
"Ya ampun," Camel memijat keningnya sendiri setelah melihat sang putri pergi, dengan menggunakan taksi yang baru saja di hentikan olehnya.
Camel yang tahu jika sang putri sedang marah, tidak ingin menyusulnya. Percuma juga, karena apa pun yang Camel katakan pasti tidak akan di dengarnya.
Lalu Camel memasuki gang menuju kontrakan Santos kembali, dengan perasaannya campur aduk.
Dan Camel benar benar tidak bisa berpikir lagi, dengan apa yang sekarang di alami.
Saat dirinya tahu jika Santos sang suami adalah laki-laki yang di sukai putrinya.
Apa lagi sang putri menyuruh untuk bercerai dengan Santos, pria yang sangat di cintai nya hingga tidak ada celah sedikit pun dalam hatinya.
Dan itu yang membuat Camel benar benar tidak bisa berpikir, harus mempertahankan Santos, atau menuruti ke inginan sang putri.
Camel segera menghampiri ibu Rina yang masih berada di teras tempat tinggalnya, saat sudah tiba kembali di kontrakan Santos.
"Nak, siapa Nak Hazel?" tanya ibu Rina untuk memastikan.
Karena dia menangkap percakapan Camel dan Hazel tadi, dan ibu Rina menyimpulkan jika Hazel adalah putri Camel sang menantu.
"Dia putriku Bu," Jawa Camel sambil mengukir senyum untuk menutupi ke gelisahan hatinya. "Oh ya Bu, di mana suamiku. Apa dia di dalam?"
Sebisa mungkin Camel tidak ingin membahas tentang Hazel.
"Santos pergi Nak,"
"Tapi, tadi dia bilang ada di sini,"
__ADS_1
"Iya, tadi temannya datang untuk menjemput Santos, karena mulai hari ini dia dapat pekerjaan,"
"Pekerjaan? Pekerjaan apa Bu?" tanya Camel penasaran.
"Apa dia tidak bilang padamu?"
Camel pun langsung menggelengkan kepalanya. "Memang suamiku bekerja di mana?"
"Dia menjadi model nak,"
"Apa. Model?!" tanya Camel begitu terkejut mendengar pekerjaan baru sang suami.
Kemudian Camel menatap ke arah ibu Rina. "Apa ibu tahu di mana tempat suamiku bekerja?"
Dan ibu Rina yang memang tadi di beri tahu oleh Santos di mana dia bekerja hari ini, langsung memberi tahu Camel.
Ingin segera menyusul sang suami, karena entah mengapa Camel tidak ingin sang suami menjadi model yang memperlihatkan bentuk lekuk tubuhnya.
*
*
*
Sementara itu Santos menarik tangan Vano yang sedang menunggu fotografer, karena mulai saat ini juga Santos harus melakukan pemotretan dengan salah satu brand pakaian ternama.
Bagaimana Santos tidak menarik tangan Vano, saat ada salah satu model wanita yang tiba tiba duduk di sampingnya dan mengelus salah satu pahanya.
__ADS_1
Vano yang sudah mengikuti Santos berpindah tempat duduk, dan menghindari model wanita tadi langsung menggelengkan kepalanya.
"Santos, Santos, dasar kang cilok. Tenang saja kamu tidak akan rabies hanya di sentuh olehnya," ujar Vano. "Lagian itu kesempatan buat kamu, biar kamu bisa mlintir yang lain, jangan mlintir adonan cilok mulu. Aku rasa dia menyukaimu,"
"Tidak bisa,"
"Kenapa tidak bisa, apa kamu tidak ingin mengenal wanita? Jika kamu sudah sekali masuk lubang, pasti kamu ketagihan," ucap Vano yang tahu persis siapa Santos.
Mengingat lagi jika ke duanya teman satu kelas, namun tidak begitu akrab. Tapi Vano salah satu murid pria yang baik padanya, dan tidak memandang rendah Santos yang berasal dari keluarga kurang mampu. Terlebih lagi Vano jarang masuk sekolah karena di sibukkan dengan karir di dunia model.
"Iya, aku juga menyesal tidak tahu, jika masuk lubang itu bikin kepala nyat nyut,"
Tentu saja membuat Vano langsung menatap ke arah Santos sambil menautkan keningnya.
Tidak percaya jika temannya yang paling polos tersebut, bisa mengatakan hal seperti itu.
"Tos, kamu waras?"
"Jelas, memangnya ada apa?"
"Kamu masuk lubang apa?"
"Lubang got arah masuk kontrakan aku, ketika sedang kerja bakti, dan saat aku masuk, sumpah bikin kepala aku nyat nyut,"
Plak!
Vano menepuk jidatnya sendiri mendengar apa yang baru saja Santos katakan. "Dasar kang cilok!"
__ADS_1
Bersambung.........................