Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 10


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


"Tuan mereka sudah berada di ruangan bawah tanah."


Viktor tersenyum miring mendengar ucapan anak buahnya itu. Ia menjauhkan koran yang dibacanya dan meletakkan di atas meja.


Lelaki itu mengambil jasnya dan mengenakan benda tersebut ke tubuhnya. Senyumnya terukir jahat. Ia berlalu sembari mengambil senjata api terbaik miliknya.


Sejenak Viktor mengamati benda tersebut lalu pergi dari tempatnya. Pria itu melewati banyak lorong di tempat rahasia tersebut.


Bisa dikatakan ini bak istana yang tersembunyi di balik hutan. Tidak ada yang tahu seluk beluk rumah ini bahkan anak buahnya sendiri.


Hanya dirinya dan asistennya yang tahu. Viktor menatap asistennya dan tersenyum sekilas. Sebelum membuka ruangan itu ia sudah membayangkan banyak hal di benaknya.


Pria tak berperasaan tersebut membuka gerbang yang terbuat dari jeruji besi. Di dalam bawah tanah ada satu keluarga yang dirantai tubuhnya menggunakan rantai besar yang biasanya untuk kapal.


Viktor mengamati mereka sejenak lalu berlalu dan duduk di kursi kebesarannya yang langsung menghadap mereka. Senyum khas Viktor yang sangat menakutkan membuat mereka menangis histeris.


"Tuan lepaskan saya, aku mohon!!"


"Hiks, hiks, lepaskan aku dan keluarga ku!!"


"Lepaskan ayah dan ibu ku!!"


"Kau bunuh saja aku tapi jangan keluarga ku!!" mohon mereka yang berlutut di depan Viktor.


Viktor menarik napas panjang dan terus tersenyum tak merasa iba sama sekali. Tubuh para tahanan Viktor itu penuh dengan darah dan luka.


Pria itu mengambil segelas wine yang sudah disiapkan untuknya dan meneguk cairan itu beberapa kali hingga tandas. Ia menatap gelas tersebut sudah kosong. Lama ia mengamati gelas itu sebelum ia mendongak menatap keluarga Louis yang sangat menggenaskan.


"Kau berani menantang ku, lalu hal apa yang cocok untuk diberikan kepada keluarga mu? Bermain-main sebentar mungkin lebih menyenangkan." Viktor tertawa dingin dan sikapnya lembut di awal namun seketika wajahnya mengeras dan melemparkan gelas di tangannya ke wajah Louis.


"Akhh!" Teriakan Louis yang merasakan pecahan kaca dari gelas tersebut di wajahnya.


"Hahahaha!!" Viktor tertawa sambil memukul pelan meja di sampingnya.


Melihat keluarga itu yang dalam belenggu rasa ketakutan membawa kepuasan bagi Viktor.


Ia berjalan lamban di depan mereka dan merendahkan tingginya agar sejajar dengan Louis yang bersumpah di lantai.


"Lihat diri mu sangat menggenaskan. Jangan salah kan aku, kau yang mencari masalah," ucap Viktor dengan senyum devil-nya.


"Bajingan kau Viktor!!" marah Luois dan hendak memukul Viktor tapi tangan dan kakinya dirantai hingga menyulitkannya untuk bergerak.


"Kenapa? Tidak bisa? Hahahha!" tawa Viktor lalu menampar keras pipi Louis.


"Papa!!" teriak tuan muda di keluarga Louis yang masih anak-anak.


Viktor menatap keluarga Louis yang lain dan ia tersenyum melihat istri Louis yang sangat cantik.


"Prima sepertinya kau akan bersenang-senang malam ini."

__ADS_1


Prima sang asisten yang paham pun tersenyum lebar dan menatap penuh nafsu kepada istri Louis. Tentu Louis tidak akan tinggal diam, ia berusaha melepaskan rantai yang mengikat tubuhnya tapi sayang tak semudah itu melepaskannya.


Marsya sang istri berteriak histeris, ia tidak ingin digilir. Perempuan malang itu menatap suaminya dengan pilu. Louis menggelengkan kepala memohon kepada istrinya agar tidak melakukan itu.


"Viktor lepaskan aku!!" mohon Marsya dengan tubuh bergetar.


"Aku sudah lama tidak memberikan makanan kepada anak buah ku, kasihan mereka sudah bernafsu, kau tinggal nikmati saja." Viktor dengan entengnya berucap.


Rantai yang mengikat tubuh Marsya dilepaskan. Bajunya hendak dilucuti, Louis membuang wajahnya tak berani menatap istrinya. Sementara Calvin tuan muda mereka terus menangis memanggil nama sang ibu.


"Kenapa kau membuang wajah seperti ini, kau tidak ingin melihat tubuh seksi istri mu? Ah, tidak apa kau masih dapat mendengar suara seksinya," ucap Viktor sambil menarik rambut Louis.


Ketika tubuhnya hendak dipaksa cepat Marsya mencuri pistol dari tangan Prima dan menembakkan ke dirinya.


Dor


Seluruh ruangan menatap ke arah sumber suara. Louis berteriak kencang melihat sang istri yang terjatuh ke lantai dengan darah bersimbah.


"Marsya!!"


"Ibu!!!"


Tangisan kesedihan keluarga tersebut memenuhi ruangan kedap bawah tanah ini. Viktor melirik sekilas ke tubuh Marsya dan menghela napas.


"Dia yang bunuh diri sendiri, bukan salah ku," ujar Viktor dan menatap tubuh malang itu, "sepertinya kalian hari ini tidak beruntung," kata Viktor kepada anak buahnya.


"Tuan masih ada anaknya," ucap salah satu bawahannya membuat Viktor sendiri terkejut.


"Kau ingin menyodomi anak kecil? Kau memang gila Prima, lebih dari ku," ujar Viktor sangat heran dengan jalan pikiran Prima.


"Kauu!!!" marah Louis sambil menggertak.


Viktor menatap Louis dan menyerahkan dokumen ke depan Louis.


"Tanda tangani itu."


Louis membaca setiap tulisan yang tertera di sana. Ia menatap Viktor tak percaya dan meremas kertas tersebut.


"Kau!!" marah Viktor dan mencambuk tubuh Louis.


"Aku tidak akan pernah menandatanganinya."


"Baiklah anak mu akan ku serahkan ke tangan Prima asisten ku, kau tahu kan dia akan melakukan apa?"


Louis menatap Prima dan menarik napas panjang. Ia terpaksa menandatangani dokumen itu yang artinya ia setuju seluruh hartanya diberikan kepada Viktor.


Viktor merebut kertas yang sudah ditanda tangani dan menatapnya tak percaya. Ia tertawa dan mengambil pistol anak buahnya dan menembakkan ke tubuh Louis.


"DADDY!!"


Viktor yang muak dengan teriakan serta tangisan bocah kecil tersebut lantas menembaknya beberapa kali. Ia tidak ingin anak itu lolos dan menjadi ancaman di masa depan.

__ADS_1


Viktor pergi dari ruangan itu begitu saja sambil tertawa girang melihat kertas yang sudah bertanda tangan. Itu artinya ia telah berhasil merebut kekayaan Louis dan sebentar lagi ia akan menjadi orang terkaya di dunia.


_________


Suara endapan kaki yang melangkah pelan penuh hati-hati menggema di ruangan sunyi.


Kepintaran serta kecerdasan yang dimiliki membuatnya cakap dan ahli dalam meneliti. Quenna dengan berani mencari celah kabur dari rumah besar ini.


Di saat semua orang pergi dan rumah ini sunyi karena yang lain sudah tertidur ia melakukan aksinya. Quenna memakai pakaian serba hitam agar serupa dengan gelapnya malam dan tidak lupa memakai cadar untuk melindungi wajahnya agar tak dikenali.


Perempuan itu tersenyum melihat kunci utama rumah ini. Ia menghampiri penjaga pintu belakang itu.


Quenna memukul leher mereka dengan benda keras hingga membuat kedua orang itu pingsan.


Tidak lupa Quenna mengantongi senjata yang diperoleh dari pengawal tersebut. Ia mengambil kunci dari salah satu pengawal dan cepat membuka pintu itu.


Quenna gembira ketika tahu sebentar lagi ia akan lari meninggalkan rumah ini. Ia dengan cepat melakukan aksinya hingga pintu tersebut berhasil dibukanya.


Perempuan itu berlari dengan senter ketika melihat halaman. Baru kali ini ia menyentuh rumput.


Tidak ingin menghabiskan waktu menikmati pemandangan yang menakjubkan ia mencari cara bisa kabur dari pekarangan yang dijaga ketat.


Quenna menarik napas panjang melihat tembok besar dan tinggi di depannya. Ia tak tahu cara untuk melewati tembok tersebut.


"Aku tidak mungkin berhenti di sini, pasti ada cara," yakin Quenna dan berusaha berpikir keras.


Ia cerdas makanya dirinya yakin bisa menemukan jalannya. Mata Quenna yang sembarang arah memandang melihat pohon besar di dekat tembok itu.


Ia tersenyum dan memetik jarinya di udara.


"Aku tahu apa yang harus ku lakukan," ujar Quenna dan berlari ke arah pohon tersebut.


Tentu tak semudah itu ia ke sana pasalnya banyak penjaga yang berlalu lalang di tempat itu.


Quenna melamun sebentar memikirkan cara menyingkirkan mereka. Quenna menatap senjata di tangannya, terpaksa ia harus membunuh.


Perempuan itu menembak mereka hingga pengawal itu berjatuhan. Quenna cepat berlari ke arah sana sebelum pengawal yang lain menyadarinya.


Quenna memanjat pohon itu dengan susah payah dan melompat ke atas tembok. Ia berbalik melihat banyak pengawal hendak mengejarnya.


"PENYUSUP!!!" teriak mereka dan menembaki Quenna tapi Quenna lebih dulu terjun dari tembok pembatas tak mempedulikan bagaimana nasib tubuhnya yang remuk.


Brakk


Quenna menahan napas harus merasakan sakit dari tubuhnya yang terhempas. Perempuan itu berusaha bangun dari lari teratih-atih.


"Akhirnya, terimakasih Tuhan. Aku bisa keluar juga dari tempat ini."


_________


Tbc

__ADS_1


__ADS_2