
Viktor menghela napas lelah. Pria itu melirik jam tangannya dan berdecak. Hari sudah menunjukkan tengah malam dan ia baru saja pulang dari kantor.
Banyak hal yang harus diurus Viktor dan karena itulah ia pulang terlambat untuk malam ini. Dirinya sudah mengatakan pada Quenna tadi dan semoga wanita itu tak menunggunya seperti hari-hari biasanya.
Sambil menyampirkan jas di pundak pria itu masuk ke dalam rumah dan terkejut mendapati rumah itu kosong serta gelap. Kening Viktor mengernyit lalu mencari saklar lampu.
Saat menekan saklar ia terkejut melihat ruang tamu yang sedikit berbeda dari biasanya. Dimana ruangan itu penuh dengan hiasan yang menurut Viktor sangat kekanakan.
Pria itu menatap orang-orang yang di sana yang tengah bersorak menatapnya. Ia seperti orang bingung dan tak tahu apa-apa sekarang ini.
Lantas pria itu pun menghampiri Quenna yang juga ikut bersorak sorai. Ditambah anaknya lagi berpakaian seperti orang tengah merayakan ulangtahun.
"Ada apa ini?" tanya Viktor dengan wajah heran.
Quenna melirik Viktor dengan malu-malu membuat Viktor malah makin menjadi bingung. Laki-laki itu juga menatap orang-orangnya yang seolah tengah melakukan kerjasama dengan wanitanya.
"Happy Birthday Daddy!!!" ucap Carol sembari memberikan kue ulangtahun pada Viktor.
Ia menatap anaknya itu lalu mensejajarkan tingginya dengan Viktor. Ia pun menatap anak itu dengan senyum tak percaya.
Viktor mengusap kepala Carol lalu mengecup kening wanita tersebut dengan perasaan yang dalam.
"Terimakasih cantiknya Daddy," syukur Viktor lalu meniup lilin yang ada di kue tersebut.
Saat lilin itu padam semua orang yang ada di sana bertepuk tangan. Kini usia Viktor telah bertambah dan ia semakin tua.
Dia khawatir jik kebersamannya dengan Quenna pun akan cepat berakhir. Tapi Viktor menepis perasaan itu dan berusaha menikmati pesta kecil-kecilan yang dibuat oleh anaknya.
"Cama-cama Daddy," ucap Carol dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
Viktor tertawa lalu memotong kue yang dibawa anaknya tersebut. Potongan pertama ia berikan pada Carol lalu selanjutnya pada Quenna dan kemudian untuk ibunya. Lalu potongan terakhir untuk dirinya sendiri.
Melihat Viktor yang ingin menyuap sendiri kue tersebut lekas Carol menawarkan diri untuk menyuapkan sang daddy.
"Daddy, biar Carol saja."
Viktor pun mengangguk dan meminta Carol untuk menyuapkan potongan kue itu ke mulutnya. Saat sampai di dalam rongga mulut Viktor bisa merasakan sensasi enak dan lembut di bibir.
"Siapa yang memiliki ide ini?"
Quenna pun menatap Carol yang cekikikan. "Putri mu itu."
"Putri kita," ralat Viktor, "karena kita membuatnya bersama-sama."
Quenna menutup mulut Viktor karena ia malu diperlakukan demikian oleh pria itu. Ia meremas tangannya karena menahan rasa malu ketika Viktor mengucapakan kalimat tersebut dan disaksikan banyak orang.
"Kamu apaan sih... Tahu dengan malu tidak?"
__ADS_1
"Kenapa harus malu? Kalau kau hamil tak memiliki suami maka itu yang aneh."
"Kau pikir aku punya suami? Cih, tahu membuat anak saja menikahi tidak," sindir Quenna membuat Viktor pun sadar jika dia belum menikah dengan wanita yang ada di depannya sekarang.
"Aku lupa. Kalau gitu kita menikah saja sekarang."
Quenna membuang wajah dan menatap Celine yang menahan senyum. Mungkin orang yang ada di ruangan ini tengah menertawakan dirinya.
"Kau Viktor!! Seenaknya mengatakan itu, kau pikir aku akan setuju dengan kau mengatakan seperti itu. Kau tidak peka," rajuk Quenna dan kemudian pergi dengan wajah kesal meninggalkan acara yang belum selesai. Viktor menatap Celine kebingungan.
"Kenapa dia?"
"Biarkan saja, nanti dia bakal baik lagi."
"Tapi Bu..."
"Viktor sudah. Kau coba menemuinya dan bicarakan masalahnya dengan baik-baik."
Viktor mengangguk dan meminta pelayan agar membawa Carol ke kamar.
Sedangkan Celine tahu kenapa Quenna bersikap demikian karena ibu hamil memang sangat sensitif. Perasannya mudah berubah-ubah.
__________
Viktor membuka pintu kamarnya dengan lebar. Kemudian pria itu dengan perasaan was-was melangkahkan kakinya ke dalam.
Dada Viktor berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Menenangkan wanita yang sedang merajuk lebih susah dari menenangkan harimau yang mengamuk mengamuk.
Jika salah berucap sedikitpun maka hubungan mereka yang akan menjadi taruhan. Viktor tidak bisa hidup tanpa Quenna. Semasa hidupnya dihabiskan hanya untuk wanita itu.
Untuk mendekati Quenna dan mengajak wanita itu berbicara sepatah dua patah kata, iya harus melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Bertujuan agar dirinya tidak terlalu tegang dan berakhir nanti malah membuat kesalahan. Serasa sudah menarik napas dan menghembuskannya secara teratur, Viktor lantas menghampiriku Quenna dan duduk di sampingnya.
"Sayang, kenapa manyun begitu? Apakah aku memiliki salah denganmu?" Kue nama lirik gitar dengan raut wajah tak percaya. Sungguh sudah begini pun Viktor tak tahu apa kesalahannya.
Quenna memutar bola matanya malas lalu memberikan jarak dengan pria itu. Kapak pria ini sadar dengan kesalahannya sendiri?
Quenna menatap serius Viktor lu menyodorkan sebuah alat tes kehamilan pada pria itu yang berhasil membuat Viktor melototkan matanya dengan lebar.
Ia meraih benda itu dengan tangan bergetar lalu menatap lama benda tersebut dengan wajah syok tidak percaya.
Ia melihat ada dua garis biru di sana yang Viktor tahu tanda apa itu. Sudah jelas jika ada kehidupan baru di dalam diri Quenna dan itu menjadi kado untuk Viktor.
Viktor mengangkat kepalanya lalu langsung memeluk tubuh wanita itu dan mendekapnya dengan sangat erat.
"Nanti aku akan menikahi mu dengan acara yang sangat megah dan sangat kau impikan. Aku berjanji," ujar Viktor seraya mengecup pipi Quenna tanpa ampun.
__ADS_1
Kebetulan Viktor membuat Quenna sulit menarik napas. Pria ini terlalu aktif hingga ia tak bisa mengimbangi.
"Viktor jangan memeluk ku terlalu kuat. Tubuh mu sangat berat, kau ingin anak di dalam perut ku ini kenapa-napa?"
Viktor menyengir polos seraya mengendurkan pelukannya. Ia mengecup bibir Quenna sekilas lalu mengusap kepala wanita itu penuh sayang.
"Sayang banget sama kamu. Terimakasih ya sayang, mamanya Carol emang menggairahkan sampai-sampai Carol punya adik lagi," frontal Viktor dan berakhir digampar oleh wanita itu.
"Dih... Bilang apa?"
"Bilang kamu cantik."
"Emang cantik. Baru tau?"
"Sudah lama makanya sukanya dari pas kamu kecil," cengir Viktor membuat Quenna mendengus.
"Gak lucu. Pedofil."
"Tapi wanitanya mau. Bagaimana tuh?"
"Kapan Nikah?"
"Besok."
"Kamu aja yang nikah besok."
"Yaudah kapan maunya?"
"Minggu depan."
"Siap Tuan Putri." Viktor memberikan hormat pada Quenna. Setelahnya mereka tertawa dengan kondisi masih mendekap satu saka lain.
"Love u."
"Hate u."
Quenna melebarkan mulutnya dan mendorong tubuh Viktor setelah mendengar kalimat tersebut.
"Maksudnya love u mummy nya Carol."
Viktor mengusap perut Quenna masih tak menyangka jika ada anak mereka di dalam sana.
_________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1