
"Kakak, tebak anak kita nanti perempuan atau laki-laki?" tanya seorang gadis bersemangat sembari mengelus perutnya yang tampak sedikit menonjol.
Lalu si pria yang pura-pura seakan-akan tengah berpikir itu tersenyum-senyum membuat si wanita salah tingkah. Pria ini gemas dengan tingkah laku wanitanya. Ia mencubit pipi si perempuan yang sedikit chubby di masa kehamilannya.
"Gemas banget sih, cantiknya siapa nih?" goda pria itu sembari mengelus pipi yang baru saja dicubitnya.
Wanita itu menyingkirkan tangan laki-laki tersebut dengan marah tapi terlihat malu-malu. Ia membuang wajahnya yang memerah lalu tertawa saking tak tahan menyembunyikan senyumannya.
Laki-laki itu lantas juga ikut tertawa melihat wanitanya yang salah tingkah. Ia menarik tangan perempuan tersebut dan membawa tubuh kecilnya ke dalam dekapannya.
Pria itu sengaja mengeratkan pelukannya hingga wanita itu berteriak histeris karena tubuhnya serasa remuk dihimpit kedua tangan kekar laki-laki tersebut.
"KAKAK SAKIT!! LEPASKAN, KAKAK!!"
"TIDAK MAU!" Melihat wanita tersebut yang benar-benar kehabisan napas membuat rasa iba juga di hatinya. Laki-laki tersebut lantas menatap wajah wanita itu dengan hikmat sembari tersenyum puas.
"Aku tidak peduli anak kita laki-laki atau perempuan lagi, yang penting dia anak ku dan aku bahagia dia lahir dari rahim mu," ujar pria tersebut dan menyampirkan anak rambut yang menggangu mata wanita itu.
Sang wanita tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia sangat senang orang yang menjadi ayah dari anak di kandungnya ini adalah orang yang sangat dicintainya dan bisa menerima semua kekurangannya.
Meskipun di dalam hatinya menginginkan seorang anak laki-laki akan tetapi ia memendam keinginannya tersebut. "Kakak aku mencintaimu!!"
Wanita itu menyerang bibir Viktor dengan ganas membuat Viktor yang belum siap terkejut kemudian terjatuh ke kasur. Ia membiarkan adik kecilnya tersebut memimpikannya.
Wanita itu melepaskan tautan bibir mereka lalu tersenyum menatap suaminya dengan jarak hanya beberapa senti. Ia mengecup sekilas bibir pria di bawahnya itu.
"I love you," ujar Viktor lalu selanjutnya terjadilah pertempuran ranjang.
Hos
Hos
Hos
Viktor terbangun dari mimpinya dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menyibak selimut yang dikenakannya lalu berdecak malas melihat sesuatu yang mengalir dari pangkal pahanya.
Lagi-lagi ia bermimpi basah. Hampir setiap hari ia memimpikan kejadian seperti itu dan Viktor selalu merasa jika wanita yang ada di mimpinya tersebut adalah wanita yang sama.
__ADS_1
Ia memang tak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas tetapi Viktor meyakinkan dirinya sendiri jika perempuan itu adalah wanita yang sama di setiap mimpinya yang lain.
Bahkan sampai-sampai Viktor tak bisa menaruh hatinya dengan wanita lain. Ia merasakan ada perasaan berbeda dengan wanita yang ada di mimpinya itu.
Tapi jika ia mencintai wanita yang ada di mimpinya itu akan sampai kapan rasa cintanya? Itu bukankah hanya bunga tidur dan tak mungkin perempuan tersebut menjadi nyata.
"Huft!!! Aku sepertinya sudah gila, bisa-bisanya hanya dengan memikirkan wanita itu aku bisa senafsu ini. Oh Tuhan siapakah wanita yang kau kirimkan ke mimpi ku." Viktor belakangan ini lebih suka tertidur karena ia bisa bertemu dengan wanita yang ia cintai di dalam mimpinya.
Meskipun terkesan konyol akan tetapi itulah seorang Viktor dengan kekonyolannya. Tidak tahu kisah ini akan berkahir sampai di mana, yang jelas Viktor hanya menginginkan wanita di mimpinya itu.
Viktor mendengar ada suara pintu dibuka. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya dan melihat sang ibu yang mengenakan kursi roda menghampirinya.
Viktor tercekat karena ia dalam kondisi yang sangat tidak pantas. Ia menarik selimutnya dan cepat menutupi tubuh bawahnya.
"Ibu," gumam Viktor dan tersenyum canggung kepada Celine yang kaget melihat keadaan anaknya.
Ia tersenyum dan mengabaikan itu. Wanita tersebut mendekat ke ranjang Viktor dan menatap Viktor penuh arti.
"Ada apa? Aku mendengar kau tadi mengigau... Kau bermimpi apa lagi?"
Viktor tidak pernah menceritakan mimpinya dan wanita itu yang ada di dalam mimpi. Ia malu tak ingin ibu kandungnya ini mengetahui mimpinya.
"Tidak perlu, aku bisa ke kamar ku sendiri. Jika ada sesuatu katakan saja pada ku. Aku hanya ingin melibat keadaan mu saja." Celine tersenyum dan pergi dari kamar Viktor.
Viktor baru bisa menghembuskan napas lega. Ia berdecak malas melihat kasurnya penuh dengan cairan putih. Namun rasa kesalnya tak berlangsung lama ketika mengingat wajah polos wanita yang ada di dalam mimpi itu.
"Kau sungguh menggairahkan."
______________
Quenna menatap keindahan taman belakang yang ada di rumah Rigel dengan pandangan kosong. Meskipun beragam tanaman indah tertanam di taman itu tak membuat suanasana hati Quenna seindah tanaman tersebut.
Ia duduk di bawah rimbunnya pohon sakura yang menggugurkan daunnya di musim gugur.
Satu kelopak bunga jatuh ke kepalanya dan wanita itu menjemputnya lalu melihat bunga sakura tersebut dengan senyum mengembang.
"Bunga yang indah," puji Quenna tetapi memiliki makna yang sangat dalam.
__ADS_1
Ia ingin seperti bunga itu yang bebas. Namun menatap bunga sakura mengingatkan dirinya dengan Viktor yang sangat menyukai tokoh Sakura di dalam anime Naruto.
Viktor lagi. Seakan tidak ada bosannya ia memikirkan kaki-kaki tersebut.
"Aku tak tahu kabar mu, ku harap kau masih hidup," ucap Quenna dan meniup kelopak bunga yang ada di tangannya.
Perempuan tersebut mengehela napas panjang lalu menatap ke atas dahan pohon sakura tersebut. Ia mendahkan tangannya menyambut bunga-bunga yang akan gugur.
"Viktor. Aku sungguh merindukanmu," lirih Quenna dak menitikkan air matanya.
Ia benci menangis seperti ini. Ia ingin menjadi wanita yang kuat akan tetapi alam seolah tengah mengejek dirinya. Karena hati dan respon fisiknya tak sejalan.
"Kau bisa tidak membicarakan dia sehari saja?" marah seseorang yang baru saja datang dan mengintimidasi Quenna dengan tatapan tajamnya.
Tangan pria itu di bawah sana mengepal kuat dan napasnya memburu karena amarah yang tidak terbendung.
Quenna membuang wajahnya. Kenapa setiap ia ingin menenangkan diri selalu saja orang ini menganggu kesenangannya.
"Quenna! Kau mendengar ku tidak?" marah Rigel yang merasa dirinya diabaikan.
"KAU TAHU AKU TIDAK AKAN PERNAH MENYUKAI MU!!! HENTIKAN PERNIKAHAN INI DAN PULANGKAN AKU KE AMERIKA BAJI.NGAN!!!" Quenna menarik napas panjang setelah mengatakan unek-uneknya dengan lantang.
Wanita itu menghapus air matanya kasar lalu kembali menangis lagi lebih histeris. Ia memukuli dirinya dengan kencang.
"Jika tahu begini lebih baik aku tidak akan pernah menolong mu dulu, hiks hiks hiks!!"
"Apa maksudmu?" tanya Rigel lalu tertawa miris meratapi dirinya yang tak pernah diinginkan.
Rigel mencengkam dagu Quenna dan mencondongkan tubuhnya. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Rigel menyeringai sedangkan Quenna ketakutan.
"Memang yang paling benar adalah menghukum mulut manis mu ini." Rigel langsung menyerobot bibir Quenna dan menciumnya dengan brutal.
Ia tertawa kesenangan berbeda dengan Quenna yang menangis ketakutan sambil memukuli tubuh pria yang paling dibencinya ini dengan kuat, tetapi bagi Rigel itu tidak terasa apa-apa.
________
tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.