
Rigel membenarkan letak syal di lehernya terlebih dahulu. Pria itu berjalan dengan ragu-ragu menghampiri seorang anak gadis yang sangat imut dengan pipi chubbynya serta tatapan polos yang mengarah kepadanya.
Bibirnya gemetaran dan tangannya pun sama bergetar. Laki-laki itu menyentuh tubuh mungil anak kecil tersebut. Bak disengat ribuan vol listrik, Rigel terpukau dengan paras milik Carol. Wajah anak itu sekilas diamati sangat mirip dengan Quenna dan Viktor. Lantas Rigel berbalik memandang Quenna.
"Ini anak yang dulu ku jaga saat ia dalam kandungan?" Rigel mantap Carol sekali lagi.
Ia tersenyum simpul kepada anak itu yang juga dibalas oleh Carol. Lelaki tersebut begitu syok dengan rangakaian kejadian yang ia terima hari ini.
Padahal bukan hari ulangtahunnya akan tetapi begitu banyak kejutan yang ia terima hari ini. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati kepadanya meskipun sikapnya begitu brengsek.
"Ya," cicit Quenna dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu menelan salivanya kasar saat tubuh Carol digendong Rigel.
Perempuan tersebut tahu sangat bahwa Rigel salah satu orang yang harus dihindarinya. Memang tidak ada orang baik di dunia ini. Bahkan pria itu juga sama bejatnya dengan sang kakak.
"Dia sangat mirip dengan mu. Aku sangat menyukai anak mu ini, siapa namannya?" tanya Rigel dengan lembut sambil menjawil-jawil pipi mungil Carol.
Carol terkikik merasa geli di area wajahnya. Dengan wajah menggemaskan ia pun memberitahukan namanya.
"Calol, Om."
"Calol?" ulang Rigel seraya tertawa kecil karena Carol yang masih cadel.
"Iya Om, Calol," ujarnya mengajarkan Rigel menyebut namanya.
"Caroline," kata Quenna membenarkan.
Rigel mengangguk dan tersenyum lebar. Ia sangat menyukai anak kecil. Ia memperlakukan Carol dengan sangat lembut bahkan sampai Carol sangat menyukai sosok Rigel.
Quenna yang hanya menjadi pelengkap di antara mereka terkekeh geli melihat kedekatan keduanya. Alhasil ia pun bersama kedua orang itu mengelilingi Mall bertiga dan melalui banyak hal bersama di mall tersebut.
Itu dijadikan sebagai bayaran rasa rindu Rigel kepada wanita itu setelah perpisahan bertahun-tahun. Semuanya terbalaskan begitu saja.
"Calol senang?"
"Iya Om, Calol senang. Calol cuka main. Dulu Calol selalu ditemani cama daddy main. Daddy belikan Calol banyak mainan dan juga beliin Calol tempat pelmainan." Carol sangat antusias menceritakan sang ayah. Di setiap katanya terdengar jelas bahwa anak itu sangat bangga dengan sang ayah. Tapi perubahan wajah dari anak tersebut begitu jelas membuat raut bingung Rigel. "Tapi, daddy cudah gak ada. Daddy Ndak mau main lagi cama Calol. Daddy jahat daddy ninggalin Calol pelgi."
Anak itu pun dalam sekejap menangis kencang karena merindukan sang ayah. Quenna yang ada di situ terkejut. Jiwa keibuannya pun menggebu-gebu. Ia memeluk anak tersebut dan membisikan kata-kata penenang untuk Carol.
"Anak ibu cantik. Carol jangan nangis, nanti Daddy gak mau ketemu Carol lagi," bujuk Quenna sambil merapikan rambut Carol yang berantakan.
Ia menghapus air mata Carol dan meniup-niup kepalanya hingga Carol pun meredakan tangisnya. Ia memandang dengan wajah sedih.
"Ibu bica bantu Calol ketemu daddy lagi? Calol mau tidul sama daddy," rengek anak tersebut lalu kembali menangis lagi.
Quenna menarik napas panjang dan menatap Rigel yang diam membisu dengan wajah dinginnya. Perempuan itu tersenyum tipis lalu mengaduh sedih.
"Iya sayang bisa. Tapi Carol jangan nangis lagi."
Carol pun mengangguk dan mengusap sendiri air matanya. Quenna pun akhirnya dapat bernapas tenang. Seakan-akan bebannya telah diangkat Tuhan.
"Kemana laki-laki bajin.gan itu?"
Quenna tersentak kontan menatap Rigel dengan bibir membisu. Ia menunduk dan tersenyum masam. Sedikit ia mengangkat kepalanya dan menggeleng lemah.
"Aku tak tahu." Wajah Quenna sangat sedih. Ia juga merindukan Viktor tapi nalurinya mengatakan jika ia belum siap bertemu dengan pria itu lagi dengan sejuta kenyataan yang menikam sedalam-dalamnya.
__ADS_1
"Jangan pernah pedulikan pria itu lagi. Kau akan aku bawa pulang ke rumah ku. Di sana kau akan mendapatkan kebebasan yang kau inginkan. Aku akan menemanimu."
Wajah Quenna begitu terkejut. Ia diam tak bisa mengutarakan keinginannya. Seolah-olah waktu berhenti di detik itu. Perasaannya tak nyaman, ia tahu betul maksud Rigel dan apa niat laki-laki tersebut.
Bukan rahasia lagi jika Rigel sangat menyukainya. Tentu jika ia berada bersama pria ini juga bukan merupakan hal baik. Terlebih lagi sekarang hatinya jatuh kepada Viktor, kakaknya, kakak sepupu lebih tepatnya.
_____________
Usai permohonan Rigel agar ia tinggal di rumah pria itu, Quenna yang sadar akan tanda bahaya pun lekas pergi dengan tergesa-gesa.
Awalnya ia hanya pamit sebentar dengan anaknya untuk mencari barang yang ia inginkan, akan tetapi rencana sesungguhnya ialah ia kabur dari tempat itu secepat mungkin.
Ia menggunakan taksi dan sedang dalam perjanjian menuju ke sebuah rumah sakit terkenal yang tak jauh dari kota ini. Usai berdebat panjang dengan Prima dan memaksa pria itu agar memberitahukan keberadaan Viktor akhirnya ia pun mengetahui alamat Viktor sekarang.
Sedikit mengancam Prima dengan ia yang akan bunuh diri dan dirinya pun memperoleh informasi yang ia inginkan.
Carol tertidur di pangkuannya akibat sangat kelelahan untuk melakukan perjalanan ke luar kota.
Ia mengamati wajah anak gadis tersebut dengan seksama. Sangat tidak tega kala melihat wajah itu yang terus menyebut kata "Daddy" disetiap malamnya. Ia begitu jahat telah mementingkan ego tak memikirkan bagaimana perasaan Carol.
"Maafkan aku, apakah aku begitu jahat kepada mu?" tanya Quenna lirih sembari mengusap kecil rambut Carol yang begitu nyenyak terlelap dalam tidurnya.
Perjalanan itu pun dilakukan berjam-jam hingga akhirnya ia sampai ditujuan yang wanita tersebut inginkan. Quenna menarik napas panjang tatkala melihat sebuah rumah sakit besar yang penuh dengan fasilitas lengkap.
Itu adalah rumah sakit yang sangat terkenal di Amerika. Dan baru saja diketahui oleh Quenna jika pemilik rumah sakit itu adalah Viktor.
Quenna keluar dari dalam taksi dan menggendong tubuh kecil Carol. Ia memberikan beberapa jumlah Dollar kepada sang supir.
"Terimakasih."
Quenna tersenyum samar. Ia pun melangkah dan masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Banyak mobil mewah yang terparkir di sana seolah-olah menunjukan bahwa orang yang memakai jasa rumah sakit tersebut adalah bukan orang sembarangan.
Quenna begitu takjub dengan interior rumah sakit ini. Begitu elegan dan megah. Beberapa taburan permata pada dindingnya.
Keadaan di sini pun begitu teratur dan sangat disiplin. Sebelum menemui Viktor ia lebih dulu menuju ke meja yang dijaga oleh suster untuk menyambut tamu.
"Ada keperluan apa, Mbak?" tanya suster itu ramah.
Quenna membalas senyum suster tersebut lalu mengutarakan keinginannya.
"Di mana ruang ibu Celine?"
"Maaf nama lengkap pasien siapa?"
"Celine," tegas Quenna dan tersenyum simpul meskipun ia tahu pasti bakal ditanyai berkali-kali.
"Maaf mbak, pihak rumah sakit kita tidak memiliki pasien atas nama Celine." Sister itu sangat lembut wajar saja ia dipekerjakan di bagian ini.
"Celine Margaretha Aganta, ibu dari Viktor Alexander Aganta." Wajah suster itu kaget. Ia terdiam dengan wajah pucat.
Suster itu menatap rekannya yang juga tiba-tiba tertarik dengan pembicaraan mereka. Kedua suster tersebut saling pandang dan tersenyum tipis.
"Kami tidak mengenali pasien atas nama tersebut," ujar salah satu suster itu.
"Saya Quenna Anezka Aganta." Mendengar nama belakang Quenna membuat suster itu terdiam.
__ADS_1
Tapi dilihat dari tampilan Quenna tak begitu meyakinkan. Setahunya juga bos mereka tidak memiliki saudara. Apalagi Viktor berpesan agar memberikan informasi yang menjadi hal privasi nya. Ditambah pengunjung harus diintrogasi dan dicek dengan benar.
"Maaf sekali telah mengecewakan Anda."
Quenna menarik napas dalam dan melirik Carol yang masih terlelap. Matanya menunjukkan kesedihan serta wanita itu melirik ke segala penjuru mencari akal untuk menemukan jalan.
Ia pun berpura-pura pergi. Perempuan tersebut memukul belakang salah satu suster yang lewat di depannya.
Kemudian ia pun menarik suster itu ke tempat aman dan mengambil seragam suster dari perempuan tersebut untuk menyamar.
Tak lupa ia membangunkan Carol agar dapat bekerjasama.
"Jika kau ingin bertemu dengan ayah mu, maka ikuti ucapan ku."
"Baik Ibu." Quenna tersenyum puas.
Ia pun berpencar setelah Quenna membisikan sesuatu. Wanita itu menyamar dan mengambil nampan berisi bubur yang dibawa suster tadi dan berpura-pura ingin mengantarkan bubur itu ke ruangan Celine.
Ia pun berusaha sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya dari suster yang ia temui tadi saat melewati mereka. Quenna bertanya kepada salah satu suster yang berlalu lalang.
"Maaf saya suster baru di rumah sakit ini. Saya diminta ingin memberikan bubur ini kepada pasien Celine Margaretha Aganta."
Suster tersebut pun membulat mendengar ucapan Quenna. Ia memperingati Quenna, "jangan keras-keras menyebut namanya. Tidak ada yang boleh tahu jika pasien tersebut dirawat di sini. Jika sampai ada yang mendengar kau akan habis dengan atasan. Lagi pula..... Pasien belum sadarkan diri, lantas untuk apa bubur itu?"
Quenna pun gelagapan, "eumm aku tidak tahu. Atasan meminta ku mengantarkan ini."
"Baiklah-baiklah." Suster tersebut membisikan sesuatu kepada Quenna. Ia mengatakan ruangannya dengan rahasia agar tidak didengar oleh mata-mata.
Quenna tersenyum puas. Seusai itu pun ia menuju pada ruangan tersebut. Carol yang mengikuti dari tadi pun akhirnya saling bertemu.
"Ibu, kenapa kau harus melakukan ini?"
"Jika tidak begini kau tidak akan bertemu daddy mu."
Carol menarik napas panjang dan terus mengikuti Quenna hingga mereka pun sampai pada tujuan.
Quenna berhenti sejenak di depan pintu tersebut sebelum mengetuknya. Ia menguatkan nyali sembari memandang Carol agar meyakinkan dirinya.
Tangannya terangkat mengetuk pintu itu. Terdengar decakan amarah antara dua orang di dalam sana. Salah satu menuju ke arah pintu dan membukanya.
Prima terdiam melihat kenekatan Quenna yang benar-benar dilakukannya.
"Prima siapa yang telah berani mengetuk pintu? Apakah suster di sini tidak kau ajari dengan benar."
"Ini lebih dari kurang ajar Tuan. Lihatlah siapa yang datang."
Viktor mengernyit heran dan menghampiri bibir pintu. Matanya membulat dengan sempurna kala bersesi tatap dengan wanita di depannya. Bibirnya gemetar sedangkan mata Quenna memanas.
Nampan yang dipegang Quenna pun terjatuh. Keduanya sama-sama syok setengah mati.
________
Tbc
Jangan lupa like dan komen ya manteman
__ADS_1