
Jangan lupa like dan Komen, harap koreksi typo ya kadang gak nyadar nulisnya meskipun sudah dibaca ulang.
_______________
Bughh
Rigel menghajar Viktor dengan keras. Pria yang menjadi korban pun membulatkan matanya. Ia menyentuh pipinya yang terasa pedas.
Tangan Viktor mengepal atas penghinaan Rigel. Ia pun maju dan membalas perbuatan Rigel. Sejenak perkelahian pun terjadi, ketegangan di antara keduanya menyebabkan aksi saling serang.
Prima memimpin bawahannya untuk menyerang anak buah Rigel. Suara tembakan memenuhi ruangan yang hendak roboh karena bom besar tadi.
Rigel menembakan beberapa timah panas ke arah Viktor dan dapat dielak oleh laki-laki tersebut. Viktor berlindung pada barang-barang di rumah itu, ia menyembulkan kepalanya dan membalas serangan Rigel.
Rigel tertawa sinis menatap Viktor dan mendekati laki-laki tersebut. Tatapan meremehkan dari Viktor tak kalah mengintimidasi. Mereka memiliki aura masing-masing tapi sama-sama mengerikan.
"Hari ini kita akan buktikan siapa yang hebat diantara kita!! Viktor aku tidak akan melupakan kau yang sudah menghancurkan industri ku di California!!" geram Rigel yang sudah menyimpan sangat dalam dendamnya kepada Viktor.
"Ck... Aku turut berduka cita. Entahlah ini kabar buruk atau baik untuk ku!" remeh Viktor dengan suara mengejek.
Rigel tertawa dan mendekati Viktor. Mereka beradu tatap dengan tegang. Ditambah suara tembakan di luar membuat ketegangan semakin menjadi. Tidak tahu sudah berapa banyak mayat terkapar dan lantai serta tanah sudah menjadi lautan darah.
"Aku akan membunuh mu hari ini!!"
"Lakukan saja kalau kau bisa, atau aku akan yang membunuh mu!!" Viktor menembak secara tiba-tiba perut Rigel membuat pria itu memuntahkan darah.
Ia terkejut dan memegang perutnya. Laki-laki tersebut menggeram kuat dan mengejar Viktor yang sudah melarikan diri.
"BAJI.NGAN!!" Rigel melepaskan puluhan tembakan ke arah Viktor yang berlari sembari memasang wajah mengejek.
Viktor bersembunyi dan menembakan pelurunya lagi kala melihat Rigel yang sedang berjalan mencarinya.
Rigel yang peka akan tembakan langsung mengelak dan melakukan balasan kepada Viktor.
Dor
Dor
Dor
Dor
Barang-barang di rumah itu porak poranda dan semuanya hancur dari barang pajangan hingga barang berharga sekalipun.
Keduanya sama-sama menarik napas sembari memikirkan trik untuk saling mengalahkan. Viktor mengamati Rigel dengan jeli dan mencari titik kelemahannya.
Begitupula yang dilakukan Rigel, ia mengepalkan tangannya untuk menahan sakit di area perutnya.
"Kau tidak ingin menyerah? Ku lihat kau sudah sangat lemah," sindir Viktor dan berdiri tegap.
Dor
__ADS_1
Tembakan tiba-tiba dari Rigel membuat Viktor lengah hingga timah itu bersarang di kakinya.
Viktor yang masih mendesis tak menyadari jika Rigel melemparkan kursi ke dirinya.
"Bangs.at!!" lirih Viktor sembari berusaha untuk bangkit.
Ia melihat moncong pistol di kepalanya sementara tangannya diinjak oleh pria itu hingga membuat Viktor tak dapat meraih pistolnya.
Ia memandang pistol kepemilikannya tersebut ditendang oleh Rigel.
"Kau keras kepala, tidak ingin menyerah dari ku?"
"Aku tidak akan menyerah kepada orang bajing'an seperti mu!" timpal Viktor mentah-mentah dan meludah di bawah kaki Rigel.
"Ingat kau juga sama baji.ngan seperti ku!"
Viktor menatap malas pria tersebut. Ia tak memiliki rasa takut dibawah senjata yang kapan saja siap menjemput nyawanya itu.
"Tuan!! Polisi datang!!" lapor salah satu diantara anak buah mereka.
Rigel menoleh ke arah sumber suara. Telinganya bergerak mendengar suara sirine polisi. Ia pun melepaskan Viktor dan berlari mencari tempat persembunyian.
Dor
Rigel membalikan tubuhnya kala mendapatkan tembakan lagi dari Viktor yang berusaha bangkit sambil mengacungkan senjata padanya.
Kenzo membulatkan mata, ia menyuruh tuannya Rigel kabur terlebih dahulu sementara ia yang akan menangani Viktor.
"Tuan pergilah lebih dulu! Aku yang akan menghadapinya!"
"Tenang saja Tuan!"
Pertengkaran bersenjata itu pun akhirnya dimenangkan oleh Viktor. Kenzo harus meregang nyawa setelah mendapatkan lima kali tembakan di kepalanya.
Viktor menarik napas panjang dan berjalan teratih-atih. Ia yang sudah sangat sekarat dan tubuh penuh dengan bercak darah tersebut memutuskan untuk mencari tempat perlindungan dan keluar dari tempat ini.
"Berolahraga sebentar memang menyenangkan."
____________
Ini adalah 2 Minggu setelah ia kabur dari Tokyo dan pergi ke Inggris. Kehidupan di sini tanpa ada kerabat lebih merepotkan.
Quenna harus mati-matian untuk mencari penginapan dan pekerja yang cocok dengannya. Nyatanya sampai sekarang ia tak menemukan satupun perusahaan yang mau menerimanya, apalagi dengan kondisi ia yang sedang hamil.
Quenna duduk di salah satu kursi di jalan. Ia menatap penuh letih ke jalan yang sangat ramai.
Ia menundukkan kepala dan menatap berkas-berkas di tangannya yang merupakan surat lamaran pekerjaan dan beberapa data pribadi miliknya.
"Apakah hidup ku akan berakhir di Inggris?" lirih Quenna yang sangat kelelahan.
Ia belum makan apapun. Perutnya masih kosong, sementara ia tak memiliki uang lagi untuk membeli makanan.
__ADS_1
Quenna harus bisa belajar cara hidup hemat tidak menghamburkan uang. Ia akan menahannya, sebentar lagi.
"Kau tidak marah pada ku kan belum memberikan mu makan?" tanya Quenna kepada anaknya di dalam perut.
Anak itulah yang selama ini memberikan semangat kepada Quenna untuk tetap bertahan. Ia sangat menyayanginya.
Quenna menghirup udara sebanyak mungkin dan bertekad untuk mencari perusahaan lain yang barangkali bisa menerimanya.
Satu-satu perusahaan ia masuki dan semuanya menolaknya karena ia tak memiliki beberapa surat tanda kelulusan.
Banyak berkas-berkas yang ia kurang. Quenna harus menerimanya dengan pasrah. Ia berjalan pelan dengan kaki yang sudah lemah tak tau tujuan akan kemana.
Pekerjaan tak ada satupun ia dapatkan, tapi uang untuk menaiki kendaraan transportasi sudah banyak ia habiskan.
Alhasil Quenna pun harus pulang berjalan kaki. Air mata menetes dari wajahnya. Ia bisa saja bertahan tapi apakah anaknya di dalam sana mampu menerima semuanya? Ia butuh asupan makanan yang banyak, sementara sang ibu belum mendapatkan uang untuk biaya perawatan sang bayi di dalam perut.
Quenna yang larut dengan dunianya sendiri tak sengaja menabrak seseorang dan membuat orang itu menggeram.
"Maafkan saya Tuan!" lirih Quenna dan memunguti berkas pria tersebut dan memberikannya.
"Kau tak punya mata?"
"Saya punya. Maafkan saya Tuan."
Lirihan Quenna sepertinya tak memengaruhi orang tersebut. Ia menatap Quenna dari atas hingga ke bawah dengan pandangan penuh teliti. Sedangkan untuk wajah, dia tak memiliki eksepsi sedikitpun.
Quenna yang ditatap seperti itu merasa tak nyaman. Ia tersenyum dan memberikan ucapan perpisahan.
"Eumm... Tuan saya harus pergi sekarang!"
"Begitukah cara mu ingin meminta maaf?"
Quenna merasa tertohok dengan ucapan pria tersebut. Ia tersenyum canggung dan menatap laki-laki itu meminta pengertian.
"Kau membutuhkan pekerjaan?"
Quenna berbinar mendengar ucapan pria tersebut. Ia mengangguk membenarkan dan berharap kaki-kaki ini bisa menolong dirinya.
"Ya, saya sangat membutuhkannya!"
Orang itu tersenyum miring dan menatap puas kearah Quenna. Ia mengeluarkan kartu namanya dari kantong jas dan menyerahkan kepada Quenna.
"Kau bisa menghubungi nomor ini dan datang ke alamat ini jika kau setuju dengan pekerjaan mu!"
Quenna mengernyitkan keningnya melihat kartu tersebut. Ia mengangguk bercampur bingung.
"Terimakasih Tu.." Belum sempat Quenna menyelesaikan ucapannya orang itu telah berlalu dari hadapannya.
_____________
Tbc
__ADS_1
Hay teman aku punya rekomendasi baru nih buat kalian. Dijamin bagus ceritanya, kalian bisa masukin ke favorit ya.