
Camel segera menegakkan kepalanya lalu menoleh ke arah pintu yang baru saja di buka oleh perawat.
Yang sekarang mendekati ranjang perawatan Santos, dan begitu terkejut saat melihat selang oksigen terlepas dari mulut dan juga hidung Santos.
Dan dengan segera perawatan tersebut langsung memasang selang oksigen pada Santos.
Setelah memasangnya perawatan tersebut langsung menoleh ke arah Camel sambil memincingkan ke dua matanya.
"Apa Nyonya ingin melakukan percobaan pembunuhan pada Tuan?"
Mendengar apa yang baru saja di tanyakan perawat yang ada di hadapannya, tentu saja membuat Camel langsung menautkan keningnya.
"Maksud suster apa. Mana mungkin aku melakukan hal itu pada suamiku sendiri,"
"Apa yang tidak mungkin di dunia ini, apa lagi Tuan sangat tampan. Pasti banyak wanita yang ingin menjadi selingkuhannya. Dan Nyonya sakit Hati karena Tuan lebih memilih selingkuhannya di banding Nyonya iya kan. Sungguh kejam,"
"Ya ampun," ucap Camel pada perawatan yang baru saja menekan tombol darurat yang berada di tembok sisi ranjang perawatan Santos.
"Lebih baik Nyonya keluar dari sini,"
"Siapa kamu menyuruh nyuruh aku?"
"Apa Nyonya tidak tahu aku siapa. Aku perawatan yang harus menjaga setiap pasien,"
"Kamu benar benar ya," kesal Camel dan menyingkirkan tubuh perawat tersebut yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Jangan marah, abaikan saja, nanti cepat tua loh," ucap pelan Santos saat sudah melepas selang oksigen yang baru di pasang oleh perawat yang sekarang sedang menatap ke arahnya.
"Tuβ"
"Aku baik baik saja," sambung Santos memotong perkataan perawat tersebut.
Kemudian Santos menarik tangan sang istri untuk mendekat. Lalu menarik dagunya dan mencium bibirnya.
Membuat perawat tersebut langsung menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. Melihat pemandangan yang merusak matanya.
Lalu perawat tersebut membalik tubuhnya bertepatan dengan pintu ruangan tersebut di bukan.
"Apa yang terβ"
Dokter yang baru membuka pintu tidak jadi meneruskan ucapannya, lalu membalik tubuhnya.
Kerena dirinya sudah terburu buru saat mendapatu ada penggilan darurat dari ruangan tersebut.
Dan ternyata di suguhi dengan pemandangan senam aerobik bibir. Dokter tersebut pun tahu, jika kesalahannya ada pada perawat yang sedang nyengir kuda ke arahnya.
"Maaf Dok," ucap perawat tersebut yang langsung keluar dari ruangan tersebut mengikuti dokter tersebut.
Setelah puas melakukan senam aerobik bibir, Santos melepas tautan bibirnya.
"Sayang, aku rasa barusan mendengar suara seseorang di ruangan ini," ucap Santos sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
__ADS_1
"Tidak sayang, kamu hanya salah dengar," balas Camel lalu mengukir senyum ke arah sang suami. "Lagi,"
"Ish, nanti kamu membangunkan yang lain,"
"Tidak mungkin sayang, orang kamu sedang tidak berdaya seperti ini,"
"Kalau bangun bagaimana?"
"Gampang, bisa di atur," jawab Camel, dan langsung menempelkan bibirnya di bibir sang suami.
Sementara itu Jimi dan juga Hazel yang masih duduk di bangku tunggu tidak jauh dari ruangan di mana Santos berada saling pandang sejenak.
Ketika melihat dokter yang baru saja ingin masuk ke ruangan Santos, mengurungkan niatnya, dan menggerutu pada perawat yang berjalan mengikutinya.
"Ada apa Om?" tanya Hazel penasaran.
"Tidak tahu," jawab Jimi dan kembali menatap ke arah Hazel yang masih terus menatap dokter yang sudah menjauh darinya. "Zel,"
Mendengar Jimi memanggilnya, Hazel segara menoleh ke arah Jimi.
"Sudahlah Om, jika Om tidak mau mendengarkan aku. Aku juga tidak ingin mendengarkan apa pun yang akan Om katakan," ujar Hazel karena sebelumnya ke duanya sedang berbicara serius.
"Terus aku harus bagaimana Zel?"
Bersambung........................
__ADS_1
Hayo, aku yakin kalian penasaran kan, dengan apa yang di bicarakan Hazel dan juga Jimi. Hayo ngaku π€π€π€ππππππ