mencintai sampah!"
__ADS_1
"Ya Tuhan Mi. Mulut kamu, untuk apa kamu sekolah tinggi tinggi tapi mulut tidak di sekolahkan. Ingat, tidak akan ada orang kaya jika tidak ada orang miskin," ujar papi Arthur sambil menggelengkan kepalanya.
Karena dari dulu sang istri tidak pernah berubah, menilai seseorang hanya dari kasta.
"Kita sama di mata Tuhan Mi, dan kita juga sama sama akan masuk ke dalam tanah. Jadi papi harap kamu mengubah sikapmu itu,"
Tanpa menghiraukan perkataan sang suami, mami Asha langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan sang suami.
Tentu saja mami Asha tidak peduli degan apa yang baru saja papi Arthur katakan. Dirinya tetap dengan pendiriannya, mencari keberadaan tempat tinggal Santos, untuk meminta keluarga Santos memisahkannya dengan Camel.
*
*
*
Saat ke duanya sudah berbincang dengan Hazel, dan bersyukur Hazel mau memaafkan sang Mami, dan juga mau tetap tinggal di rumah.
Dan Hazel juga tidak keberatan tinggal di rumah seorang diri dengan di temani para asisten rumah tangga, ketika sang mami sesekali akan tinggal bersama dengan Santos sang suami di rumah Ibu Rina.
Santos menarik satu buah koper milik Camel masuk ke dalam rumah yang kosong, karena ibu Rina dan juga Meri sekarang sedang berada di kontrakan untuk mengambil barang barang yang masih ketinggalan.
"Sayang, kamu istirahat saja. Sepertinya kamu terlihat begitu lelah," ujar Santos pada Camel yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur di salah satu kamar tempat ke duanya akan menginap.
"Terus kamu mau ke mana?"
__ADS_1
"Menyusul Ibu dan Meri,"
"Tapi sayang, aku butuh bantuan mu,"
"Bantuan apa sayang?" tanya Santos yang kini berjalan menghampiri Camel setelah menaruh koper.
"Pijitin, badan aku pegal semua, karena semalam kurang tidur," pinta Camel yang langsung merebahkan tubuhnya.
"Baiklah sayang, aku akan memijat kamu sebelum menyusul ibu," ujar Santos yang langsung memijat kaki Camel.
"Sayang bukan itu,"
"Yang mana?" tanya Santos dan menghentikan pijatan nya.
Namun tidak mendapat jawaban dari Camel yang sekarang menarik tangan Santos, hingga pemilik tangan jatuh tepat di atas tubuhnya dengan wajah keduanya saling bertemu.
Senyum terukir dari ke dua sudut bibir Camel, karena masalah dengan sang putri bisa di atasi, lalu camel melingkarkan ke dua tangannya kebelakang leher sang suami.
"Sekarang aku tidak ingin di pijat sayang,"
"Terus?"
Bersambung.....................
Kalian bisa tebak sendiri lah, apa mau Camel yang otaknya anu terus 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1