
"Oh iya," sahut Meri yang langsung menempelkan punggung tangannya di kening bergantian dengan ke dua pipi sang kakak. "Kakak tidak panas. Apa yang tidak baik baik saja Kak?" tanya Meri.
Kemudian Meri melihat ke arah perut sang kakak. "Apa perut Kakak masih sakit?" tanyanya lagi.
Kemudian Meri menatap ke arah Camel yang berdiri di sisi ranjang di mana sekarang dirinya berapa.
"Ish. Kakak Camel ya, benar benar istri durhaka kaya di sinetron itu," ucap Meri sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.
"Kamu yang adik durhaka," kesal Santos yang kini turun dari ranjang perawatannya.
"Kok, aku sih Kak. Apa salahku pada kakak?" tanya Meri yang sekarang menoleh ke arah Santos.
Lalu Meri menautkan keningnya saat sedang menatap sang kakak, tepatnya menatap bagian bawah Santos. "Oh ya Tuhan. Apa kakak Camel menusuk Kaka Santos. Kenapa di bawah situ ada tonjolan seperti gagang gayung?" tanya Meri penasaran.
Tentu saja membuat ibu Rina dan juga Hazel yang masih berada di dalam ruangan tersebut langsung menahan tawa.
Namun tidak dengan Camel yang kini menggelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya.
Dan Santos langsung menoyor kepala sang adik, dan dengan segera menuju ke kamar mandi.
Setelah kepergian sang Kakak, Meri kini menoleh ke arah Camel kembali.
"Oh Kaka Camel memang ja–"
__ADS_1
Meri tidak jadi meneruskan ucapannya saat Camel menunjukkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke arah Meri.
"Di depan rumah sakit ini ada Mall, apa kamu tidak ingin pergi bermain di sana?"
"Tentu saja mau," jawab Meri yang langsung mengambil uang yang ada di tangan Camel, kemudian turun dari tempat tidur. "Terima kasih Kakak Camel sayang, aku pergi dulu," ucap Meri yang tiba-tiba tidak lagi mengingat gagang gayung.
Meri pun kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Hazel, lalu menarik tangannya.
"Ayo Kak kita main bersama," ajak Meri, tentu saja tidak mendapat penolakan dari Hazel, karena kebetulan dua sahabatnya sedang bermain juga di Mall tersebut.
"Maafkan ucapan Meri Nak," ujar ibu Rina setelah kepergian sang putri dan juga Hazel dari ruangan tersebut.
"Untuk apa ibu minta maaf. Meri masih kecil, jadi wajar di usianya dia masih ingin tahu dengan hal baru," sambung Camel sambil mengukir senyum ke arah ibu Rina.
*
*
*
Tentu saja Santos yang begitu bosan karena tidak melakukan apa pun di rumah sang istri.
Di mana setelah kepulangannya dari rumah sakit, Camel memaksa Santos untuk tinggal di rumahnya dan Santos pun tidak menolak.
__ADS_1
Jam di kamar sang istri memang masih menunjukkan pukul enam pagi, namun Santos sudah bangun sejak tadi.
Dan Santos pun tidak ingin membangunkan sang istri yang masih terlelap di atas tempat tidur.
Mengingat lagi ke duanya semalam bisa berbuka untuk pertama kalinya setelah hampir tiga minggu puasa.
Dan Santos mengingat betul, sang istri benar benar bisa membuatnya melayang beberapa kali, tanpa harus bergerak.
Karena Camel lah yang bergerak dan bermain. Karena Camel tidak ingin terjadi sesuatu pada kesehatan Santos.
Senyum terukir dari ke dua sudut bibir Santos mengingat lagi kejadian semalam. Kemudian Santos mencium kening sang istri yang masih terlelap, sebelum dirinya keluar dari dalam kamar untuk menghirup udara pagi.
Seperti biasa beberapa asisten rumah tangga Camel yang sedang mengerjakannya pekerjaannya menyapa Santos, saat dia sudah turun dari kamar sang istri.
"Oh ya Mbak. Bawakan teh hangat ke tempat biasa,"
"Baik Tuan," sambung salah satu asisten rumah tangga Camel, yang beberapa hari ini selalu membuatkan dan mengantar teh hangat ke taman samping rumah, di mana Santos setiap pagi selalu berada di sana, untuk menikmati matahari pagi dengan hamparan bunga dan pohon pohon yang menyejukkan.
Santos yang ingin melangkahkan kakinya menuju taman, dirinya urungkan saat mendengar suara bel pintu.
"Mbak biar aku saja yang membuka pintu," ujar Santos pada salah satu asisten rumah tangga sang istri yang ingin menuju pintu.
"Baik Tuan,"
__ADS_1
"Siapa yang datang pagi pagi sekali," ucap Santos yang kini melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu.
Bersambung.......................