Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 72


__ADS_3

Melihat Carol tampaknya sudah tertidur lelap, Rigel lantas beranjak dari tempat duduknya dan tersenyum lebar kepada peri kecil tersebut yang sangat cantik dengan wajahnya yang begitu mirip dengan kedua orangtuanya.


Hanya saja matanya lebih mirip Viktor dan itu membuat Rigel geram dan hatinya sangat panas. Tapi ia berusaha untuk mengendalikannya.


"Ibu! Daddy!" gumam Carol dengan lirih sampai tubuhnya menggigil.


Rigel yang melihat itu panik setengah mati dan menarik selimut Carol sebatas dada anak kecil tersebut. Ia pun mengusap kepala Carol agar gadis itu bisa tidur dengan tenang.


Bibir anak tersebut terus merapalkan nama kedua orangtuanya. Ia seakan tengah mencari-cari di mana keberadaan orangtunya.


Sungguh malang nasib Carol yang harus lahir di tengah-tengah keluarga yang memiliki sejuta masalah.


"Maafkan aku," ujar Rigel pelan. Ia tidak akan sanggup melihat seorang anak kecil menangis seperti ini.


Memang dia tidak menyesal tapi naluri ke-ayahan seorang pria pasti teruji.


"Daddy! Daddy di mana?" tangis Carol dengan mata terpejam dan air mata keluar di sudut matanya.


Rigel menghapus tetesan bening tersebut lalu tersenyum lebar meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa semuanya akan baik-baik saja selama ia masih ada di sisi Carol.


"Caroline cantik. Tenang yah sayang, Daddy mu ada di sini." Rigel mengambil tangan Carol lalu meletakkannya ke wajahnya," peganglah ini tangan daddy mu."


Kontan mata Carol terbuka dan segera melirik Rigel setelah mendengar bahwa ayahnya ada di sini. Tapi harapan itu sirna dan digantikan dengan hembusan kecewa.


"Om bukan daddy Viktol!" ujarnya kecewa dan merengutkan wajahnya. Ia menarik tangannya dan berbaring memunggungi Rigel sembari menangis diam-diam.


Rigel hanya diam tak bisa berbuat apa-apa. Pernyataan Carol mengenai bahwa ia bukanlah ayah dari anak itu sungguh melukai Rigel dan membuatnya tersadar jika ia bukanlah siapa-siapa.


Rigel menatap hampa anak gadis tersebut dan tersenyum dengan dipaksakan.


"Maafkan aku."


Rigel memeluk tubuh Carol lalu mencium kening anak tersebut. Ia menyanyikan alunan lagu syahdu yang membuat Carol tertidur kembali.


Pria itu menarik napas dan membenahi cara Carol tidur. Ia menarik selimut lalu menatap sekilas anak itu kemudian keluar dari ruangan Carol setelah merasa jika Carol baik-baik saja.


Anak buah Viktor pasti akan ke sini secepatnya dan ia tak boleh berlama-lama di tempat ini.

__ADS_1


Dugaan Rigel ternyata memang benar. Segerombolan pria berpakaian hitam bersama beberapa pelayan menuju kamar inap Caroline. Sepertinya Carol adalah anak yang sangat berharga di mata Viktor.


"Kau sangat menyayangi anak mu. Tapi aku sedikit membencinya karena dia juga mirip dengan musuh ku," ucap Rigel kepada dirinya sendiri tapi ditujukan untuk Quenna.


Ia akan ke kamar di mana Viktor dirawat. Ada misi yang akan ia jalankan. Laki-laki tersebut mendatarkan wajahnya dan berjalan penuh wibawa ke ruangan Viktor.


Di tengah jalan sebuah televisi yang menyala menampilkan siaran yang menyatakan bahwa pengusaha nomor satu telah meninggal akibat kebakaran.


Rigel diam, ia harus memastikan kebenaran tersebut. Laki-laki itu berjalan ke ruangan Viktor dan melihat ternyata suster baru saja selesai memberikan pertolongan kepada Viktor.


Ia lantas menyamar sebagai salah satu anggota keluarga Viktor dan mendekati salah satu suster tersebut.


"Eumm, saya adalah keluarga korban. Bagaimana kondisi kakak saya?"


"Maksudnya tuan Viktor?"


"Ya benar apa yang kau katakan, bagaimana dia sekarang? Dia baik-baik saja, 'bukan?" Rigel berakting senatural mungkin. Ia menunjukkan wajah penuh khawatirnya.


"Anda tenag terlebih dahulu. Kondisi pasien dalam keadaan darurat. Beberapa peluru tidak bisa dikeluarkan dari tubuhnya sementara peluru itu terus menjalar merusak jaringan tubuhnya. Terakhir peluru hendak sampai ke jantung. Kami harus melakukan operasi secepat mungkin." Rigel mengangguk paham akan tetapi ia merasa bajunya ditarik kasar dan ternyata itu adalah ulah Prima.


"Ba.jingan!! Kenapa kau bisa ada di sini? Rencana buruk apa yang ingin kau lakukan?"


Prima meningkatkan kewaspadaan. Ia harus lebih teliti lagi, pasti sesuatu telah dilakukan oleh Rigel.


"Apa yang dia lakukan di sini?"


"Tidak ada. Dia hanya bertanya kondisi tuan." Prima mengangguk dan menyuruh suster itu pergi.


Sementara kepalanya penuh dengan pemikiran kritis pria itu. Apa yang tengah direncakan Rigel? Laki-laki itu pasti ada hubungannya dengan insiden ini.


_______________


Mobil mewah dengan merk ternama di dunia memasuki pekarangan rumah besar. Sang empu keluar dengan wajah lelah sebab telah melakukan perjalanan jauh.


Ia melangkah dengan hembusan panjang lalu membuka pintu rumahnya. Bodyguard yang menjaga menunduk hormat kepada orang itu.


Ia mengangguk agar mereka mengangkat kepala. Rigel masuk sembari menyampirkan jasnya.

__ADS_1


Ia kembali lagi ke Washington DC karena harus mengurus beberapa hal di sini yang belum ia selesaikan. Apalagi jaringan milik Viktor tidaklah sedikit.


Meski ia telah berhasil melumpuhkan pria itu akan tetapi bukan berarti masalahnya dengan Viktor sudah selesai, pasti sekutu laki-laki tersebut akan bersatu melawannya.


Ia harus juga melakukan rapat rahasia dengan orang-orang hebat yang memihak nya.


"Quenna," ucap Rigel merasa sangat bersalah karena secara tidak langsung ia telah membuat wanita yang paling dicintainya terluka.


Rigel berusaha melupakannya. Lagi pula sebentar lagi ia akan membawa Quenna ke ibu kota dan akan segera menjadikannya sebagai bagian hidupnya.


Rigel pun naik ke lantai atas tepatnya ke kamarnya. Matanya melotot melihat seorang tubuh wanita yang tergantung di depan kamarnya.


Ia panik dan segera menembak tali tersebut hingga terputus. Rigel sigap menangkap tubuh wanita itu dan membuka lilitan tali itu dari orang tersebut.


"APA YANG TELAH KAU LAKUKAN ANA?!!!" marah Rigel dan menghempaskan tali itu marah.


Ana belum benar-benar mati. Ia menangis sesugukan dan membuang muka tidak ingin menatap Rigel yang membuatnya sakit hati.


"Hiks, hiks, hiks, JANGAN HENTIKAN AKU!!! AKU INGIN MATI, TOLONG JANGAN HENTIKAN AKU," teriak Ana pecah. Ia mengesot menjauhi Rigel membuat pria itu merasa aneh.


"Ada apa dengan mu?"


Plakk


Ana menampar keras wajah Rigel hingga membekas. Rigel terlampau syok. Ia menyentuh pipinya dengan perasaan kalut dan menatap Ana tak percaya.


"Kau! Kau kenapa tidak punya hati sekali, hiks, hiks, kau sangat jahat. Kau tahu perbuatan mu itu Iblis!!!" maki Ana dan meludahi Rigel.


Bukan ia tak tau ulah siapa kebakaran yang terjadi di Texas yang memakan ribuan korban. Kakaknya itu pamit ke sana dan setelahnya terdengar kabar bahwa rumah sakit milik Viktor terbakar dan salah satu korbannya adalah pemilik rumah sakit itu sendiri.


Mulai dari situ Ana menyimpulkan bahwa Rigel lah pelakunya. Sebab pria itulah yang menjadi musuh satu-satunya Viktor. Hubungan mereka renggang, setahu Ana sebelum ia benar-benar mengenal Viktor di hidupnya ia sempat mendengar nama pria itu yang merupakan sahabat Rigel dahulu. Entah apa yang membuat persahabatan mereka renggang.


"Kau tidak berhak ikut campur!"


"Aku tidak ingin lagi melihat wajah sok polos mu. Demi dendam mu itu kau bahkan berani melukai wanita yang kau cintai, kau jahat!!" sembur Ana dengan dongkol.


___________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2