My Wife SUGAR MOMMY

My Wife SUGAR MOMMY
Tua


__ADS_3

"Iya Dok dia istri tuan Santos," Jimi menjawab pertanyaan yang dokter tujukan untuk Camel.


Saat Jimi melihat raut wajah kegelisahan jelas terpancar dari wajah Camel.


Dokter yang baru saja mendengar jawaban Jimi, kini menoleh ke arah Camel sambil tersenyum.


"Tuan Santos sudah sadar dan juga sudah melewati masa kritisnya. Dan dia ingin bertemu dengan anda Nyonya," ucap dokter tersebut pada Camel.


Tentu saja Camel yang tadi terlihat begitu cemas, kini bisa bernafas lega mengetahui keadaan Santos yang sudah sadarkan diri.


Dan tanpa mengatakan apa pun lagi, Camel langsung masuk ke dalam ruangan di mana Santos berada.


Hazel ingin menyusul sang mami masuk ke dalam, namun tangannya langsung di cekal oleh Jimi.


"Terima kasih Dok, berkat Dokter sahabatku bisa tertolong," ujar Jimi pada dokter yang ada di hadapannya. Tentu saja satu tangannya masih mencekal tangan Hazel.


"Itu sudah tugasku Dokter Jimi," sambung dokter tersebut sambil mengukir senyum. "Aku tinggal dulu Dok,"


Dokter tersebut pun segera meninggalkan Jimi dan juga Hazel setelah berpamitan.


Setelah kepergian dokter tersebut Hazel dengan segera melepas tangannya yang masih di tahan oleh Jimi.


"Apa apaan sih Om," Dan Hazel ingin melangkahkan kakinya menyusul sang mami, namun tangannya kembali di tahan oleh Jimi. "Om Jimi!"

__ADS_1


"Biarkan mereka berdua berbicara empat mata. Kita tunggu saja di sana," ujar Jimi sambil menunjuk bangku tunggu tidak jauh dari tempatnya berada. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu Zel,"


Dokter Jimi menarik tangan Hazel menuju bangku tunggu yang tadi ditunjuknya, tanpa mendapat penolakan dari Hazel.


Karena apa yang di katakan oleh Jimi benar adanya.


Sementara itu, Camel menghapus sisa sisa air mata yang masih membasahi ke dua pipinya. Saat melihat sang suami yang sedang terbaring di atas ranjang perawatan menatap ke arahnya.


Dengan segera Camel melangkahkan kakinya mendekati rajang sang suami.


Dan saat sudah berada di sisi kiri ranjang sang suami. Camel hanya diam terpaku melihat sang suami yang masih menggunakan selang oksigen. Apa lagi saat Camel melihat tiga perban yang berada di perut sang suami.


Membuat ingatan Camel kembali lagi pada malam hari di mana banyak darah yang keluar dari perut Santos.


Dan air mata kembali membasahi ke dua pipi Camel lagi, namun kali ini bukan air mata kesedihan. Namun, air mata kebahagiaan.


Apa lagi saat ini Santos tengah mengukir senyum dari balik selang oksigen ke arah Camel.


"Sayang, kenapa kamu menangis. Lihatlah, aku baik baik saja," ucap Santos dengan pelan, untuk mengimbangi rasa sakit di perutnya.


Tanpa mengatakan apa pun, Camel langsung memeluk kepala Santos, karena itu yang bisa dirinya lakukan, tidak mungkin dia harus memeluk tubuh sang suami yang terluka.


"Sayang, kamu membuat aku pusing," ucap Santos.

__ADS_1


Tentu saja Camel langsung melepas pelukannya. "Maafkan aku sayang,"


Santos hanya mengukir senyum, dan satu tangannya reflek menghapus sisa air mata yang berada di ke dua pipi Camel.


"Ih sudah tua masih menangis, malu lah,"


"Apa yang kamu katakan sayang, apa kamu sedang mengatai aku?"


"Jika kamu merasa," jawab Santos untuk meledek sang istri.


Karena Santos tahu persis sang istri pasti tidak henti hentinya menangisi dirinya, terlihat dari ke dua matanya yang sembab.


"Oh jadi aku sudah tua, baiklah," ujar Camel. "Kamu mulai menyebalkan. Kenapa kamu mau menikah dengan aku jika aku sudah tua?"


Santos hanya menanggapi pertanyaan Camel dengan senyuman, kemudian Santos melepas selang oksigen.


"Sayang kenapa di lepas?" tanya Camel kuatir.


"Karena aku sudah tidak membutuhkan benda ini lagi saat berada di sampingku sayang, karena kamu adalah nafasku," Jawa Santos.


Lalu menarik tangan Camel, agar wajah sang istri mendekat ke arahnya. "Tidak ada alasan untuk aku menikahi kamu sayang, bagiku kamu adalah segalanya," ucap Santos.


Tentu saja membuat Camel melayang tinggi mendengar ucapan dari sang suami.

__ADS_1


Dan Camel mendekatkan bibirnya ke arah bibir sang suami yang terlihat pucat tidak seperti biasanya, berniat untuk menciumnya, namun Camel urungkan saat ada yang masuk ke ruangan di mana dirinya berada.


Bersambung...............................


__ADS_2