
Titikan air mata yang jatuh secara bergantian ke permukaan wajahnya membuat Quenna meresapi setiap tangisannya. Hatinya hancur manakala tubuhnya dijamah oleh pria lain. Untungnya ada seseorang yang menelpon Rigel hingga ia terselamatkan dari pria terkutuk itu.
Jika sempat hal tadi masih berlanjut mungkin Quenna tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengakhiri hidupnya. Wanita itu ketakutan sembari meremas sisi bajunya dengan kuat.
Tak perlu ditanya lagi bagaimana frustasinya Quenna sekarang. Ia merasa kotor dengan diri sendiri dan bahkan terus memeluk tubuhnya ketakutan.
Wanita itu mengurung diri di dalam kamar setelah Rigel melecehkannya. Ia terus menutup pintu kamarnya dan menolak setiap makanan yang dibawakan oleh pelayan.
"PERGI!!! AKU TAK INGIN MAKAN!!! KATAKAN KEPADA TUAN BAJI.NGAN MU ITU ANTAR AKU PULANG KE AMERIKA!!" tangis Quenna dan memegang dadanya yang terasa sesak.
Wanita itu terus terisak hingga sang pelayan akhirnya benar-benar pergi dari depan kamarnya. Setelah itu barulah Quenna merasa tenang. Ia memeluk tungkainya dan menyembunyikan kepala di antara kedua kakinya tersebut.
"Kenapa nasib ku dari dulu sangat malang?" tanya Quenna dan menertawakan diri sendiri dalam hati. Dirinya memang patut mendapatkan cemoohan, karena ia memang sangat memprihatikan dan sayangnya tidak ada yang peduli padanya.
Wanita itu menarik napas dalam dan memutuskan keluar dari dalam kamar. Ia ingin berjalan-jalan mengelilingi rumah ini tanpa sepengetahuan pelayan pribadinya, lagian juga ia tak akan kemana-mana hanya menjelajahi sebagian rumah ini.
Lagipula Quenna juga akan merasa bosan jika terus mendekam di dalam kamar. Wanita itu berjalan lemah menuju suatu ruangan yang sebelumnya tak diketahui oleh Quenna.
Ia belum pernah ke tempat ini. Pada saat masuk ke dalam Quenna disuguhkan dengan pemandangan indah, yaitu ruangan yang penuh dengan beragam kain dan alat jahitnya.
Orang di dalam sana yang sedang mengerjakan jahitan mereka terkejut melihat Quenna. Mereka panik dan salah seorang menghampirinya.
"Nona jangan ke sini, di sini bukan tempat Anda, mari saya antar Nona ke kamar,"pinta orang tersebut dan Quenna menggeleng lemah.
Ia sangat takjub dengan kain-kain mahal yang dibeli dari berbagai negara. Bahkan mungkin keberadaannya sangat langka. Quenna baru tahu jika Rigel memperkerjakan penjahit untuk membuat pakaian sendiri.
"Aku tidak ingin. Aku ingin melihat tempat ini. Sangat indah, aku menyukainya. Boleh aku mencobanya?" Quenna berdecak kagum seraya menghampiri salah satu mesin jahit yang kosong.
Ia duduk dan mengambil salah satu dasar bahan kain. Sontak saja para penjahit yang ada di dalam sana sangat panik dan melarang Quenna.
"Nona Anda tidak bisa melakukan ini," ucapnya meringis melihat Quenna yang sudah terlanjur menggunting kain yang tadi disentuhnya.
Quenna melirik seluruh penjahit yang meremehkan kemampuannya. Mereka tidak tahu jika Quenna sangat ahli dalam bidang menjahit.
"Kenapa kalian melarang? Apa aku tidak boleh menjahit? Aku katakan pada kalian jika aku bisa menjahit seperti kalian," kesal Quenna dan mulai mengukur kain itu dengan ukuran tubuhnya.
__ADS_1
Mereka terbelalak mendengar ucapan Quenna. Para penjahit itu saling pandang dan juga ada yang menganggukkan kepala dan juga ada yang menggeleng.
"Bagaimana ini, jika Tuan marah apa kau ingin tanggung jawab," bisik salah seorang dan semuanya menggeleng.
"Kita biarkan saja. Lagipula kita juga kan bekerja menjahitkan pakaian Nona." Mereka semua sepakat membiarkan Quenna mengotak atik masih jahit tersebut.
"Tapikan kain itu milik Nona Yohana?" semuanya pun terdiam ketakutan.
Quenna sangat lihai dalam menjahit membuat orang-orang yang semula meremehkan bakatnya itu berdecak kagum tak henti-hentinya.
"Tak ku sangka dia sangat unik," ucap wanita yang paling tua di sana.
Quenna melakukan pekerjaannya sambil menggunakan beberapa trik tambahan agar suasana tak canggung. Selain itu ia sengaja melakukan hal tersebut agar mereka yang meremehkannya bungkam.
"Mereka pikir aku tak bisa menjahit apa," ucap Quenna dalam hati dan tersenyum miring memperlihatkan kehebatannya.
____________
Mendapatkan kabar dari pelayannya menghilang dari dalam kamarnya membuat pria yang semula sibuk di kantor langsung pulang ke rumah.
Pria itu lantas mencari pelayan pribadi Quenna. Ia menyeret pelayan tersebut dan mengintrogasinya habis-habisan.
"Kemana dia, hah? Kenapa dia bisa tidak ada di kamarnya?!! Kau sendiri mengatakan jika dia terus di dalam kamar."
"Tuan, maafkan saya. Saya tidak tahu Nona kemana," wanita itu bersujud di bawah kaki Rigel dan menangis tersedu-sedu meminta agar dirinya mendapatkan maaf dari sang atasan.
Rigel menghela napas. Jujur perasannya sekarang benar-benar kacau, bagaimana tidak wanita itu tidak ada di manapun. Bahkan pelayan bersatu dengan bodyguard mencari Quenna.
"Tu-tuan ampuni ibu saya.... Sa...saya tadi melihat Nona menuju ruang jahit," aku anak dari pelayan pribadi Quenna itu.
Mata Rigel membulat dan heran kenapa Quenna bisa menuju tempat itu. Atau apakah itu hanya alibi Quenna untuk melakukan trik kaburnya?
Pria itu langsung bergegas ke tempat ruang jahit dan sangat terkejut melihat memang benar Quenna di dalam sana. Akan tetapi wajahnya memerah manakala melihat Yohana yang juga ada di sana dan sedang beradu mulut dengan Quenna.
"Kau!!! Kain ini ku beli untuk membuat baju ku!! BUKAN BAJU MU!! DASAR RAKUS... KAU SENGAJA MEMAKSA MEREKA KAN UNTUK MEMBUATKAN BAJU MU?" marah Yohana.
__ADS_1
Rencana Yohana datang ke tempat ini ingin memberikan sketsa baju yang ia inginkan dan dibuat dari bahan yang telah dibelinya tempo lalu.
Tapi apa? Ketika ia ke tempat itu dan melihat kain itu malah sudah menjadi baju yang pas ke tubuh Quenna.
Yohana sudah sangat lama menyimpan dendamnya terhadap Quenna. Ia sangat tidak setuju tatkala Rigel memutuskan membawa Quenna ke tempat ini.
"Aku tidak tahu, lagipula mereka tidak mengatakannya," ujar Quenna yang tak mau kalah dari Yohana.
Mata Yohana langsung membola. Ia menarik rambut Quenna dengan kencang.
"Apa katamu? KAU TAHU? Kau itu sangat menjijikkan, semua kau inginkan. Mulai dari pakaian ini, bahkan semua pria yang aku cintai malah mencintai mu!! Siala.n!!" marah Yohana dan menampar Quenna.
Quenna tak terima dengan penghinaan itu. Tangannya di bawah sana mengepal, lantas perempuan tersebut juga membalas perbuatan Yohana kepadanya.
"KAU... JANGAN MENTANG-MENTANG KAU BISA MENGALAHKAN VIKTOR DAN KAU BERBUAT SEMAU MU!!"
Lantas keduanya adu mulut hingga Rigel pun datang dan menengahi. Rigel menarik tangan Quenna dan melindungi wanita itu di punggungnya.
Quenna yang merasa sangat marah menjauh dari Rigel dan menatap sinis keuda orang tersebut.
"Kenapa kalian bisa bertengkar di sini, hah?"
"Kau tahu dia merebut kain yang ku inginkan, dan... Lihat...."
Quenna memutar bola matanya malas dan menggerakkan bibirnya mengejek.
"Kenapa kau tidak mengatakan kepada Nona bahwa itu kain milik Yohana dan malah membuatkan pakaian dengan ukuran Quenna?" tanya Viktor kepada salah satu penjahit.
"Tuan maafkan kami, akan tetapi kain itu dijahit oleh nona Quenna sendiri."
_________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN
__ADS_1
HBD TO ME