
Setelah Quenna ditemukan Rigel pun mengetatkan penjagaan di luar kamar Quenna. Pria itu tak memberikan celah sama sekali untuk Quenna lagi-lagi melakukan kabur dari rumah ini.
Ia harus lebih waspada dan jangan sampai kecolongan seperti tadi malam. Rigel sangat marah mengetahui ia kalah dari seorang wanita.
Untuk membuat Quenna tak lagi melawannya Rigel harus cepat-cepat melakukan pernikahan dengan wanita itu agar Quenna tahu apa akibatnya jika melawan seorang Rigel.
Lagipula ada hal yang sangat mendesak untuk Rigel mempercepat tanggal pernikahannya karena ia mendengar jika Viktor selamat dari maut dan kini sedang berjaya.
Terdengar juga jika pria itu tengah berada di Korea Selatan. Ia khawatir Viktor akan menemukan Quenna dan mengambil wanita itu darinya.
Demi apapun Rigel sangat tidak ikhlas. Ia akan mengikat miliknya sebelum pria itu merebutnya. Ia tahu apa yang ia lakukan dulu salah karena merebut Quenna dari Viktor dan sekarang Viktor ingin merebut apa yang dulu telah menjadi miliknya, sebenarnya tidak ada yang salah hanya saja Rigel ingin egois.
"Bagaimana? Semua aman? Jangan sampai lagi aku mendengar berita jika Quenna dan Carol kabur!!" ancam Rigel pada Autsin dan Yesaya.
Kedua asisten itu saling mengangguk mematuhi titah Rigel. Rigel pun bisa bernapas dengan lega ia berharap kedua asistennya itu tak lagi mengecewakannya.
"Semuanya aman dan Anda tidak perlu khawatir."
Rigel kemudian pergi ke ruangan kerjanya. Ia pun harus melewati kamar Quenna. Terdengar suara tangisan dari dalam kamar.
"Maafkan aku, tapi aku ingin kau hanya menjadi milikku."
______________
Quenna memejamkan matanya membiarkan air mata luruh dari kelopak indah itu. Ia sudah hancur dengan kenyataan yang diterima olehnya.
Ia bukan sedih kembali tertangkap oleh Rigel meskipun sebagian kecil hatinya juga menyayangkan hal itu. Ia sangat sedih saat melihat Viktor tak lagi mengenalinya.
Padahal wanita itu merindukan Viktor setengah mati. Ia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya kabur dari rumah ini demi pria itu akan tetapi apa yang diterimanya? Ia malah dikembalikan pada Rigel dan Viktor sendiri yang melakukannya.
Bayangkan betapa sakitnya hati Quenna. Ia hanya bisa menangisi hal yang sepatutnya tak pantas untuk dirinya tangisi. Demi harta Viktor rela menyerahkan dirinya pada pria yang tak lain adalah musuhnya.
"Kau sudah berubah, aku sungguh tak mengenal siapa dirimu," ujar Quenna dengan air mata yang ikut serta luruh ke pipinya.
__ADS_1
Lihatlah ia sekarang dikurung di dalam kamar tak dibiarkan keluar apalagi untuk menginjak tanah sebelum hari pernikahannya tiba.
Pada akhirnya ia ikhlas dengan takdir itu. Tidak sempat seminggu lagi ia akan resmi menjadi istri orang. Dikiranya ia akan menikah dengan kakaknya akan tetapi siapa nanti yang menjadi calon suaminya?
Quenna ingin tertawa gelak. Tetapi ia malah menangis kuat.
"Aku mencintaimu! Kenapa kau sangat jahat! Kau bahkan melupakan siapa anak mu!!" kesal Quenna yang sangat gemas dengan sikap pria itu.
Ia memejamkan mata dan mengencangkan genggaman tangannya hingga telapak tangan wanita itu memerah.
Wanita itu menuju kasurnya. Ia hanya menatap benda kenyal itu dengan sedih. Apa ia akan mengabdikan diri di kamar ini. Menjadi pemuas pria yang tak diinginkannya?
Oh Quenna. Malang sekali nasib mu. Seumur hidup mu selalu saja dikurung. Kau tidak bisa seperti burung yang bebas terbang kemana pun yang dia inginkan.
_____________
Wajah Viktor yang tak berhenti tersenyum membuat seluruh orang yang memperhatikannya keheranan. Apalagi Prima yang sangat syok.
Ia pikir tadi Viktor baik-baik saja dan tetap waras tidak seperti sekarang yang terus mengangkat sudut bibirnya seolah ada hal yang sangat menyenangkan didapatkannya.
"Kau tahu dia kenapa?"
"Aku tidak tahu Nyonya. Anak Anda sebelumnya baik-baik saja dan tidak ada yang harus dikawatirkan," ucap Prima meyakinkan Celine.
Celine pun mengerutkan keningnya dan terus menatap anaknya yang menunjukkan ekspresi yang sangat aneh.
"Viktor apa sesuatu telah membuatmu senang? Kau tidak ingin menceritakannya pada kami?" tanya Celine dengan hati-hati dan melirik anaknya yang telah melunturkan senyuman yang terus terukir.
Celine pun merasa gugup ketika Viktor tak lagi tersenyum. Tapi sedetik kemudian ia kembali mengulas senyum manisnya.
"Kalian tahu Ibu, aku mendapatkan rezeki nomplok pagi ini. Meskipun aku harus dibuat kesal meeting ku diundur dan dipindahkan. Tetapi aku menemukan wanita yang sedang dicari dan dihadiahi saham karena sudah menemukan seorang wanita bersama anaknya." Viktor boleh saja enteng berbicara tapi jangan lupakan wajah Celine dan Prima yang menunjukkan ekspresi berlawanan.
Kedua manusia itu saling tatap dengan gugup. Terutama Celine yang sangat panik dengan tindakan ceroboh Viktor.
__ADS_1
"Tuan apakah kau menyerahkan wanita itu ke orang-orang tersebut?"
"Tentu saja."
Prima pun menarik napas panjang dan menelan salivanya kasar. Ia tersenyum dengan penuh kecewa. Seharusnya ia yang menemukan Quenna bukan Viktor yang tak mengingat Quenna.
"Tuan kenapa Anda melakukan itu. Bagaimana reaksi wanita itu, Tuan?"
"Reaksinya yah? Tentu saja sangat marah dan anaknya menyebut diriku Daddy. Siapa yang Daddy nya aku tak pernah memiliki anak. Wanita itu sok kenal seolah-olah kita pernah dekat."
Prima meringis mendengar cerita Viktor. Asisten Viktor itu sudah menceritakan segalanya pada Celine. Dan ia berharap bisa menemukan Quenna lebih dulu dan membawa wanita itu ke rumah ini.
Tampaknya Prima harus meningkatkan pencarian lagi di mana sebenarnya Rigel menyembunyikan Quenna.
"Kenapa Anda tidak menyelamatkannya?"
Mata Viktor terangkat memperhatikan Prima yang terlihat tengah mengatur dirinya. Siapa laki-laki tersebut yang terus bertanya seakan ia sedang diintrogasi.
"Kenapa kau? Kau tidak suka. Terserah ku saja. Lagipula aku mendapatkan lima persen saham dari orang itu."
Celine menghela napas lalu menatap Prima dengan bahasa isyarat. Mungkin sudah saatnya ia harus menceritakan siapa itu Quenna.
"Nak mandilah dulu, ada yang ingin kami bicarakan padamu," ujar Celine dan tersenyum lembut pada putranya.
Viktor lantas menuruti ucapan ibu kandungan itu langsung ke kamar mandi. Sementara Prima dan Celine saling berdiskusi di ruang tengah.
"Aku sungguh tak menyangka jika Rigel membawa Quenna ke Korea Selatan."
"Sepertinya kau harus mencarinya secepatnya. Aku takut menantu dan cucuku kenapa-kenapa. Jika sempat hal itu terjadi mungkin aku tak bisa memaafkan diri ku sendiri. Lagipula ini salah kita yang tak menceritakan Quenna."
"Ini bukan salah siapa-siapa. Jika kita menceritakan Quenna pada Viktor dahulu mungkin akan mempengaruhi laki-laki itu. Dan Viktor susah untuk sembuh dari penyakitnya," ucap Prima dan menatap ke depan dan terkejut melihat Viktor yang ada di sana dengan wajah datar.
___________
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa untuk like dan komen setelah membaca.