
Tim penyelamat dan pemadam kebakaran segera berpencar mencari korban jiwa. Banyak ditemukan mayat di tempat terjadi kebakaran itu dan rata-rata mayat tersebut adalah seorang pasien dan pekerja rumah sakit.
Para wartawan berbaris di hadapan lokasi kejadian di luar garis polis. Puluhan kamera terarah ke rumah sakit yang hanya tinggal bangkai.
Banyak rakyat berkumpul dan menatap tempat itu dengan sedih. Bagaimana mungkin banyak keluarga mereka yang dirawat di sini malah berujung kematian, rencana ingin berobat agar sembuh dan memiliki umur yang panjang.
Tangisan para keluarganya korban tak terbendung lagi juga jeritan dari anak-anak yang kehilangan orangtunya.
Prima berjalan dengan gemetar melihat bangunan yang semula sangat utuh berakhir penuh dengan porak poranda dan sudah terbakar.
Prima dengan panik melewati garis pembatas polisi ingin masuk ke dalam lokasi kejadian dan mencari Viktor, tuannya.
Ia mengepalkan tangannya kala tubuhnya ditahan. Pria itu melirik sang polisi lalu mengepalkan tangannya.
"Baj.ingan lepaskan aku!!"
"Maaf Anda tidak bisa masuk ke dalam karena polisi sedang melakukan penyidikan dan di dalam juga sangat berbahaya." Wajah Prima berubah marah padam.
Ia memberontak dan berteriak ingin masuk akan tetapi para polisi menarik tubuhnya. Prima juga dalam kondisi tidak baik-baik saja, terpaksa ia dievakuasi dan harus dirujuk ke rumah sakit terdekat.
Prima hanya bisa memejamkan mata setelah menatap rumah sakit itu sebelum dibawa pergi. Air matanya menetes karena merasa gagal tidak bisa menyelamatkan sang tuan. Ia adalah contoh anak buah yang sangat tidak berguna kepada majikannya.
"Maafkan aku Tuan. Sesuai permintaan Tuan, nyonya sudah aman. Saya menepati janji Tuan!"
Para wartawan menyorot Prima yang juga sangat terkenal sebagai asisten setia Viktor. Berita heboh hari ini adalah mengenai Viktor yang menjadi korban kebakaran di salah satu rumah sakit miliknya.
Maka dari itu banyak orang berkumpul ingin melihat nasib orang terkenal tersebut. Berita yang diperoleh pun menjadikan pundi-pundi Dollar yang sangat banyak. Oleh sebab itu wartawan ditugaskan perusahaan mereka agar tetap berdiri di sana dan mencari informasi sebanyak-banyaknya.
Tim penyelamat menyusuri seluruh rumah sakit itu. Mereka belum menemukan Viktor yang menjadi pencarian utama mereka.
Salah satu pria muda yang baru saja bergabung dengan tim penyelamat melihat ada sepasang kekasih yang sedang saling menggenggam.
Ia menghampiri pasangan tersebut dan mencek keduanya. Saat melihat wajah orang tersebut dengan jelas mereka semua terkejut.
__ADS_1
Ia langsung menghubungi rekannya bahwa target sudah ditemukan. Segara tandu dibawa dan kedua orang tersebut langsung dievakuasi.
"Halo Tuan, target sudah ditemukan di bagian halaman rumah sakit di pojok kanan."
Para tim penyelamat tersebut membawa Quenna dan Viktor ke dalam mobil. Sorak sorai dari masyarakat pecah tatkala melihat tubuh Viktor yang dianggap mereka sudah tidak bernyawa.
Kamera segera mengambil foto dan video sebanyak mungkin untuk mengabadikan moment tersebut.
Korban segera dibawa ke rumah sakit terdekat yaitu rumah sakit George Hospital. Tidak membutuhkan waktu yang banyak kedua orang itu segera dilarikan ke ruang unit darurat.
Tubuhnya yang ada di dalam mobil diletakkan di atas brankar dan para suster segera membawa brankar tersebut berlari sebab harus segera diselamatkan.
Tangisan pecah dari penggemar Viktor melihat tubuh itu yang tak bergerak dan merespon apa pun lagi.
Tidak ada yang tahu siapa sang wanita dan apa perannya terhadap Viktor sehingga tidak ada yang curiga dengan Quenna yang diselamatkan bersama Viktor.
Selain itu ruangan mereka juga terletak sangat jauh. Membutuhkan perjalanan beberapa menit untuk ke salah satu tempat itu.
Pria tersebut berjalan mengikuti brankar yang dibawa cepat ke sebuah ruangan darurat. Ia mengejar brankar yang membawa Quenna.
Pada saat korban telah masuk ke dalam ruangan dan selain suster dan dokter dilarang masuk. Rigel melihat Quenna dari balik jendela buram.
Wajahnya sangat datar tapi penuh dengan kesedihan. Ia berdoa kepada sang kuasa agar dirinya bisa dimanfaatkan oleh Quenna.
Air matanya jatuh melihat ke dalam sana. Pria itu berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan yang hancur berkeping-keping.
"Maafkan aku, aku memang kejam tapi ini adalah ganjaran yang memang pantas Viktor dapatkan."
Ia berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Orang yang melintas di sekitarnya tercengang melihat pesona Rigel yang benar-benar memabukkan. Wajahnya datar dan juga sangat tegas.
Tak sengaja Rigel melihat seorang anak gadis kecil menangis kencang sambil mengigit jarinya dan berjalan tidak tentu arah sembari memanggil ayah ibunya.
"Ibu!! Daddy!! Hiks, hiks, Calol takut!" lirihnya berjalan di koridor rumah sakit.
__ADS_1
Ia kabur dari ruangan inapnya karena sangat merindukan orangtunya. Ia terus terbayang wajah kedua orang tuanya dan ia ingin dipeluk oleh kedua orang tersebut.
Rigel melihat Carol yang berjalan sendirian sambil menangis itu mengernyit. Ia segera menghampiri Carol.
"Kenal kau bisa ada di sini?"
"Om, hiks, hiks, hiks, Calol mau ibu dan daddy. Hiks ibu mana?" Hati Rigel bagaikan ditusuk ribuan duri setelah mendengar tangisan Carol yang mempertanyakan orangtunya.
"Kau kenapa bisa ada di sini?"
"Calol lagi cali Ibu dan daddy," ujar anak kecil itu sembari mengahmbur dalam pelukan Rigel. "Bantu hiks, hiks, bantu Calol cali Om."
Rigel mengusap tengkuk kepala Caroline dan tersenyum lebar. Ia menenangkan tangis anak itu yang semakin nyaring.
"Om akan membantumu, tapi kau harus ke ruangan mu dulu dan Carol harus tidur supaya nanti Carol segera buat cari Ibu!"
Carol mengangguk lemah dan meletakkan kepala kecilnya di bahu Rigel. Ia memejamkan mata dan terus bergumam nama orangtunya.
Sementara Rigel hanya bisa diam mendengar nada kesedihan dari seorang anak yang sedang mencari orangtunya. Apakah ia merasa bersalah? Jawabannya adalah tidak karena dendam adalah tahta yang paling utama.
Rigel membawa Carol ke ruangan inapnya. Ia merebahkan Carol ke atas ranjang rumah sakit. Kemudahan pria itu juga memberikan perhatian kepada Carol menggantikan peran orangtunya yang selalu menghibur anak gadis itu.
Ia membacakan dongeng dan bercerita banyak hal hingga pada akhirnya Carol tertidur nyenyak.
Rigel tersenyum dan meraih tangan Carol dan menggenggamnya dengan sangat erat. Anak ini terlalu polos untuk mengetahui semuanya, biarlah waktu menjawab segala kebohongan ini.
"Kau boleh membenci ku, maafkan aku. Tapi aku mencintaimu anak manis dan juga ibu mu," lirih Rigel dan memaksakan senyum.
____________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1