
Viktor menatap tajam Quenna yang hendak menyakiti dirinya sendiri. Pria itu memberikan isyarat kepada penjaganya untuk melepaskan Ana.
Ia berlari ke arah Quenna dengan panik dan membuang serpihan kaca tersebut. Ia mengusap darah yang keluar dari tangan Quenna dengan jasnya.
"Kenapa kau melakukan itu? Kau tidak boleh pergi tanpa seizin ku," marah Viktor dan merutuki kebodohan adiknya tersebut.
Quenna diam dan tak berucap sepatah kata pun. Ia menarik napas lega melihat Ana dilepas. Ia berlalu dengan teratih-atih begitu saja melewati Viktor dengan tangis bahagia.
Ia memeluk tubuh Ana dengan erat. Ia senang wanita ini tidak kenapa-kenapa, Quenna tak ingin karena dirinya orang lain menjadi korban.
"Kau tidak apa?"
Ana yang histeris menggeleng kuat. Ia masih trauma dan gugup dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Perempuan itu memeluk tubuh Quenna sangat erat.
Quenna menarik napas dan menenangkan Ana. Mendengar tangis Ana yang mereda rambut Quenna lega.
Ia menatap Viktor yang mengamati mereka. Ia menarik napas dan menghampiri pria itu. Ia meminta asisten Viktor dan Ana meninggalkan kamar ini.
Viktor mengizinkan mereka dan lelaki itu lantas menatap Quenna dengan wajah menunggu.
"Sekali lagi kau ingin membunuh orang cuma-cuma, maka kau benar-benar akan melihat mayat ku!" ancam Quenna, ia tak tahu apakah berhasil atau tidak yang penting ia telah melakukan yang terbaik.
Viktor mendekati Quenna dan tidak berbicara sepatah kata pun. Ia meraih tangan Quenna dan menatap bekas goresan tadi. Pria itu mengecupnya dan menyobek sedikit bajunya dan membalutkan ke tangan Quenna.
Quenna terperangah dengan apa yang dilakukan Viktor. Ia menatap pria itu terkesima tidak percaya.
"Begini lebih baik," kata Viktor sambil menatap tersenyum ke arah balutannya.
"Kakak, aku lelah ingin tidur."
Viktor melihat Quenna dan menarik napas. Ia mengangguk dan mengangkat tubuh Quenna ke atas ranjang.
"Tidurlah."
Baru saja Quenna ingin memejamkan matanya tiba-tiba ia merasakan seseorang membuka bajunya dan ternyata itu adalah ulah sang kakak.
"Kak apa maksudmu?" tanya Quenna yang tidak mengerti dengan sang kakak.
Ia berbalik dan berusaha menghindar dari pria itu. Viktor menarik napas dan mengambil salep.
"Luka mu harus diobati jika tidak akan infeksi," imbuh Viktor dan sibuk mengoleskan gel itu ke tubuh Quenna.
Diam-diam Quenna tersenyum dan ingat dengan masa lalunya kala ia dulu nekat minta diajarkan bermain sepeda oleh kakaknya. Tapi, ia malah terjatuh dan Viktor cepat mengobati lukanya.
Sekarang Viktor persis dengan Viktor yang dulu. Ia sangat merindukan kakaknya.
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah mendapatkan harapan mu," ujar Viktor yang mengerti kemana pikirin Quenna. "Tidurlah. Aku tidak meminta mu hari ini."
Viktor mengecup dalam dahi Quenna. Ia menarik selimut ke tubuh Quenna dan memberikan kenyamanan untuk wanita itu.
Viktor pergi dari kamar tersebut meninggalkan Quenna yang masih bergelut di pikirannya. wanita tersebut tertawa hambar, entahlah ia tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang.
Quenna mengambil selembar foto keluarga yang disimpannya dan menatap benda itu lama.
"Kenapa kau berubah seperti itu Kak? Ke mana diri mu yang dulu?" Quenna bergumam kepada dirinya sendiri.
Ia menatap langit-langit kamar, ia berharap ada harapan, tapi nyatanya hanya angan-angan.
Entah sampai kapan aku menunggu keajaiban itu.
_________
Viktor membuka pintu ruang kerjanya. Ia duduk di kursi dan melamun beberapa saat. Benaknya berkecamuk dan itu menyulitkannya untuk berpikir jernih.
Viktor menarik napas panjang dan menyilangkan kakinya. Quenna, satu nama yang berhasil mengubah dunia dan sifat Viktor.
Ia berubah karena adiknya, tapi ia tidak menyalahkan Quenna karena itu semua keinginannya. Ia tak menyesal tapi merasa puas dengan dirinya sendiri.
Quenna yang manis, adiknya, yang mampu menyihir Viktor. Ia tak pernah menyangka akan jatuh ke dalam pesona Quenna.
"Kau sekarang mengeluh, padahal semua ini karena mu. Andai kau tidak semanis dan bertanya seperti itu. Kau memaksaku untuk mewujudkan keinginan mu, sekarang kau menyesalinya ketika aku sudah terlampau jauh," gumam Viktor sambil menerawang masa lalu.
Viktor yang sibuk dengan game onlinenya menatap sang adik. Ia mengerutkan keningnya mengapa adiknya itu datang malam-malam.
Ia menatap layar ponselnya dan menghela kecewa ternyata ia kalah karena kelengahannya. Viktor tak mungkin menyalahkan Quenna.
Ia menjauhkan ponselnya dan mendekati sang adik. Ia menggendong Quenna dan meletakkan di pangkuannya.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Viktor tidak mengerti.
Ia sambil menciumi pipi Quenna yang gembul tersebut. Quenna terkikik dengan aksi sang kakak.
"Quenna kangen Kakak. Quenna mau tidur sama Kaka."
Viktor tertawa dan mengusap kepala Quenna. Ia mengamati bocah yang sangat menggemaskan itu.
"Jika Bunda tahu kau berbuat seperti ini, dia akan marah," ucap Viktor yang menakut-nakuti sang adik.
Quenna berpikir sejenak lalu wajahnya berubah gembira, "kan yang juga kena marah Kaka."
"Aishh kau ini bisa saja bocah kecil," kesal Viktor dan menjentikkan jarinya ke dahi Quenna.
__ADS_1
"Auu Kaka sakit."
Viktor membaringkan Quenna ke atas kasurnya dan menggelitiki perut bocah tersebut. Quenna kecil tertawa gelak dan berusaha menghindari sang Kaka tapi tak bisa.
"Hahahaha Kakak hentikan!!"
Viktor menarik napas dan menghentikan perbuatannya. Ia mengusap peluh sang adik.
"Kau sepertinya sangat kelelahan. Ah ya Quenna, jika kau sudah besar seperti ku kau tidak boleh tidur dengan ku lagi."
Wajah ceria Quenna padam begitu saja. Ia menatap sang kakak berkaca-kaca.
"kenapa?"
Viktor tersenyum tulus, "perempuan dewasa tidak boleh tidur dengan laki-laki dewasa. Kita bukan suami istri jadi tak boleh. Jika kau tak percaya tanya saja Bunda."
Quenna menangis kencang dan memukuli wajah Viktor dengan tangan kecilnya.
"KAKA! QUENNA MAU TERUS TIDUR SAMA KAKAK!! KALAU GITU QUENNA MAU NIKAH SAMA KAKAK AJA!!" tangis Quenna yang mengamuk.
"Tidak bisa Quenna kau harus menikah dengan pria yang dicintai mu, bukan Kaka."
"Tapi Quenna cuman cinta sama Kaka dan Ayah. Berarti Quenna bisa nikah dengan Kakak, kata Kaka Quenna harus menikah dengan orang yang dicintai Quenna, kan?"
Viktor sudah kehabisan kata-kata, ia bingung bagaimana cara merespon sang adik. Ia menarik napas panjang dan terpaksa mengangguk mengiyakan ucapan sang adik supaya Quenna tak menangis lagi.
Quenna langsung menghapus air matanya dan memeluk tubuh Viktor dengan gembira.
"Quenna sayang kakak." Quenna mengecup sebentar bibir sang kakak.
Deg
Dada Viktor langsung berdetak kencang. Ia tidak mengerti dengan respon tubuhnya yang sangat aneh. Ia menyentuh dadanya dengan kaku. Ada apa dengan perasannya?
Ia menatap wajah Quenna yang sudah sangat cantik di usianya. Viktor meneguk ludahnya gugup dan membuang pandangannya ke lain arah.
Viktor tertawa kecil. Itu adalah awal ia jatuh cinta dengan sang adik. Gila memang tapi itu kenyatannya, Viktor terobsesi dengan adiknya.
Ia beranjak dari tempatnya dan menatap dirinya di depan kaca. Ia membuka topengnya dan menatap dirinya di dalam kaca tersebut.
Viktor menyentuh bekas luka yang sangat parah di wajahnya akibat lemparan benda keras dari Gibran saat malam itu.
Ia malu dengan wajahnya dan ingin menyembunyikan bekas luka itu dengan topengnya. Ia tidak ingin Quenna menjauhinya dan tak menyukainya karena bekas luka ini.
Viktor memasang kembali topeng tersebut dengan wajah dingin.
__ADS_1
________
Tbc