Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 32


__ADS_3

Heningnya malam begitu menghanyutkan. Suasana tenang hanyalah tipuan. Jutaan jeritan disembunyikan di dalam suara remang-remang.


Begitu tenang tapi sebenarnya mencengkram. Hawa penuh kengerian selalu serta di setiap helaan. Viktor mengamati wanita yang berbaring di atas ranjang nyaman terlelap bersama mimpi yang membawanya.


Tangannya dengan getir menyentuh kepala wanita itu. Ia merasakan seperti ada aliran listrik yang mengaliri tubuhnya ketika menyentuh lembutnya surai tersebut.


Semerbak wewangian khas wanita itu melekat di jemarinya. Viktor mendekatkan tangannya ke hidung dan menghirup aroma tersebut.


Sangat menenangkan dan kecanduan karenanya. Viktor meraih rambut wanita tersebut dan menghirup wanginya.


Sudah menjadi aroma terapi bagi dirinya. Pria itu tersenyum menatap kedamaian yang tergambarkan dari wajah itu.


Melihat Quenna terpejam dengan cantiknya membuat Viktor merasa jiwanya meronta meneriakan jika Quenna hanyalah miliknya seorang.


Ia menatap selimut wanita itu yang melorot. Tubuhnya kedinginan karena rendahnya suhu udara. Viktor menaikkan selimut Quenna sebatas dada.


Mengamati secara diam-diam di sini sudah membuat puas Viktor. Ia bahagia Quenna baik-baik saja.


Quenna yang sebenarnya sudah lama terbangun sengaja berpura-pura masih tertidur. Ia ingin membuktikan dugaannya dan ternyata benar jika ada orang yang telah masuk ke dalam kamarnya.


Dadanya berdetak tak karuan. Bahkan Quenna tak berani mengintip orang tersebut saking takutnya.


Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya, wanita itu membuka matanya dan kaget melihat orang tersebut.


Tubuhnya bergetar dan spontan hendak kabur. Viktor menyadari jika Quenna telah bangun menahan tangan wanita itu.


Wajahnya yang mengenakan topeng begitu selaras dengan sinar bulan yang memancar dari celah-celah.

__ADS_1


Quenna terpana dengan kakaknya. Ia bak Dewa hebat di bawah sinar rembulan. Quenna tidak bisa mengalihkan pandangan matanya. Ia terkunci akan sosok Viktor di depannya.


Sudah lama Quenna tak saling menyapa dengan kakaknya. Rasa rindu diam-diam menyelinap di dalam hatinya.


"Kakak," lirih Quenna dan hendak menjaga jarak dengan Viktor.


Perempuan tersebut sangat tidak menyangka jika Viktor bisa menemukan dirinya. Ia ingin heran tapi sadar pria itu adalah seorang Viktor, tidak ada yang mustahil baginya.


Tapi bagaimana pun Quenna masih sangat ketakutan dengan Viktor. Pria itu memiliki aura yang sangat mengintimidasi Quenna.


"Hm," jawab singkat Viktor yang tidak terfokus dengan ucapan wanita itu melainkan fokus dengan wajah cantik Quenna.


Ia tidak bisa memalingkan wajahnya, Quenna sangat cantik dan ia merindukan wanita tersebut. Quenna yang ditatap menundukkan kepala, tentu hal itu ditentang Viktor. Ia meraih dagu Quenna dan mengangkatnya.


"Kakak, kenapa kau ada di sini?"


Quenna menatap ke bola mata hitam Viktor. Ia susah sekedar untuk menghela napas menyangkal jantungnya yang berdebar sangat kencang.


Berada satu ruangan dengan Viktor membuat Quenna sangat sulit untuk bernapas seolah dirinya ditahan di tempat ini.


"Kak kau tidak menampar ku?" tanya Quenna dengan hati-hati takut Viktor akan melakukan hal yang seperti dilakukannya saat menghukumnya.


Viktor tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya. Matanya malah menatap perut besar Quenna. Quenna pun tersadar dan berusaha menutupinya dengan selimut.


"Bagaimana aku bisa marah pada mu?"


Quenna menatap wajah Viktor dengan raut tidak menyangka. Laki-laki itu menatap perutnya dengan terpana. Ia menyentuh perut besar tersebut dari balik selimut.

__ADS_1


Jujur saja Viktor masih canggung untuk menyentuh perut Quenna. Ia belum bisa beradaptasi dengan perut tersebut.


"Kau harus hidup sehat agar dia tidak kenapa-kenapa!!"


"Jangan sok perhatian padanya, dia bukan anak mu Kak," sangkal Quenna dan memalingkan wajahnya.


"Kau pikir aku bodoh. Quenna berhenti ingin menggugurkannya! Dia milik ku, kepunyaan ku tidak boleh dirusak dan diambil!!"


"Apa maksudmu?!" tanya Quenna tidak terima dengan ucapan Viktor.


"Belum jelas?"


Quenna tak dapat berkata-kata lagi. Ia membiarkan Viktor bermain dengan perutnya. Rasanya memang lebih nyaman dari sebelumnya. Wanita itu jujur takut kepada Viktor.


Mengetahui jika Viktor sudah melihat dirinya hamil membuat Quenna sangat takut. Ia tidak ingin kembali pada pria itu dan dikurung lagi.


"Aku akan menghukum mu!!"


Belum sempat Quenna ingin bertanya maksudnya, Viktor sudah lebih dulu menyerang Quenna dengan ciuman brutalnya.


"Aku menghukum mu dengan cara ini! Anggap ini balasan kau meninggalkanku!!"


__________


Tbc


Hay teman aku punya rekomendasi baru nih buat kalian. Dijamin bagus ceritanya, kalian bisa masukin ke favorit ya.

__ADS_1



__ADS_2