
Camel menghembuskan nafasnya kasar saat Santos kini mengangkat sambungan ponselnya yang terus berdering.
Lalu Camel melangkahkan kakinya menuju ranjang hotel dan membiarkan santos berbicara lewat sambungan ponsel entah dengan siapa.
Camel merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan tatapan matanya terus tertuju ke arah Santos yang terus berbicara lewat sambungan ponsel, dan senyum terus terukir dari ke dua sudut bibirnya, tidak ada bosan bosannya dia menatap sang suami yang sudah mengalihkan dunianya.
Namun senyum itu hilang, saat Camel mengingat lagi perdebatan nya tadi bersama sang putri, apa lagi saat Camel mengingat sang putri menyuruhnya untuk menceraikan Santos.
Camel yang tadi tidur sambil memiringkan tubuhnya untuk menatap Santos, kini merebahkan tubuhnya sambil terlentang, hembusan nafas kasar keluar dari bibirnya, karena dirinya tidak ingin menceraikan sang suami, dan di sisi lain dirinya juga tidak mau jika sang putri menjauh darinya, karena tidak menuruti apa kemauannya.
"Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan," ujar Camel sambil memijat keningnya dan memejamkan ke dua matanya.
"Kamu ingin melakukan apa sayang?" tanya Santos yang kini sudah duduk di pinggiran ranjang, setelah menutup sambungan ponselnya.
Tentu saja mendapati sang suami sudah mendekatinya, Camel segera membuka matanya, lalu tersenyum ke arah Santos. "Tidak ada. Kamu sudah selesai menelpon?"
"Sudah. Apa kamu tidak ingin tahu aku tadi menelpon siapa?"
"Tidak, untuk apa,"
"Yakin. Tidak ingin tahu. Jika tadi yang menghubungi aku seorang wanita bagaimana?" tanya Santos untuk meledek sang istri.
"Tidak masalah, memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Padahal tadi yang menelpon aku seorang wanita, dan dia mengajak aku untuk makan malam,"
"Apa!" teriak Camel lalu beranjak dari tidurnya.
Tentu saja membuat Santos langsung tertawa karena sudah berhasil membuat sang istri marah.
"Sayang!" teriak Camel lagi, saat menyadari jika sang suami sedang mengerjai dirinya, lalu Camel langsung menarik tangan Santos.
Dan membuat Santos jatuh, dan kepalanya jatuh tepat di pangkuan Camel. Dan Santos pun dengan segera memeluk pinggang sang istri sambil mencium perutnya.
"Sayang, geli," ujar Camel saat Santos terus mencium perutnya.
"Maaf," Santos menghentikan aksinya saat Camel merasa kegelian. "Tadi ibu yang menghubungi aku, ibu bilang. Tadi kamu datang ke rumah mencari aku," jelas Santos.
"Hanya itu?" tanya Camel yang penasaran.
"Apa ibu tidak memberi tahu kamu, jika tadi aku datang berdua?"
"Berdua? Dengan siapa?"
"Putriku,"
"Ya ampun, maafkan sayang. Karena sampai saat ini aku belum bertemu dengan putrimu,"
__ADS_1
"Tidak masalah sayang. Ada yang ingin aku tanyakan padamu, sayang,"
Mendengar ucapan Camel, membuat Santos langsung mengangkat kepalanya, lalu duduk menghadap ke arah sang istri.
"Tanyakan saja, aku akan menjawabnya. Namun jika kamu ingin bertanya, aku cinta padamu atau tidak. Tentu saja aku akan menjawab, aku akan terus mencintaimu dan juga menyayangimu seumur hidupku,"
Tentu saja Camel mendadak terserang diabetes mendengar ucapan Santos yang begitu manis melebihi manisnya gula.
Dan ingin rasanya Camel memeluk sang suami, namun pertanyaan yang ingin di tanyakan nya sekarang lebih penting.
"Sayang katakan saja yang ingin kamu katakan," ujar Santos lagi.
"Apa kamu mengenal Hazel?"
Mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir Camel, Santos sejenak berpikir.
"Iya, aku mengenalnya dia adik kelasku di sekolah, memangnya ada apa?"
"Apa kamu memiliki perasaan padanya, kamu dekat dengannya kan?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang. Aku sudah mengatakan padamu, cinta dan sayangku hanya untuk kamu seorang. Aku hanya menganggap dia sebagai adik aku, dan aku coba untuk mengubah sikapnya yang keras kepala. Tapi kenapa kamu mengenal dia sayang?" tanya Santos penasaran.
"Karena dia putriku,"
__ADS_1
"Apa?!"
Bersambung..............................