Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 96


__ADS_3

Viktor memegangi kepalanya yang terasa berdenyut sakit. Akhir-akhir ini dia sering merasakan hal tersebut karena terlalu memaksakan untuk mengingat kembali masa lalunya Ya Viktor belum sepenuhnya mengingat masa lalu hanya beberapa bagian ingatannya yang kembali.


Setiap ia mendapatkan ingatan tersebut maka kepalanya akan terasa sakit. Ini sungguh menyiksa Viktor tapi di sisi lain ia mengharapkan ingatan itu kembali agar ia bisa mengetahui kebenarannya.


Ia tak ingin mengetahui hal besar di masa lalunya dari mulut orang lain meskipun itu dari orang terdekatnya sebab mereka bisa saja berbohong.


Meskipun harus menahan mati-matian rasa sakit itu Viktor tetap memaksakan agar otaknya dapat kembali berfungsi.


Sebenarnya itu bisa membahayakan pria tersebut sendiri karena bisa menyebabkan otak Viktor benar-benar rusak. Tapi ia seakan tidak peduli dengan resiko tersebut.


"Jika benar kau adalah orang yang aku cintai maka aku sudah berbuat fatal padamu." Viktor menarik napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. "Maafkan aku."


Viktor memejamkan matanya lalu keluar dari dalam kamarnya. Pria itu menunju parkir mobil dan mengeluarkan salah satu mobilnya.


Ia ingin bersantai lebih dulu untuk menenangkan pikirannya agar lebih rileks lagi dan ia bisa mengingat semuanya. Ia harapkan metode itu berhasil. Ini jauh lebih baik dari pada ia harus memaksakan ingat semuanya dalam keadaan otak yang panas.


"Kau mau kemana?" tanya Celine melihat Viktor keluar.


"Hanya menikmati waktu senggang. Nanti kita akan mengelilingi negara ini. Maaf kali ini aku tak bisa mengajak mu untuk berkeliling," sesal Viktor dan Celine hanya tersenyum melihat putranya itu pergi. Ia tak masalah jika Viktor keluar tanpa mengajaknya karena ia tahu pria itu pasti memiliki banyak masalah yang harus ditenangkan.


______________


Quenna hanya bisa menangis di dalam kamar menunggu dirinya yang akan dibawakan baju pengantin untuk dicobanya. Oh Tuhan berapa hari lagi? Tidak bisa dihitung hari lagi karena tinggal beberapa jam lagi ia akan menikah.


Quenna benar-benar mengutuk keadaan itu. Ia membenci saat hari itu datang dan dirinya sangat ingi membunuh diri karena memang tak ada lagi tujuan hidup. Tapi ia tak ingin egois dengan anaknya yang masih ingin hidup.


"Kenapa aku tidak bisa menemui anak ku?" protes Quenna pada salah satu pelayan yang melarangnya untuk ke kamar Carol.


Mereka siapa berani melarangnya? Carol adalah anaknya dan tak ada orang lain yang berhak melarangnya ingin bertemu anak kandungnya sendiri.


"Maaf Nona, tapi Anda sungguh tidak boleh melihat anak Anda. Anda boleh melihatnya jika Anda sudah resmi menjadi istri Tuan," ujar pelayan itu sambil menunduk karena takut dengan intimidasi Quenna yang sangat kuat.


Quenna menarik napas dalam. Rigel lagi Rigel lagi. Orang-orang di sini tak ada hentinya menyebut nama pria itu ketika ia ingin melakukan sesuatu yang dirinya inginkan.


Wanita itu mencengkram sisi bajunya geram. Ia harus mendekam kembali di dalam kamar ini yang semuanya hanyalah warna putih. Ia bosan ia ingin bebas bukan terkurung terus.

__ADS_1


"Di mana Tuan mu?" tanya Quenna dingin.


"Tuan sebentar lagi akan ke sini. Cobalah pakaian ini apakah cocok dengan Anda." Quenna melirik gaun pengantin tersebut lalu mendengus kasar, untuk apa ia mencoba gaun tersebut. Pas atau tidaknya ia tak masalah karena Quenna tak mengharapkan pernikahan ini.


Tak lama Rigel masuk ke dalam kamarnya sambil membawa senyum yang sudah muak Quenna lihat. Ia hanya memalingkan wajahnya lalu tersenyum miris menertawakan diri sendiri.


"Kenapa kau belum mengenakannya? Apakah kau tidak suka dengan bajunya?" tanya Rigel seraya memberikan gaun itu pada Quenna.


Quenna mengambil kasar gaun itu dan langsung ke kamar mandi mengganti pakaiannya. Pria itu jika tidak dituruti keinginannya maka akan terus memaksanya. Lebih baik ia mencobanya saja ketimbang harus terus didesak.


Rigel tersenyum melihat tingkah Quenna yang malah terlihat gemas di matanya. Meskipun ia tahu wanita itu menolak tapi ia yakin suatu hari nanti Quenna kan menerimanya.


Tak menunggu waktu lama Quenna telah keluar dari dalam kamar mandi lengkap dengan gaun pengantin yang ia kenakan di tubuhnya.


Wanita itu tersenyum terpaksa. Ia harus menunjukkan wajah pura-pura bahagianya itu.


"Kau sangat cantik," ujar Rigel terpana melihat Quenna yang sangat cantik di matanya.


Pria itu berdiri dan mendekati Quenna dengan mata terus memandang keindahan Quenna. Ia tak menyangka jika besok wanita ini akan resmi menjadi wanitanya.


Rigel pun tertawa dan mengerjapkan matanya agar sadar dengan perbuatannya. Pria itu meraih tangan Quenna yang sangat lembut digenggam.


"Quenna," lirih Rigel kemudian mencium punggung tangan wanita itu.


Quenna terkesiap namun tak lama ia biasa saja.


"Kapan aku bisa bertemu anak ku?"


"Tentu saja besok setelah kau menjadi istri ku," ujar Rigel lalu tersenyum tulus.


"Oh."


Di dalam hati Rigel sangat sakit melihat Quenna yang tak membalas cintanya sementara ia mempertaruhkan apa yang ia miliki untuk perempuan di depannya ini.


"Quenna, kau akan belajar mencintai ku, 'bukan?" Quenna menatap Rigel dengan seksama. Tidak ada salahnya ia akan belajar mencintai calom suaminya ini.

__ADS_1


Ia memang harus melayani Rigel dengan perasaan penuh, itu memang sudah tugasnya menjadi sang istri. Jadi tak ada alasan untuk ia menolak Rigel. Lagipula ia sudah tidak diinginkan oleh Viktor.


"Aku tidak berjanji tapi aku akan berusaha."


Rigel mendengar ucapan Quenna yang seolah memberikannya harapan membuat laki-laki tersebut sangat senang. Ia langsung memeluk tubuh wanita itu lalu mengucapkan kata-kata syukur.


"Terimakasih. Aku yakin suatu hari nanti kita akan menjadi pasangan yang sangat bahagia."


______________


Carol menangis semalaman karena sangat merindukan ibunya. Terlebih lagi ia belum sempat memeluk ayahnya tapi sudah tertangkap lagi.


Di dalam hati Carol sangat marah kepada Quenna membiarkan mereka tertangkap lagi. Anak itu kurang mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Ana yang salah mengurus Carol selalu heran kenapa Carol kadang membenci ibunya dan kadang mencari ibunya.


"Katakan padaku, kenapa kau marah pada ibu mu?" tanya Ana sambil memeluk tubuh Carol yang demam tinggi.


"Ibu jahat, hiks." Ana mengerutkan keningnya kenapa Carol mengatakan kalimat tersebut. Hal apa yang membuat Carol membenci ibunya.


"Lho, kenapa? Bukannya ibu sangat menyayangi mu?"


"Dia tidak menyayangi ku. Dia membiarkan kami tertangkap dan di bawa ke rumah ini lagi. Padahal tadi Carol mau peluk Daddy," ujar Carol sambil mengusap air matanya.


Dikatakan terkejut Ana sangat terkejut. Apa katanya? Bertemu daddy? Itu artinya mereka bertemu Viktor.


Yang Ana dengar juga Viktor sedang ada di Korea Selatan. Oh God sampai mana saja dirinya sudah ketinggalan berita. Sepertinya banyak hal yang belum ia ketahui.


Wanita itu menelan ludahnya. Tapi kenapa Quenna membiarkan mereka tertangkap dan apa reaksi Viktor saat Quenna kembali tertangkap anak buahnya.


Tidak mungkin Viktor diam saja. Tapi... Sungguh Ana tidak mengerti dengan situasi ini.


_____________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2