Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 64


__ADS_3

Keduanya sepakat berdamai dan menumpahkan perasaan masing-masing, bersama-sama melawan ego yang terus berhasrat ingin muncul ke permukaan.


Akan tetapi keduanya berhasil menenggelamkan ego tersebut. Dan di sini lah keduanya berakhir. Bersama-sama menunggu Celine untuk sadar meskipun hal itu sangat tak mungkin terjadi. Kesehatan Celine sangat genting, wanita yang sudah berumur serta mengalami gangguan mental, dan penyakit luar masih belum terhitung. Hanya ajal yang mungkin segera akan menjemput. Bekas luka tembakan yang mengenai jantung sukar membuat jantung tersebut berdetak dengan normal.


Quenna senantiasa menunggu bersama Viktor. Ia tak pernah berhenti melayani pria ini dengan segenap hati.


Menjadi wanita yang paling pengertian kepada pria tersebut. Dan Viktor sangat beruntung memilikinya. Wanita tersebut berjalan dengan baju tebalnya menghampiri Viktor dengan sebuah gelas di tangan wanita tersebut.


"Minumlah, aku sudah susah payah membuatkan untuk mu. Rempah-rempah yang telah aku racik ini sangat berguna untuk menghangatkan tubuh, ini juga impor dari negara di bagian Asia." Viktor melirik Quenna dan meletakkan berkas yang sedari tadi menjadi temannya.


Pria itu tersenyum penuh arti dan menyeruput minuman tersebut. Memang sensasinya sedikit panas dan menghangatkan tubuh sangat cocok di musim salju ini. Pria itu bergidik bahu dan meletakkan cangkir yang isinya telah berkurang setengah.


"Lumayan, aku sangat menyukainya. Mungkin kapan-kapan aku akan meminta lagi," kekeh Viktor dan menarik Quenna ke dalam pelukannya.


Laki-laki tersebut mendekap Quenna dengan sangat erat. Ia meletakkan kepalanya di kepala wanita tersebut lalu memandang kosong ke depan tepatnya ke arah jendela melihat salju yang turun di luar sana.


"Bahkan kau saja belum menghabiskannya dan malah ingin meminta lagi," kekeh Quenna dan mengusap dada bidang pria tersebut.


Tak pernah terpikirkan olehnya kakaknya yang dulu sangat ia sayangi dan pernah bercita-cita ingin menikahinya lalu keinginan waktu kecil itu pun terwujud, belum sepenuhnya karena mereka belum menikah.


Viktor mengusap surai lembut Quenna sembari sesekali mengecup kepala perempuan itu dengan hikmat. Ia menarik napas panjang dan melirik wanita itu.


"Sepertinya kau sedang mengkhawatirkan sesuatu."


Diam-diam Quenna tersenyum kecil. Wanita itu mengeratkan pelukan di tubuh Viktor.


"Hanya ada gangguan sedikit." Perempuan tersebut mendongak dan netra mereka bertubrukan.


Jantung Quenna mencelos harus saling pandang dengan netra indah milik pria itu. Ia sangat gugup karena jarak wajah mereka yang sangat dekat. Baru kali ini ia ditatap dengan lembut oleh Viktor tak ada lagi sorot ancaman dengan embel-embel akan menghukumnya dengan cambukan maupun tamparan.

__ADS_1


"Boleh aku mengetahui gangguan seperti apa?"


"Aku sedang memikirkan kita ke depannya. Apakah hubungan ini akan terus begini selamanya, apakah kau tidak ada niat ingin menikahi ku?" Viktor tersentak dan terdiam cukup lama. Ia belum sempat berpikir jauh ke sana yang hanya dipikirkan oleh pria itu dulu bagaimana mendapatkan cinta Quenna.


Sekarang ia telah mendapatkannya dan memang sepantasnya hal yang harus ia lakukan sekarang adalah menikahi wanita itu.


Quenna memandang wajah Viktor yang tak menunjukkan jawaban apa pun. Ia tertunduk lesu dan membayangkan nasib Carol yang semakin hari akan semakin mengerti.


"Aku belum sempat berpikir ke sana, tetapi aku berjanji kepadamu akan menikahi mu secepatnya." Viktor mana mungkin mengkhianati ucapannya, sekiranya itulah yang tengah dipikirkan benak Quenna.


"Aku harap secepatnya. Tidak mungkin Carol seperti ini terus tak mendapatkan status ayah sesungguhnya."


"Itu hanya di atas kertas. Aku sungguh ayah biologisnya, tanpa embel-embel surat tak jelas itu mereka pasti tahu bahwa Carol adalah anakku. Secara kita berdua sangat mirip."


"Kau tidak akan mengerti," decak malas Quenna dan memberi jarak dengan pria itu. Ia mengercutkan bibirnya, Viktor sungguh tak mengerti dengan perasaan perempuan.


Pria itu memang kurang peka, wanita tidak mungkin tahan digantung dengan hubungan yang tak jelas.


___________


Seakan ditusuk ribuan jarum kecil. Sangat menyiksa fisiknya. Wanita tersebut meringis di dalam kamar mandi. Ia sedang mencuci tangan tapi entah kenapa tiba-tiba tubuhnya tak nyaman.


"Apa aku sudah begitu tua hingga penyakitan seperti ini?" Bukan pertama kalinya Quenna dalam mingguan ini mengalami hal yang sama.


Akan tetapi belum sempat ia ingin meminum obat atau ke rumah sakit selalu saja sakit itu hilang entah kemana.


Wanita itu menyentuh kepalanya dan memijat pelan sembari merapalkan doa agar sakit itu segera diangkat. Tapi tampaknya itu tak berhasil.


Kali ini sakit itu lebih ganas dari sebelumnya. Ia tak sanggup menahannya lantas tubuh wanita itu limblung jatuh ke lantai sembari meringis kuat.

__ADS_1


Viktor yang sedang bekerja di luar terkejut mendengar benda terjatuh dari dalam toilet. Segera ia membuka toilet tersebut dan betapa kagetnya ia melihat sang istri yang terbaring di lantai sambil terisak-isak dan mengumandangkan kata sakit.


"Astaga, Quenna." Viktor mengangkat tubuh wanita itu dan membaringkan ke kasur yang ada di dalam kamar tersebut. Jadi di dalam ruangan rumah sakit itu ada lagi kamar untuk pengunjung atau keluarga pasien yang ingin menginap.


"Kak, Kakak i-ini sa-sangat sa-sakit," ujar Quenna terbata-bata sembari mencengkram kuat kepalanya. Sakit itu benar-benar menghentikan tubuhnya beroperasi.


"Tenanglah, aku akan menghubungi seseorang secepatnya." Viktor memencet bel darurat. "Seharunya secepatnya dokter akan sampai.


Benar belum sempat semenit dokter beserta suster telah berdiri di depan pintu.


"Ta-tapi Kak, ini sangat sakit. Aku tidak akan mungkin cepat bisa menahannya.'


"MASUKLAH, JANGAN SAMPAI AKU MEMATAHKAN KAKI MU ATAS KELELETAN MU ITU, CEPAT PERIKSA WANITA KU!"


Dokter itu pucat pasi. Ia tak berani mendengar ancaman yang keluar dari mulut Viktor pasalnya itu bukan candaan akan tetapi kenyataan yang akan membawanya pada maut.


Sempat berpikir orang ayang akan diselamatkan adalah Celine tapi sungguh ia tak menyangka ada wanita lagi di dalam ruangan ini.


Orang tersebut yang merupakan dokter umum memeriksa keadaan Quenna. Wajahnya mengerut dan raut cemas Viktor pun semakin waspada.


Pria itu sungguh tak sabar ingin mendengar hasilnya. Ia mencengkram kerah baju dokter itu dan mengacungkan pistol di kepala pria tersebut.


"KAU!! KATAKAN!!"


"Tu-tuan maafkan saya. Saya akan mengatakannya. No-no-nona ini sedang hamil." Viktor spontan melepaskan cengkeramannya. Ia melirik Quenna yang terus meringis memegangi kepalanya serta perutnya.


Viktor yakin jika wanita itu tidak mendengarnya. Ia menarik napas panjang dan menyuruh dokter itu keluar. Ia bukan tak terima hanya saja wajahnya belum sungguh-sungguh belum percaya.


______________

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2