
Quenna tercengang dengan mulut yang terbuka. Wanita itu tersengal-sengal dan tak bisa berbicara akibat saking syok akan pengakuan Viktor.
Seluruh persendian tubuhnya melunak bagaikan jeli. Air mata tanpa disadari jatuh begitu deras bak hujan setelah musim kemarau.
Pikirannya amat kacau saat mendengar kabar berita kematian teman karibnya dalam satu organisasi langsung dari mulut si pembunuh. Bayangkan bagaimana perasaan Quenna saat ini. Ia begitu hancur, seolah takdir tengah memproak porandakan hatinya.
Ia memandang sangat marah kepada Viktor. Tangannya mengepal dan bahkan wanita tersebut sangat ingin menyerang laki-laki itu dengan kepalan tangannya.
"Kau!!! Kau telah membunuh teman ku!!!! BAHKAN AYAH IBU DAN SAHABAT KU MATI DI TANGAN MU!!! BAJI.NGAN KAU!! FU.CK!!" marah Quenna meletup-letup dan kemudian berdiri ingin menyerang Viktor.
Namun bahkan belum sempat ia memukul pria itu ia tiba-tiba tubuhnya kehilangan keseimbangan dan hendak terjatuh saat baru selangkah tetapi area selangkang terasa sangat perih.
Viktor kaget menatap Quenna yang ingin terjatuh itu, insting lelakinya seketika merangsang sangat baik dan segera bertindak menyambut tubuh perempuan tersebut sebelum benar-benar menerjang kerasnya lantai lalu mengangkatnya dan meletakkan di atas kasur.
Quenna menangis histeris dan menggelengkan kepalanya menolak takdir yang harus suka rela ia terima.
"Aku tak suka mendengar suara tangis mu," ujar Viktor dan meletakkan satu jari di atas bibir Quenna.
Quenna menghentikan isakannya. Wanita tersebut melirik pada telunjuk Viktor. Ia menjauhkan tangan laki-laki tersebut dan menghempaskan untuk menunjukkan pada lelaki itu jika ia sangat marah.
"Jangan menyentuh ku! Kau pembunuh!" Quenna menekan ucapannya di setiap kata yang ia sebutkan.
Viktor pun menarik tangannya dan tersenyum tipis. Ia menghela napas panjang lalu memberikan selimut ke tubuh Quenna.
"Aku tahu! Tidurlah." Viktor mengecup puncak kepala Quenna penuh hikmat. Wanita tersebut tertegun dan melupakan permasalahan mereka.
Perlakuan Viktor sangat hangat, ia mengusap lembut kepala Quenna kemudian pria yang wajahnya penuh akan rasa kekecewaan dan penyesalan yang tak dapat dirasakan oleh Quenna itu pun pergi dari kamar wanita tersebut.
Ia menutup pelan pintu kamar milik Quenna untuk menghargai penghuninya yang menangis di dalam. Viktor sangat tahu bahwa jika perasaan Quenna sedang hancur. Ia begitu kaget mendengar kematian Andreas jadi Viktor pun memilih pergi agar Quenna dapat merenung sepuasnya di kamar itu.
Pemandangan luas rumahnya bahkan tak bisa merubah wajah muram yang disimpan Viktor. Mata kelam yang menatap sendu serta penampilan pria itu yang acak-acakan membuktikan betapa frustasinya ia. Menyimpan rasa sakitnya sendirian tanpa ada orang yang tahu.
Menyembunyikan semua masalah dan bersikap seolah-olah ialah peran antagonisnya dan menunjukkan kepada orang-orang ditemuinya bahwa ia baik-baik saja sungguh sangat melelahkan.
__ADS_1
Bahkan pria sekejam Viktor juga bisa merasakan apa itu sakit. Ia juga manusia dan memiliki hati hanya saja semua itu terkunci hingga tak bisa lunak dan sukar untuk berubah kembali. Ia nyaman dengan pribadinya, tentu hal itu ada yang mendasari.
Viktor bersikap dingin dan sangat kejam disebabkan oleh masa lalu yang tanpa banyak orang ketahui. Semua itu merubah Viktor 180⁰, pria yang dulunya sangat periang dan hangat dengan keluarga berubah seketika saat sesuatu terungkap.
Mengingat-ingat itu kembali sungguh melukai relung hatinya. Ia mengepalkan tangan kanannya serta tangan kirinya mencengangkan dada yang amat sakit rasanya.
Punggung tegap tersebut bersandar pada pintu kamar. Ia melirik sedikit kebelakang. Menjadi pura-pura kuat tak semudah itu. Dan hebatnya ia bisa memerankan itu sangat baik.
"Daddy!!" antusias Carol kecil yang tak sengaja lewat di depan kamar ibunya dan melihat ada Viktor di depan sambil bersandar pada kamar pintu ibunya, ia menyapa menyapa sang ayah dengan boneka besar di tangannya.
Gadis kecil tersebut berlari ke arah Viktor. Rambutnya yang dikepang dua mengayun ke sana kemari mengikuti hentak kaki yang penuh semangat.
Mendengar suara cempreng milik Carol membuat Viktor tersadar akan dunia nyata. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali lalu memaksakan untuk tersenyum. Laki-laki itu merentangkan tangannya menyambut sang anak.
Carol masuk ke dalam pelukan sang ayah lalu tertawa cekikikan. Begitu candu suara Carol hingga membuat Viktor bisa sedikit tenang dengan masalahnya.
"Ada apa?"
"Daddy, Calol lindu Daddy." Pengakuan Carol membuat Viktor pun tersenyum lebar.
"Benarkah?" Hati laki-laki tersebut pun mulai melunak. Ia mencium puncak kepala Carol dan beralih ke seluruh permukaan wajahnya.
"Benal Daddy. Tapi, Calol cedih Daddy malahin Calol tadi!" Wajah Carol merengut dan mata bulatnya dipenuhi rasa kecewa.
Bak diiris tipis-tipis perasaan Viktor kala melihat kemurungan sang anak. Viktor masih ingat sangat bahwa Carol ketakutan dengannya siang tadi.
"Maafkan aku! Aku hanya sedang tidak enak badan. Daddy berjanji pada mu akan mengabulkan semua keinginan mu sebagai tanda maaf ku! Bagaimana?" Viktor tersenyum dan mencoel pipi gembul Carol yang sedang berpikir-pikir.
Ia memilah hal apa saja yang ingin gadis itu minta dari ayahnya yang belum pernah ia rasakan.
"Calol mau adik!!" semangat Carol dan bertepuk tangan heboh. Ia tertawa menampakkan gigi ompong di tengah-tengah.
Viktor terdiam seketika saat mendengar keinginan tidak terduga dari sang putri. Entahlah hal itu bisa saja ia penuhi, tapi mengingat hubungannya yang tidak begitu baik dengan Quenna sepertinya itu sangat sulit.
__ADS_1
"Hmmm, baiklah!"
"Yeyyy Calol punya dedek!!"
__________
Viktor menghirup kopi hitam yang sangat mahal harganya di Inggris. Ia sedang membutuhkan sesuatu untuk mengurangi semua masalah.
Pria itu meletakkan cangkir kopi tersebut ke atas meja kerjanya. Ia menyentuh kepalanya yang berdenyut-denyut pusing.
Hari sudah tengah malah tapi laki-laki itu belum bisa tertidur. Hari-hari dia seperti itu, tapi kebiasannya sempat hilang dalam beberapa mingguan ini. Akan tetapi, malam ini kembali terjadi lagi.
Pria itu menelan ludahnya dan menyatukan telapak tangannya lalu menjadikan tumpuan untuk menopang dagu.
Mata besar itu sangat jelas amat kelelahan hingga tanda hitam melingkar di bawah matanya.
Ia mengambil sebuah foto yang dipajang di atas meja kerja. Foto itu tak lain adalah fotonya bersama Quenna saat kecil dan seorang wanita yang sangat akrab dengan mereka.
Sudah berminggu-minggu ia meninggalkan wanita itu di Amerika. Ia juga mendapatkan kabar bahwa wanita tersebut kondisinya memburuk. Tapi, Viktor menyewa banyak dokter ahli untuk menyembuhkannya.
"Dia sudah besar bahkan sudah melahirkan anak untuk ku!" Viktor menyentuh wajah wanita itu seraya tersenyum.
Sangat dalam perasannya kala menatap mata wanita di dalam foto itu. Perasaan sakit juga menyertainya.
Ia menitikkan air mata. Wanita itu adalah separuh napas dari Viktor. Karena ia pula Viktor membunuh orangtuanya hanya untuk membalaskan dendamnya. Bahkan ia juga ingin menjadikan Quenna sebagai objek balas dendam tapi sayang hatinya lebih dulu terobsesi pada adiknya, itu ia jadikan sebagai bentuk balas dendam kepada keluarga Gibran.
Gibran pasti akan sangat marah saat putri semata wayangnya diperkosa hingga melahirkan anak dari pria yang dirawatnya sejak kecil.
"Kenapa kau tidak ingin menatap ku? Aku bahkan sudah membalaskan dendam mu kepada mereka. Ku mohon kembalilah seperti dulu!"
_____
Tbc
__ADS_1
BUDAYAKAN SETELAH MEMBACA UNTUK LIKE DAN KOMEN SEBAGAI BENTUK MENGHARGAI.