Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 28


__ADS_3

1 Bulan kemudian


Dedaunan beterbangan mengikuti arah angin yang menerpanya. Suara gemuruh serta burung-burung yang terbang bebas di udara saling menyahut dan melengkapi.


Terik matahari yang cerah membawa berkah bagi mereka yang membutuhkannya. Keindahan yang tiada tara penuh dengan alamiah.


Bahkan manusia tidak bisa menandingi kehebatan Tuhan yang menyetting alam dengan sempurna.


Quenna tersenyum tipis melihat kupu-kupu yang saling mengejar. Tangannya terangkat mengelus perutnya yang kian hari makin membuncit.


Keindahan yang sangat jarang dilihatnya tak ingin dilewatkan sedikitpun oleh perempuan itu. Jarang-jarang ia melihat pemandangan seperti ini di rumah Viktor.


Dulu ia tak boleh kemana pun dan harus mengikuti perintah sang kakak. Quenna diam ketika mengingat momennya dengan sang kakak. Canda dan tawa tak sedikit pula ingatan mengenai kekejaman kakaknya itu.


Wanita tersebut bingung dengan perasaannya, ia kira meninggalkan pria itu akan lebih baik nyatanya kadang ia bisa merindukan rumah.


Ia memejamkan mata di bawah terik matahari. Sinar yang memantul di pipinya membuat Quenna bak seorang Dewi yang hebat.


Wanita itu masuk ke dalam rumah dan duduk di salah satu sofa. Keinginannya tercapai ia juga sudah mengelilingi kota Tokyo yang menjadi tempat tinggalnya sekarang.


Banyak wanita dengan ras dan wajah yang berbeda dengannya dan sang kakak. Quenna juga jadi mengetahui banyak hal setelah melihat-lihat dunia.


"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Rigel sambil berjalan mendekati Quenna. Pria itu tersenyum sekilas dan meletakkan segelas susu di depan perempuan itu. "Minum lah!"


Quenna menarik napas dan mengangguk pelan. Ia meraih susu tersebut dan meminumnya.


Rigel tertawa melihat ada sisa susu di sela bibir Quenna. Perempuan itu mengerutkan keningnya heran dengan yang Rigel tertawakan sambil menatapnya.


"Ada apa?"


Laki-laki itu menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar. Ia menjulurkan tangannya dan mengusap bibir Quenna.


Quenna terkejut melihat Rigel melakukan itu kepadanya. Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Rigel juga menyadari perbuatannya.


Ia menarik tangannya dan menatap Quenna sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal. Pria itu salah tingkah. Ia membuang mukanya begitu pula Quenna, ia merasakan hal yang sama. Pipinya memanas karena menahan malu.


"Quenna/Rigel!" ujar keduanya dan saling tatap.


Lalu mereka berdua pun sama-sama membuang wajah. Rigel merutuki perbuatannya begitu juga Quenna, ia berusaha menahan dengan sekuat tenaga detak jantungnya.


"Maafkan aku," inisiatif Rigel terlebih dahulu sambil tersenyum kikuk.


Quenna mengangguk dengan ragu dan menggigit bibirnya. Wanita muda itu menatap mata Rigel takut-takut.


"Apa kita tidak akan ketahuan dengan kakak? Yang aku tahu tidak gampang lari darinya," tanya Quenna hati-hati kepada Rigel.


Rigel melirik Quenna heran kenapa tiba-tiba wanita tersebut membahas tentang Viktor. Ia menatap jauh ke dalam manik perempuan tersebut sembari mengembuskan napas panjang.


"Kau tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ketika kau bersama ku. Aku akan menjamin kau aman," yakin Rigel kepada wanita yang penuh dengan wajah cemas itu.


"Terimakasih," ungkapnya penuh kasih.


Quenna menghembuskan napas lega, perasannya sedikit tenang meskipun tak sepenuhnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah selama ini kita aman-aman saja?"


Quenna menggeleng-gelengkan kepalanya dan sedikit mengukir senyum. Entahlah dia tiba-tiba kepikiran tentang Viktor.

__ADS_1


Ia takut Viktor menemukannya dalam kondisinya yang seperti ini. Quenna menatap perutnya yang buncit itu dengan pandangan sedih. Anak yang malang, ia tak tahu cemoohan seperti apa yang akan diterima dirinya dan anaknya nanti.


"Aku tak apa."


Rigel menatap perut Quenna. Ia mendekati wanita itu dan berjongkok di depan Quenna. Wanita itu cukup kaget dengan perbuatan Rigel ditambah lagi pria itu malah mengusap perutnya.


"Anak Viktor?" tanya Rigel sambil mengusap perut Quenna.


Sebenarnya berat Rigel mengatakan hal tersebut. Dadanya yang memanas jelas tak terima jika Quenna mengandung benih pria itu.


Rasanya Rigel ingin mengajak Viktor bergulat dan menghabisi pria itu dengan tangannya. Ia kecewa sungguh dan sangat.


"Ya," ujar Quenna dengan ungkapan sakit mengatakannya.


Wanita itu memasang raut sedih kala ingat Viktor yang sedang menyetubuhinya. Pria itu benar-benar mengacaukan pikirannya hingga ia sampai memikirkan hal kotor.


Quenna mengerjapkan matanya sambil menampar pipinya untuk menyadarkan dirinya sendiri.


"Memikirkan sesuatu?"


"Tidak apa," ujar Quenna dan berusaha menghindari tatapan Rigel.


Di tengah keasyikan mereka yang berbincang tiba-tiba datang seorang bawahan Rigel yang berlari menghadap pria itu.


"Ada apa?"


"Nona Kim ingin menemui Anda," ujarnya yang membuat Rigel langsung membulatkan matanya. Ia melirik Quenna dan tersenyum pada wanita itu. "Kau masuklah dulu ke kamar mu!"


"Tidak perlu biarkan saja dia di sini," ujar Yohana yang sudah menerobos kediamannya.


"Quenna pergilah."


Quenna menatap heran Rigel dan Yohana. Ia yang lugu tidak mengerti apa-apa itu mengangguk dan hendak undur diri.


"Kau! Diam di situ!" perintah Yohana sambil mendekati Quenna.


Ia memperhatikan dengan detail wajah Quenna. Ia merasa familiar dengan wajah ini.


Yohana juga menatap perut Quenna dan menarik napas panjang. Ia melirik Rigel yang mengawasinya.


"Perbuatan Viktor?" tanyanya pada Rigel.


Quenna terkejut saat Yohana menyebut nama kakaknya.


"Kau mengenalnya?"


Alis Yohana tertekuk satu. Ia menyeringai kepada Quenna.


"Gadis manis, memang seharusnya seperti ini," baiknya membuat Quenna tak paham.


"Nona Kim!" peringat Rigel dan pergi ke tempat lain.


Yohana menghela napas dan mengikuti pria itu. Quenna menatap kepergian mereka dengan pandangan kebingungan.


_________


Viktor meneropong rumah megah di depannya. Ia sengaja mencari tempat tinggal di Tokyo yang dekat dengan area Rigel.

__ADS_1


Ya Viktor telah mengetahui keberadaan Rigel. Ia tinggal bersebrangan dengan rumah pria itu tanpa diketahui oleh orangnya.


Tidak ada apa-apa di seberang sana. Ia juga masih kekurangan informasi di mana kamar Quenna.


Pria itu sudah sangat merindukan Quenna dan ingin membawanya segera pulang bersama. Ia kali ini bertekad harus bisa membawa Quenna pergi dari Tokyo.


Lama ia mencari keberadaan Quenna ternyata pria itu menyembunyikannya di Jepang. Pantas ia sukar menemukannya.


"Kau memang pintar Rigel, tapi kali ini kita lihat apakah kau benar-benar pintar?" tanya Viktor kepada angin seolah-olah itu adalah Rigel.


Laki-laki itu menarik napas panjang lalu meninggalkan balkon. Ia duduk di tempat kerjanya sambil memikirkan sesuatu.


Ia harus menyusun rencana dengan matang. Viktor menyadari ada jebakan yang dibuat Rigel.


Rigel sengaja memancingnya ke zona nyaman pria itu, bukannya Viktor tak tahu. Tapi ia akan mengikuti permainan Rigel lebih dulu untuk mengulur waktu.


Tak disangka-sangka ada Yohana juga bersama laki-laki baji.ngan tersebut. Sepertinya wanita keturunan Korea itu sedang ingin membalas dendam dengannya.


Setelah ia mencampakkan Yohana ia juga memberikan perhitungan kepada wanita itu dengan mematikan kariernya, serta ia juga membunuh ayah Yohana sebagai bentuk peringatan.


"Kau dendam dengan ku rupanya," lirih Viktor dan mengetukkan jemarinya di meja.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan datanglah Prima yang hendak menemuinya.


"Ada apa?"


"Tuan, ada wanita yang mengaku hamil anak Anda," ujar Prima.


Viktor menyentuh kepalanya pusing. Hampir tiap hari ia menerima laporan seperti ini. Ia tahu mereka sengaja ingin mencari keuntungan dari dirinya dengan trik murahan.


Meski ia sering melakukan hal tersebut kepada banyak wanita tapi Viktor yakin wanita tersebut tidak akan hamil anaknya.


"Bunuh saja mereka yang mengaku seperti itu, aku sudah muak mendengarnya."


"Baik!" Prima pun keluar dari ruangan tersebut.


Viktor menarik napas panjang. Tidak menyangka berurusan dengan wanita bisa serumit ini.


Tapi syukur sekarang ia sudah menemui keberadaan Quenna.


Viktor kembali ke balkon sambil membawa teropong. Lagi-lagi ia menggunakan benda itu untuk menatap rumah besar di seberang sana.


Mata Viktor membesar melihat ada seorang wanita yang sedang berdiri di balkon. Viktor tahu betul siapa itu.


Tangannya meremas dan senyum terukir di wajahnya tidak menyangka jika ia melihat wanita yang sangat dirindukannya.


Itu adalah Quenna yang lama sudah hilang darinya. Viktor mengamati lebih jelas wanita itu sambil tersenyum lirih.


"Quenna, akhirnya aku menemukan kau!" Viktor terdiam melihat perut Quenna yang membuncit. Jadi selama ini apa yang mereka duga bersama benar adanya. "Aku pasti akan mendapatkan mu kembali!"


______


Tbc


Hay teman-teman aku punya rekomendasi bagus nih buat kalian. Jangan lupa mampir juga yah ke karya yang ini.


__ADS_1


__ADS_2