
Mendengar apa yang baru saja di tanyakan Santos, membuat Camel merasa ada yang tidak benar dengan keadaan sang suami. Apa lagi Jimi pernah mengatakan jika Santos mengalami benturan di kepala.
Camel sekarang menfokuskan menatap sang suami yang terus menatap dirinya, seolah oleh tidak mengenalnya.
"Kamu benar benar tidak mengenaliku kang cilok?" tanya Camel yang entah mengapa sekarang terlihat kesal.
"Ish kenapa kamu bawa bawa kang cilok sayang," sambung Santos, lalu mengukir senyum.
"Dasar menyebalkan!" kesal Camel yang baru saja menyadari jika sang suami sedang bersandiwara, dan Camel tahu sang suami sedang bersandiwara dari tatapan matanya, yang tidak bisa membohongi Camel.
"Menyebalkan, aku juga tetap suami kamu yang paling tampan," sambung Santos dengan bangganya.
"Tidak lucu tahu," kesal Camel sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jaga bibirmu itu sayang, jangan sampai tuh bibir jontor, karena ulahku,"
"Dasar kang cilok, tidak berdaya pun masih saja mesum,"
"Kan kamu yang mengajariku sayang. Dan sebagai murid yang teladan, aku tentu harus menguasai apa yang telah kamu ajarkan," sambung Santos sambil menaik turunkan kedua alisnya, untuk menggoda sang istri.
"Jangan macam macam, ingat kamu sedang di mana,"
"Di rumah sakit sayang," sambung Santos yang kini meraih tangan sang istri untuk mendekat, dan saat Camel sudah mendekat, Santos melepas tangannya yang baru saja dirinya gunakan untuk menarik tangan sang istri.
Dan tangan tersebut kini di gunakan untuk mengelus perut Camel yang masih rata.
"Terima kasih sayang, akhirnya aku akan menjadi seorang pria seutuhnya. Karena benih benih kecebong yang aku semburkan di rahim kamu, sekarang membuahkan hasil. Dan aku berharap, di sini ada sepuluh kehidupan," ujar Santos yang terus mengelus perut sang istri.
Tentu saja membuat Camel bingung, kerena sang suami sudah mengetahui jika dirinya sedang mengandung. Padahal Camel ingin menemui sang suami karena ingin memberi kabar menggembirakan itu.
"Sekali lagi terima kasih sayang," ujar Santos yang kini beralih menggenggam satu tangan sang istri lalu mencium punggung tangannya.
Sebenarnya Santos ingan sekali beranjak dari tempatnya, lalu memeluk tubuh sang istri dan memberikan ciuman di setiap jengkal wajah Camel untuk mengapresiasi kan kebahagiaan nya, namun apa lah daya, tubuhnya masih begitu lemas dan rasa sakit yang berada di kepala, dan seluruh tubuh yang terkena luka masih terasa sakit.
Camel menarik kursi untuk dirinya duduk di samping ranjang sang suami, ketika dirinya juga masih lemas, namun belum juga duduk, tangannya di cekal oleh Santos agar Camel tidak jadi duduk di kursi yang baru saja di tariknya.
__ADS_1
"Sayang, naiklah ke sini," Pinta Santos yang menggeser tubuhnya untuk memberi tempat pada sang istri.
Dan tanpa pikir panjang, Camel pun segera naik ke atas ranjang perawatan sang suami, yang luasnya dua kali dari ranjang perawatan yang biasa.
Karena tidak di pungkiri Camel sangat ingin dekat dengan sang suami, yang sangat di rindukan nya beberapa hari ini.
Camel yang sudah merebahkan tubuhnya di samping sang suami, kini memiringkan tubuhnya untuk menatap Santos, sang suami yang sangat di cintainya.
"Sayang, dari mana kamu tahu jika aku sedang mengandung?" tanya Camel penasaran karena sang suami sudah mengetahui jika dirinya sedang hamil.
Santos yang belum bisa memiringkan tubuhnya untuk menatap sang istri yang ada di sampingnya, kini hanya menoleh sambil mengukir senyum manis. Dengan satu tangannya kini membelai wajah sang istri.
"Ibu sudah memberi tahu aku sayang. Saat aku sedang bermimpi panjang bersama beberapa bayi mungil yang begitu menggemaskan," jelas Santos.
Mengingat lagi jika dirinya terbangun dari koma, karena mendengar ibu Rina sang ibu yang terus berbicara menceritakan jika Camel sedang hamil, saat Santos masih berada di alam bawah sadar karena mengalami koma.
"Apa anak aku di sini ada sepuluh. Karena aku saat itu sedang bermimpi bermain dengan beberapa bayi mungil yang menggemaskan," ujar Santos sambil mengelus perut Camel.
"Kamu pikir aku kucing," kesal Camel saat mendengar apa yang baru saja sang suami katakan. Dan Camel pun langsung menyingkirkan tangan Santos yang masih mengelus perutnya.
"Bukan begitu konsepnya kang cilok, kami pikir sedang menyebar bibir jagung. Di mana kamu menyebar sepuluh akan tumbuh sepuluh juga,"
"Terus?"
"Pikir saja sendiri," jawab Camel yang kini melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuh sang suami.
Dan Santos pun langsung mengusap rambut Camel dengan sangat lembut.
"Sayang, entah berapa ratus ucapan terima kasih tidak cukup untuk aku ucapkan padamu. Tapi aku akan membuktikan padamu, aku akan menjadi seorang ayah dan juga suami yang baik untuk kamu dan juga anak anak kita selamanya, hingga maut menjemput. Dan aku juga akan selalu membuat kalian bahagia selama berada di sisiku. Dan aku akan selalu berada di depan kalian jika kalian mengalami masalah," ujar Santos dengan mode serius. "Ini janjiku padamu sayang,"
Mendengar apa yang baru saja Santos katakan membuat Camel langsung mengeratkan pelukannya, saat dirinya sangat percaya dengan apa yang baru saja Santos katakan.
"Aww sayang, kamu menyakitiku," Santos mengaduh kesakitan saat Camel memeluk tubuhnya dengan sangat erat, karena terdapat luka jahit di tubuh Santos.
"Maaf sayang," ujar Camel yang langsung melepas pelukannya.
__ADS_1
"Tak apa, lebih baik ini. Aku sangat merindukan bibir manis kamu sayang," sambung Santos yang kini memajukan bibirnya meminta Camel mencium bibirnya.
"Dasar mesum,"
"Enak," sambung Santos dengan suara manjanya.
Camel pun tidak akan pernah menolak apa yang di inginkan sang suami, dan Camel sekarang mengangkat kepalanya agar bisa mencium bibir sang suami yang belum bisa mengangkat kepalanya yang di selimuti perban.
Dan baru saja Camel ingin mencium bibir suami, dirinya urungkan saat tiba tiba pintu ruang perawatan sang suami di buka dari luar.
Membuat Camel dan juga Santos langsung menatap ke arah pintu.
"Ya Tuhan, kenapa selalu dia," ucap Santos saat melihat Meri sang adik yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan nya.
"Sabar sayang, mungkin belum saatnya kita senam aerobik bibir," sambung Camel sambil mengukir senyum, lalu menegakkan tubuhnya dan duduk di atas ranjang perawatan sang suami.
"Kan pengin sayang," ucap Santos begitu manjanya.
"Sama sayang, aku juga ke pengin,"
"Pengin apa Kak?" tanya Meri yang sudah mendekati ranjang perawatan sang kakak ketika baru saja mendengar apa yang baru saja Camel katakan. "Sebutkan saja, aku akan membelikannya untuk kakak Camel. Mangga, asam, kedondong atau rujak buah, asinan atau salad buah. Katakan saja Kak, aku akan membelikannya untuk Kakak menggunakan uang aku sendiri, ini demi dede bayi yang ada di perut kakak," ujar Meri panjang lebar saat dirinya sudah tahu jika Camel sedang hamil, dan Meri pun begitu bahagia mengetahuinya.
Camel tiba tiba menginginkan rujak buah, setelah mendengar Meri mengatakannya.
"Kakak ingin makan rujak buah Mer, benar kamu mau membelikannya?" tanya Camel.
"Tentu saja aku akan membelikannya, demi keponakan aku,"
"Benar menggunakan uang kamu?"
"Iya dong Kak, beli menggunakan uang aku. Kan tabungan aku banyak," jawab Meri yang menjerumus ke arah pamer. "Tapi setelah aku membelikan rujak buah untuk kakak dan membawakannya ke sini. Kakak harus mengganti uang aku, sekalian ongkos jalannya,"
"Dasar bocil!" sahut Santos.
"Ini bisnis Kak," sambung Meri sambil mengukir senyum.
__ADS_1
Bersambung..................