Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 19


__ADS_3

Suasana ibu kota dihebohkan dengan kasus yang tak bisa dipecahkan. Banyak orang hilang yang tidak bisa ditemukan dan polisi tidak dapat mengusut tuntas kasus-kasus tersebut karena minimnya bukti.


Mereka seolah hilang begitu saja dan tak meninggalkan jejak. Hal itu membuat polisi kesulitan untuk menyelidiki kasus tersebut.


Selain itu sering ditemukan mayat tapi sudah tak dapat dikenali lagi dari segi fisik dan identitas. Tidak ada yang tahu siapa pelakunya, jika dibilang mafia yang melakukannya atau piskopat mungkin saja, karena di kota besar seperti Washington DC memang rawan dengan orang-orang seperti itu.


Berita sana sini menyiarkan kasus yang sama. Mereka seolah tidak henti untuk membicarakannya, karena bagi mereka itu juga adalah kesempatan untuk meraup keuntungan.


Viktor mematikan tv yang menyala dan menyiarkan berita tak penting itu. Seberkas senyum licik tersungging di bibirnya. Mereka semua bodoh tidak bisa menemukan hal yang sangat mudah untuk diusut.


Jika pemerintah pintar maka drinya akan lebih pintar. Dengan uang ia bisa memiliki dunia dan berkuasa.


Laki-laki itu dengan mudahnya menyumpali mulut mereka dengan pundi-pundi Dollar-nya. Sedikit memberikan ancaman juga menjadi hal ampuh bagi Viktor membungkam mereka.


Pria itu menatap anak buahnya yang berkumpul dan tersenyum bangga kepada mereka. Mereka juga ikut tersenyum dan saling bersulang.


"Tanpa kau ada di sisi ku, semuanya tidak akan berjalan dengan lancar," ujar Viktor seraya menyentuh pundak Prima.


Prima tersenyum sekilas lalu mengangguk mantap. Ia juga menepuk pundak bosnya. Benar tanpa Prima semuanya tidak akan seperti ini.


"Terimakasih Tuan, yang lain juga cukup membantu," kilah Prima dan menatap bawahan mereka yang sedang asyik dengan jal*angnya.


Viktor menarik napas panjang dan menatap ruangan tersebut yang penuh dengan wanita penghibur dan juga bau alkohol serta rokok sangat kentara. Ia menatap Prima penuh arti.


"Karena kinerja mu bagus kau boleh memilih wanita di sini sesuka hati mu," ucap Viktor pada pria itu.


Prima tersenyum menanggapi Viktor dan meninggalkan bosnya. Ia menghampiri wanita yang paling menarik di antara semua wanita yang ada di sana.


Viktor menggelengkan kepala melihat Prima yang menggoda wanita itu. Ia mengambil rokok di depannya dan membakar ujungnya dengan pemetik.


Pria itu menghembuskan asap rokok dengan sempurna. Ia juga menikmati sempanye di sana dengan begitu puas.


Ia mengadakan besar-besaran di club ternama dan dan bersifat privat. Ini untuk merayakan keberhasilannya melawan pihak musuh dan semua aset musuhnya jatuh ke tangannya.


Ia cukup senang mendengar kabar itu dan tentunya posisinya menjadi orang terkaya di dunia akan semakin naik.


"Ini yang ku inginkan," tutur kecil Viktor menikmati pemandangan dengan mata menatap tajam.


Viktor meletakan gelas yang berisi minuman keras ke atas meja. Sejenak ia larut dalam pikirannya memikirkan wanita yang telah mengirimkan dua mata-mata ke perusahannya.


Apa penyebab Yohana Kim mengirimkan mereka dan memata-matai dirinya dan perusahaannya? Tentu bukan hal kecil, apakah wanita itu ingin menyatakan perlawanan dengannya?


Ia tahu Yohana pasti kecewa dengannya karena tidak pernah dianggap oleh Viktor. Perempuan itu juga beberapa kali menyatakan perasaannya tapi tak pernah digubris oleh Viktor.


Ketika Yohana dengan lancang mengaku di depan media bahwa dirinya adalah pacar pria itu dan menghebohkan dunia dan pada saat itu Viktor marah besar dan sempat hendak membunuh Yohana.


Mungkin alasan yang paling mudah ditebak wanita itu ingin membalaskan dendamnya? Tapi ada bagusnya, Viktor akan menikmati permainan wanita itu.

__ADS_1


"Dasar wanita rubah, kau pikir dapat mengalahkan ku?"


Tiba-tiba ada seorang wanita yang duduk di pangkuan Viktor. Viktor menatap wanita itu yang hanya mengenakan pakaian dalam.


Ia menghela napas jengah dan mendorong wanita yang dengan lancang mengusap dadanya.


"Enyahlah dari hadapan ku sebelum timah panas itu berada di mata mu," ujar Viktor dan mengacungkan pistol tepat di depan mata wanita tersebut.


"Tuan maafkan saya," ujarnya ketakutan dan cepat langsung menghindari Viktor dan berlari dari sana.


Viktor menatap wanita itu dengan dingin. Ia menembak belakang wanita tersebut hingga membuat perempuan bernasib buruk yang sedang berlari itu terjatuh.


Mata pemilik Club yang ikut menikmati pesta bersama Viktor membelalak. Ia menatap Viktor dengan geram.


"Kau membunuh pekerja ku lagi," lirihnya dengan mata pasrah menatap wanita malang tersebut.


"Tenanglah. Aku akan membayarnya berkali-kali lipat dari harganya," ujar Viktor mengeluarkan cek dan menuliskan beberapa digit angka dan menyerahkan kepada pria tua itu.


Pria tua tersebut tersenyum lebar menatap cek yang berjumlah lebih dari kata lumayan. Ia mengangguk puas.


"Kau memang pengertian."


Viktor mendecih dan pergi dari tempat itu. Ia ingin pulang karena masih banyak hal yang harus diurusnya di rumah. Ditambah ia juga sangat merindukan Quenna, adiknya yang manis itu.


Memikirkannya saja telah membuat Viktor terangsang. Ia menghela kecewa melihat bawahnya yang sudah berdiri.


____


Setelah kedatangannya ke penjara bawah tanah membuat Quenna tersentuh untuk memperhatikan mereka yang sangat memprihatikan tersebut.


Kali ini Quenna datang ke tempat mengerikan itu tidak dengan tangan kosong. Ia membawa beberapa obat dan juga makanan yang sangat banyak.


Tentu mereka terus disiksa dan juga tidak pernah mendapatkan santapan normal.


Quenna menarik napas panjang dan meyakinkan diri masuk ke tempat itu setelah lagi-lagi mengelabuhi para penjaga.


Wanita itu menghampiri penjara satu-persatu dan memberikan obat serta makanan kepada mereka.


"Makanlah dan jangan lupa kau juga meminum obat ini, mungkin dapat memulihkan diri mu."


Quenna beranjak dan beralih kepada penjara lain. Hal tersebut terus dilakukannya hingga ia berada di bagian penjara yang paling menakutkan.


Quenna saja sampai bergidik ngeri dengan hawanya yang sangat berbeda dengan penjara lain. Wanita itu menarik napas panjang dan meyakinkan diri sendiri jika ia bakal tetap masuk ke area situ.


"Hey," seru Quenna kepada orang di dalamnya yang sedang tertidur. Tubuhnya penuh dengan luka besar di perutnya.


Wanita tersebut sampai tak berani melihatnya saking mengerikan bentuk luka tersebut. Quenna meneguk ludahnya dan hendak muntah.

__ADS_1


Pria itu yang sudah terbangun menghampiri Quenna. Ia menatap Quenna dengan mata dingin dan tidak memiliki ekspresi sama sekali.


Quenna bingung untuk mengutarakan ucapannya. Tubuhnya bergetar melihat pria itu mengintimidasi dirinya.


Tapi, Quenna tetap pada rencananya. Tidak peduli semengerikan apa pria ini. Tapi, jika dilihat-lihat laki-laki ini cukup tampan.


"Kenapa kau di sini? Kau rupanya sedang mencari mati," marah pria itu dan menggertak Quenna.


Quenna menatap pria itu dengan tampang polosnya. Ia berusaha menetralkan degupan dadanya.


"Eummm.... Aku ingin memberikan makanan dan obat ini untuk mu. Jangan lupa kau harus mengobati luka mu itu," lirih Quenna sambil menatap takut-takut manik pria tersebut.


Lelaki itu tertawa kecil yang membuat Quenna tak mengerti. Pria tersebut meraih makanan yang dibawa Quenna dan menyantapnya dengan rakus.


"Pelayan di tempat ini ternyata cantik juga, selera Viktor bagus juga. Aku tak tahu pria itu bisa membiarkan pelayan secantik dirimu memberikan makan untuk kami," ujarnya yang membuat Quenna syok.


Ia sempat ingin menyangkal jika ia bukanlah pelayan, tapi diurungkannya kembali dan lebih memilih mengiyakan ucapan pria itu.


"Diamlah, kau jangan memberitahukan ini kepada Viktor," takut Quenna dan memohon kepada pria itu.


"Oh jadi kau kemari tanpa seizin nya? Menarik juga, apa keuntungan ku?"


Quenna tak menyangka dengan pria ini yang masih sempat-sempatnya bertransaksi di saat ia berada di masa genting.


Perempuan itu mengusap tengkuknya dan berusaha berpikir hal apa yang dapat menjamin pria itu.


"Aku tidak tahu, yang pasti aku akan sering datang ke sini dan mengobati luka-luka mu dan membawakan makanan enak untuk mu."


Pria itu berpikir sebentar. Ia tersenyum licik tidak ada salahnya menerima tawaran tersebut, yang penting ia harus sembuh dan lekas keluar dari tempat terkutuk ini.


"Baiklah aku setuju."


Quenna tersenyum senang dan menatap pria itu dalam, "oh ya, siapa nama mu? Nama ku Quenna."


"Quenna," beo pria itu menyebut nama Quenna dengan suara seraknya ia mengangguk dan mulai mengingat nama wanita manis ini.


Quenna menatap jam yang ada di tangannya. Sebentar lagi Viktor akan datang, ia harus bergegas meninggalkan tempat ini.


"Maafkan aku, aku harus segera pergi," ujarnya dan cepat meninggalkan pria itu.


Ia bahkan sampai lupa dengan pertanyaannya sendiri. Belum sempat pria itu menjawabnya tapi Quenna telah pergi.


"Nama ku Rigel," ucap laki-laki tersebut lemah dan melihat Quenna yang telah pergi, "cukup menarik, aku akan membawa mu ketika aku dapat keluar dari sini."


________


Tbc

__ADS_1


__ADS_2