
Quenna terbangun dengan tubuh yang terasa remuk semua. Ia juga sudah bersih lengkap dengan pakaian santainya.
Wanita itu berjalan ke arah dapur mengikuti aroma hidangan makanan yang sangat menggoda penciumannya. Ia mengerutkan keningnya mencium bau yang sangat harum dari arah dapur seolah-olah sedang ada yang memasak.
Akan tetapi siapa? Mungkin saja itu adalah asisten di rumah ini. Ya mungkin saja, pikir Quenna seraya berjalan ke arah dapur dengan wajah sumringah melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Ia tersenyum lebar dengan mata tertutup namun ketika membuka mata ia sangat terkejut melihat Viktor yang tengah memasak hanya mengenakan apron tidak mengenakan apapun alias bertelanjang dada.
Tubuh Quenna langsung bereaksi panas dan wanita itu membuang wajahnya sambil menutupi mukanya yang sudah memerah seperti tomat.
Viktor terkekeh melihat adiknya itu tengah salah tingkah. Niat jahilnya pun semakin menjadi. Ia pun makin menggoda Quenna dengan mendekati wanita itu dan memeluknya.
Tubuh Quenna tak kuasa menahan getaran aneh di perutnya. Ia melirik Viktor dengan wajah meringis berpikir bagaimana caranya agar pria itu melepaskan pelukan di tubuhnya.
Sungguh apa yang dilakukan Viktor itu berakibat buruk bagi jantungnya. Sebab jantung wanita itu tak bisa berdetak normal.
Memang pesona Viktor sangat sulit untuk ditolak oleh Quenna. Auranya begitu dominan hingga ia pasrah dalam kuasa laki-laki tersebut.
"Kakak lepaskan aku," lirih Quenna dengan wajah memelas.
Viktor mengecup pipi Quenna lalu melihat ke kompor memastikan masakannya agar tidak gosong. Pria itu meletakkan dagunya di pundak Quenna.
"Hey, aku merindukanmu," ujar Viktor dan tak mau lepas dari Quenna.
Viktor seolah baru menemukan induknya. Ia begitu manja pada Quenna hingga Quenna pun kesalahan menghadapinya.
"Kakak, lihatlah masakan mu nanti bisa gosong," peringat Quenna dan Viktor hanya melirik sekilas ke arah tempat penggorengan.
Dia sudah terbiasa memasak dan Viktor tentu tahu bagaimana caranya agar masakannya itu tak gosong.
"Huh, aku sudah lama tak mendengar kau menyebut diri ku dengan kakak," ujar Viktor lalu melepaskan pelukannya pada Quenna dan mendekati kompor.
Pria itu pun mematikan kompor dalam satu jentikan jari. Lalu menuangkan kentang goreng yang ia masak tadi ke piring.
Ia menambahkan beberapa bumbu pada kentang goreng itu lalu membawanya ke ruang tamu. Ia meletakkan di atas meja dan mengajak Quenna untuk bersama menikmati kentang goreng tersebut.
Quenna yang semula sangat penasaran dengan masakan pria itu lantas mencicipinya. Baru saja sampai diujung lidahnya wanita tersebut langsung ketagihan dan memakannya sampai melupakan Viktor yang bahkan belum sempat mencicipinya.
"Kau memakan ini sendirian? Kau lupa siapa yang membuat ini?" tanya Viktor seakan tengah menyindir wanita itu.
Quenna yang tersadar dengan perbuatannya tersebut langsung berhenti melahap kentang goreng yang ada di tangannya.
Ia meletakkan kembali kentang tersebut lalu menyengir dengan wajah tak berdosa. Viktor yang melihat itu tak kuasa ingin memarahi makhluk imut di depannya ini.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat imut?" tanya Viktor yang tak mengerti kenapa wanitanya ini tak berhenti cantik padahal semakin hari semakin tua akan tetapi kecantikan yang dimiliki oleh wanita itu tak pernah pudar.
Viktor beruntung mendapatkan hati wanita tersebut dan sebentar lagi mereka akan menjadi pasangan yang sah.
"Ih..," rengek Quenna yang malu dipuji dengan kata-kata demikian.
Hatinya sangat lemah jika menyangkut pria itu yang terus menggodanya. Ia tak sanggup menahan godaan Viktor yang sangat kuat.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa cantik terus sih? Tidak bosan cantik terus buat dada aku detak terus?" ucap Viktor dengan wajah sangat terpana melihat Quenna.
Quenna melempar bantal sofa ke wajah Viktor. Ia sangat malu jika terus diperlakukan begitu.
"Viktor berhenti."
"Kiss dulu baru berhenti," ujar Viktor sembari menunjuk bibir merahnya.
"Dih!"
"Yakin? Yaudah aku goda terus aja." Viktor ingin mendekatkan wajahnya pada Quenna bermaksud ingin membuat wanita itu makin malu.
Quenna lebih dulu mencium bibir Viktor lalu bergiust mundur. Ia menutup bibirnya. Lebih baik ia mengikuti kemauan pria ini ketimbang terus disiksa dengan godaan.
Viktor menyeringai sambil menatap Quenna nakal. Pria itu mendekati Quenna dan memeluk tubuh wanita itu dan mendekapnya sangat erat agar Quenna tak dapat memberontak.
"Ayang mau lagi kayak malam tadi..."
"Viktor kau tahu aku sangat lelah..."
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu aku selalu menginginkan mu!!"
______________
Setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan di Korea akhirnya satu keluarga itu pulang ke Amerika dengan wajah yang tak tergambarkan sangat gembira.
Apalagi Carol yang sangat senang melihat orang-orang yang seras dengannya. Ia sangat merasa asing di Korea karena merasa berbeda dengan anak-anak di Korea.
Mereka pun masuk ke dalam rumah yang telah sekian lama ditinggalkan. Quenna sangat bahagia tatkala kembali memijak lantai rumah ini yang terasa sangat sejuk dan arsitektur nya juga tidak jauh berbeda.
"Masih sama," gumam Quenna memperhatikan rumah itu.
__ADS_1
"Selalu sama, bahkan ketika aku melupakan dirimu aku pun tak ingin mengubahnya karena aku merasa ada seseorang yang ingin kembali melihat rumah ini," ujar Viktor dan merangkul pundak Quenna.
Quenna melirik Viktor dan memeluk perut pria itu dari samping. Jujur saja ia sangat menyukai arsitektur megah di rumah ini yang dulu ialah yang memberikan arahan merenovasi rumah ini.
"Jika Rigel tidak menghalangi kita mungkin rumah ini sudah penuh dengan suara teriakan anak-anak," ucap Viktor seakan tengah berkhayal dengan kemungkinan tersebut.
Quenna menatap Viktor dengan raut sedih. Ia meremas tangannya sebab wanita itu merasa dirinya begitu bodoh tak bisa mempertahankan janin yang ada di dalam perutnya.
"Maafkan aku," bisik Quenna dengan mata berkaca-kaca.
Viktor terkejut mendengar suara serak Quenna. Ia melihat wanita itu yang sudah menangis. Viktor lupa jika ia menyinggung perasaan Quenna sehingga membuat hati Quenna merasa sakit.
Tentu Quenna sangat terpukul kehilangan calon bayinya.
"Sayang, tidak apa-apa. Malam nanti kita bisa membuatnya lagi." Viktor seakan tak merasa bersalah setelah berucap kalimat itu. Ia menaik turunkan alisnya membuat Quenna yang semula sangat terharu menjadi kesal.
Ia mendorong tubuh Viktor dan berjalan dengan khas wanita merajuk.
"Quenna!!"
Quenna tak menyahut dan menghampiri Carol yang sedang berkutat dengan mainan barunya. Anak itu sangat senang mendapatkan mainan baru yang dibelikan Viktor di Korea.
"Nak, nanti dulu mainnya. Ke kamar dulu kita ganti bajunya, baru main yah."
Caroline tidak menghiraukan ucapan ibunya. Ia lebih bersemangat saat melihat ayahnya yang ada di belakang ibunya.
"Daddy." Carol berlari ke dalam pelukan Viktor membuat Quenna terdiam dengan kesal.
Ia melihat Viktor yang sedang menampilkan wajah penuh kemenangan.
"Kenapa sayang?"
"Kapan kau akan membelikan ku jet pribadi? Kau mengatakan jika kita sudah sampai di Amerika akan membelikan ku jet pribadi."
Viktor tersenyum mendengar sang anak yang menagih janji.
"Kau lihat ke halaman belakang di sana sudah ada jet pribadi mu."
Viktor memiliki lapangan penerbangan pribadi dan itu terletak di belakang rumahnya.
________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA