Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 60


__ADS_3

Quenna menatap heran raut muka Viktor yang berubah hanya dalam beberapa detik setelah ia menanyakan tentang foto bibi Celine tersebut. Menurut Quenna Celine hanyalah pembantu biasa di rumah mereka kenapa bisa kakaknya tersebut sampai memajang fotonya di dalam ruang kerja pribadi laki-laki itu.


Hal tersebut jelas menjadi pertanyaan besar untuk Quenna. Ia keheranan akan hal itu, apakah ada sesuatu yang istimewa sampai Viktor begitu menghargainya.


Ditambah Viktor akhir-akhir ini sangat aneh. Dia pulang selalu larut malam tanpa Quenna tahu apa alasannya. Waktu itu juga Quenna pernah menangkap basah Viktor, laki-laki tersebut berkata bahwa ia akan bekerja namun ketika ia datang ke kantor pria itu Quenna sama sekali tak mendapatkan Viktor. Kata sekretarisnya Viktor sedang tidak ada di kantor.


Jujur perasaan Quenna sangat tidak nyaman. Ia takut Viktor mengkhianatinya. Apalagi hubungan mereka baru membaik akhir-akhir ini. Ia tak ingin ada ketegangan-ketegangan lagi.


Quenna sudah memutuskan untuk kembali terjerumus kepada dosa, dan jangan biarkan cintanya yang sudah ia tetapkan berakhir sia-sia.


Perempuan itu menatap foto yang baru direbut Viktor. Ia mengernyitkan keningnya seraya menatap mimik Viktor yang mengeras. Pria itu seketika mengabaikannya dan tidak peduli padanya. Perubahan sikap pada Viktor membuat Quenna ketakutan bahwa mimpi buruknya akan menjadi kenyataan.


"Kenapa kau melarang aku melihatnya? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari ku? Bibi Celine adalah pembantu kita, kenapa aku tak boleh juga ingin tahu tentangnya? Kau ingin memperkerjakan bibi Celine lagi ya?" tanya Quenna hati-hati sangat polos tanpa tahu bahwa wajah Viktor telah memerah padam.


Pria itu mengepalkan tangannya dan menarik kasar tubuh Quenna hingga wanita itu terhenyak dan sangat kaget. Ia berteriak saat Viktor mencengkram keras rahangnya.


Quenna menatap Viktor dengan mata yang berkaca-kaca. Ia berusaha melepaskan tangan pria itu dari rahangnya. Itu sangat menyakitkan, apalagi pria itu melakukannya tak berperasaan. Quenna benar-benar sakit hati padahal ia hanya berucap seperti itu tapi seakan-akan ia telah melakukan hal besar. Kenapa juga Viktor peduli kepada pembantu mereka yang sudah berkhianat. Kata ayahnya begitu saat ia menanyakan kenapa bibi Celine tak lagi bekerja di rumah mereka.


"DIA BUKAN PEMBANTU!! INGAT AKU JUGA TIDAK AKAN PERNAH MENJADIKANNYA PEMBANTU!" marah Viktor dan melepaskan cengkeramannya. Ia mendesah panjang ketika matanya semakin gelap, hasrat ingin menyiksanya menggebu-gebu tetapi ditahan dengan kuat oleh pendiriannya yang tak akan pernah menyakiti Quenna lagi.


Quenna menyentuh rahangnya yang memerah. Tatapan sesal ia lontarkan kepada pria yang tengah berdiri di depannya sambil bersikap frustasi.


"Kau menyakitiku hanya karena perempatan yang telah hampir ingin membunuh ayah ibu ku? Oh aku lupa, kau sama saja seperti dia. Pembunuh!!! Kau membunuh ayah ibu ku!!" Quenna tidak bisa menahan ucapannya. Ia menangis sejadi-jadinya di ruangan itu dengan perasaan sakit.

__ADS_1


Sumpah demi apa pun ia tak ada berniat berucap seperti demikian. Itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa bisa dicegah. Quenna melirik takut-takut wajah Viktor yang sangat mengerikan.


Plakkk


"LANCANG!!! KAU..." Viktor mencekik leher Quenna dan merapatkan tubuh wanita itu dengan tembok. Matanya penuh dengan kabut kegelapan. "KAU PIKIR DIRI MU SUCI? KAU JUGA SEORANG PEMBUNUH!! KAU TELAH MEMBUNUH BANYAK ORANG, KAU JUGA SAMA SEPERTI ORANGTUA MU!! PEMBUNUH, PERNAHKAH KAU BERPIKIR BAGAIMANA PERASAAN ANAK SEORANG DARI SELURUH KELUARGANYA DIBUNUH TANPA TERSISA SATU PUN? PADA SAAT ITU DIA BELUM MENGERTI APA-APA. KETIKA DIA SUDAH BESAR IA TAHU KEBENARANNYA, PASTI RASA INGIN BALAS DENDAM, BUKAN?! KAU MENGERTI ITU, KAN? KAU MERASAKANNYA JUGA, BUKAN? MEMANG ITU YANG KU INGINKAN, KAU JUGA MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN SELAMA INI SI.ALAN!!"


Viktor menarik cekikannya dari Quenna. Quenna terperangah melihat Viktor yang menangis sesugukan. Tapi wanita itu lebih sakit hati lagi saat Viktor berteriak di depan wajahnya. Namun, ucapan Viktor sama sekali tidak membuat Quenna paham apa maksud pria itu.


Viktor menarik Quenna ke dalam pelukannya. Ia meletakkan dagunya di atas puncak kepala wanita itu. Pria tersebut mengusap kepala Quenna seakan telah menyesal. Viktor begitu cepat berubah.


"Kakak apa maksudmu?"


Mereka pun menangis bersama di tempat itu. Viktor tak berdaya, tapi semuanya sudah terlanjur terucap.


"Kau bukan kakak kandung ku?" Quenna melepaskan pelukan Viktor. Wajahnya tersenyum tak percaya. Ia menatap Viktor lalu mundur beberapa langkah memberikan jarak." Bagaimana mungkin?"


Viktor menunduk. Ia menarik napas panjang. Mungkin sudah saatnya Quenna mengetahui semuanya. Lagi pula tak mungkin selamanya ia bisa menyimpan rahasia ini.


"Ya."


"Jadi ini maksudmu selama ini mengatakan kalau hubungan kita bukanlah sebuah dosa?" Quenna menatap berani Viktor, "kenapa bisa? Apa orangtuaku telah membunuh keluarga mu? Hahahaha lelucon dari mana. Ayah ibu ku tidak mungkin melakukannya.


"Tapi itu kenyataannya Quenna. Kau tahu? Aku hanyalah anak yang sedang dimanfaatkan oleh musuh. Kau tahu siapa Celine? Dia ibu ku, dia orang yang telah melahirkan ku. Ayah ku, dia adalah kakak dari ayah mu. Tapi Gibran dengan tega menghabisi saudaranya sendiri serta keluarga kakaknya hanya demi ingin merebut harta warisan. Karena aku anak pria, jika ayah ku meninggal maka harta warisan itu jatuh kepada ku. Dia juga ingin membunuh ku tetapi jika aku mati maka harta warisan itu akan disumbangkan dan Gibran tidak mendapatkan apa-apa. Jadi dia membesarkan ku hingga aku dewasa dia akan merebut harta warisan itu. Tapi sebelum hal tersebut terjadi, tidak ada salahnya bukan membunuh musuh ku? Kau tahu Quenna? Aku sangat membenci keluarga mu, bahkan diri mu."

__ADS_1


Quenna terdiam membisu. Ia tak bisa banyak berbicara karena semuanya tampak hanyalah kebohongan di matanya. Tidak ada satupun ucapan Viktor yang dapat diterima akal sehat Quenna. Ia melirik kakaknya tersebut lalu pergi begitu saja.


Quenna melihat ada Carol yang menatap pertengkaran mereka. Anak itu diam di depan pintu dengan ketakutan.


Wanita tersebut mengabaikan anak itu begitu saja. Ia belum bisa menerima semuanya dengan baik.


Viktor melirik Carol. Ia menghampiri anak gadis itu yang menangis diam-diam. Hati Viktor sangat sakit saat anaknya juga memergoki pertengkaran mereka.


Carol ketakutan dengan ayahnya. Ia mundur sebab Carol, gadis itu melihat jelas apa yang telah Viktor lakukan kepada Quenna. Ia menangis kencang, histeris.


Tetapi Viktor tak peduli ia menarik anak itu ke dalam pelukannya.


"Daddy jahat!! Calol benci Daddy, hiks hiks."


"Maafkan aku."


Viktor memperhatikan wajah anaknya yang sangat mirip dengannya dan Quenna. Anak tersebut adalah buah hasil cintanya yang terlarang di antara ketegangan keluarga.


Ia memang berniat ingin balas dengan dengan Quenna, tapi waktu itu ia sudah dulu jatuh cinta kepada Quenna kecil jadi ia tak sanggup untuk menyakitinya. Ia berpikir jika wanita itu telah dewasa ia akan menikahinya tidak peduli bagaimana ayahnya di surga sana akan mengutuknya karena mencintai anak dari pembunuh dirinya. Viktor sangat bersyukur saat tahu mereka bukanlah saudara.


________


tbc

__ADS_1


like dan komen ges


__ADS_2