Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 34


__ADS_3

Bunga bermekaran menyambut keindahan alam. Suasana pagi yang begitu asri membawa begitu banyak seri di wajah mereka yang selalu menanti-nanti.


Tiada hal yang terlupakan selain diri sendiri yang bakal mengingatkannya. Semua akan jadi berarti jika tersiratkan kepuasan. Tapi sayangnya senyuman getir dari seorang wanita yang sedang termenung di bawah pohon Pinus membuktikan tidak adanya kepuasan dari hidup.


Ia termenung memikirkan banyaknya masalah disetiap ia melangkah. Menempa dan menjalani hidup yang ia tahu sendiri akan berakhir dengan kegagalan.


Quenna mengira setelahnya hidupnya akan menjadi lebih tenang dan aman ketika dapat melihat dunia luar. Ternyata itu hanya angan, buktinya ia terduduk tak berdaya di sini sambil mengusap perutnya dan berharap kepada anaknya.


Dulu ia bersisi keras ingin membunuhnya tapi semakin lama Quenna mengikuti alur dan menikmati kehamilannya, ternyata cukup menyenangkan dan Quenna mendapatkan pengalaman banyak.


"Aku tidak tahu bagaimana nasib mu dan rupa mu nanti, aku harap kau akan baik-baik saja. Jika suatu hari dunia akan membenci diri mu, ingatlah aku akan selalu berdiri di samping mu," ucap Quenna dengan segenap perasaan. Ia menyentuhnya dengan penuh perasaan seorang ibu kepada anaknya.


Setetes embun bening jatuh ke permukaan wajahnya. Quenna tersenyum pahit menerima kenyataan yang tidak berpihak kepadanya.


Quenna berpikir jika Rigel penyelamatnya, tapi semua itu hanya harapan Quenna saja. Rigel menyentuh dirinya dan itu sudah membuktikan jika pria itu tidak ada bedanya dengan Viktor.


Beberapa kali dalam Minggu ini Quenna mendengar pembicaraan Rigel bersama anak buahnya. Kenyataan besar yang tak terduga adalah ia merupakan umpan untuk memancing Viktor dan membunuh pria itu, meskipun Rigel tak sepenuhnya setuju, tapi pria itu tetap menggunakan ia sebagai pion.


Ada perasaan tidak rela di hati Quenna. Ia tidak bisa membiarkan Rigel bertindak sesuka hatinya, ia akan mencegah semua itu sebelum terjadi sesuatu kepada Viktor.


Viktor dipancing dengan dirinya agar pria itu masuk dalam jebakan Yohana dan Rigel. Mereka sengaja membiarkan mata-mata Viktor hidup di tengah-tengah mereka agar orang tersebut memberikan informasi yang sudah dimanipulasi kepada Viktor.


Ketika pria itu mengetahui Quenna di Jepang dan mendatanginya, maka Viktor sudah semakin dekat dengan perangkap mereka. Mereka menunggu di mana-mana saat Viktor akan melakukan penyerangan untuk merebut Quenna, maka di situlah perangkapnya.


Pria itu akan mendapatkan Viktor dan menjebak Viktor dengan membawa pasukan yang banyak lalu menangkap pria itu dan akan dikuliti hidup-hidup.


Hal itu sudah diketahui Quenna, ia benar-benar tidak menyangka dan tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Ia mencengkram perutnya sambil menangis sesugukan.


"Meskipun Daddy mu jahat kepadaku, kenapa aku tidak bisa membencinya? Aku ingin melindunginya dan tidak rela orang menyakitinya. Ternyata perasaan ku masih sama ketika aku kecil, aku tidak bisa melihat kau kenapa-napa Kak, aku sungguh menyayangi mu!!"


Sebenarnya hati Quenna membenci Viktor, tapi ia tak ingin egois dan munafik kepada diri sendiri. Satu hal yang Quenna sadari, ia mencintai kakaknya, hanya saja Quenna tak tahu atas dasar adik kakak atau lainnya.


Wanita tersebut menghapus air matanya dan bertekad ingin pergi jauh dari sini. Ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Viktor karena dirinya. Mungkin jalan satu-satunya pergi dan melupakan tempat ini dan segalanya.


Ia menyadari jika dia belum sungguh-sungguh keluar dari penjara ini. Ia belum benar-benar bebas.


"Aku berharap keputusan ku adalah yang terbaik. Mungkin diam dan menjalani kehidupan berdua dengan mu akan lebih baik. Anak ku, aku mencintaimu! Daddy juga pasti bangga pada mu!"

__ADS_1


________


Viktor meremas selembar foto yang ada di tangannya. Seorang wanita yang masih terlihat muda bersama seorang bayi dan anak laki-laki yang kira-kira berusia 12 tahun.


Di sana mereka semua menggoreskan keindahan senyuman. Viktor terbawa dengan suasana di foto itu. Tapi dalam sekejap semuanya berubah. Wajah yang semula terharu kini beralih dingin.


Ia menghela napas panjang. Viktor membuang foto itu sambil memejamkan mata. Ia keluar dari kamarnya dan membanting pintu itu dengan keras.


Yang menyambut dirinya adalah jeritan dari wanita penghibur yang datang ke tempatnya. Semenjak ia menemukan Quenna, Viktor jarang berhubungan dengan mereka tapi merekalah yang datang ke sini pagi-pagi.


"OMG baby!! Akhirnya kau keluar juga, aku tahu kau akan menemui ku!!" ujar Selena dan hendak meraih lengan Viktor.


Desisan Viktor begitu menegangkan. Ia menatap tajam Selena dan menghempaskan tangan wanita itu.


"Jala.ng tetap jala.ng kasta rendahan!!"


"Apa maksudmu?!!" tanya Selena tidak terima.


Ia menatap Viktor meminta penjelasan dari pria itu. Dadanya mengembang tidak terima dengan ucapan Viktor.


"Kau tidak menyadarinya? Sangat rendahan!!"


Dalam sekali tembakan wanita itu terkapar dengan mata terbuka. Viktor melirik sekilas tubuh tanpa nyawa itu. Pria tersebut dengan raut datar melangkah meninggalkan Selena.


Baru saja Viktor mengayunkan kakinya ingin melangkah, tiba-tiba Prima datang menghadapnya.


"Ada apa?"


Prima terkejut melihat jasad Selena. Tapi itu tak berlangsung lama, pemandangan itu bukanlah hal asing lagi.


"Semua sudah berjalan sesuai rencana! Industri di California milik Rigel sudah diledakkan, diprediksi Rigel akan segera ke sana, dan malam besok kita sudah bisa melakukannya. Penjagaan dan jebakan telah disiapkan, seharusnya Rigel akan mati besok!!!"


"Huh, jangan mengecewakan ku!" ujar Viktor mengintimidasi Prima.


Pria itu mengangguk patuh dengan ucapan Viktor.


"Siap Tuan." Prima menatap Viktor ragu dan meneguk ludahnya kasar, "Nyonya Febi pingsan dan koma beberapa hari, orang di sana sudah menangani, nyonya pasti akan baik-baik saja. Tuan tenang saja."

__ADS_1


Napas Viktor memburu. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Tanpa memandang Prima lagi ia langsung pergi ke kamarnya.


Pria itu mengambil ponselnya dan menelpon orang yang menjaga wanita itu.


"Ba.ngsat!! Apa yang kau lakukan sampai dia bisa pingsan?!!"


"Tuan maafkan saya, nyonya ingin melakukan bunuh diri!!"


"Kau tidak bisa menghentikannya bodoh? Kenapa aku bisa memiliki bawahan tidak becus seperti mu. Ingat jika terjadi sesuatu padanya, maka seluruh keluarga dan kau yang akan menanggung akibatnya!!"


Viktor memutuskan sambungan telepon sepihak. Pria itu meremas ponsel di tangannya. Napasnya yang memburu terdengar jelas.


"Prima menurut mu, Quenna akan membenci ku?"


Prima yang mengikuti Viktor tersenyum mendengar pertanyaan dari tuannya.


"Saya tidak bisa berkata banyak, jika Tuan mengatakan semuanya kepada nona dan bersikap lembut lebih perhatian mungkin nona akan dapat menerima mu!!"


"LANCANG!!!" marah Viktor mendengar saran dari Prima.


Tangan Viktor mengepal. Tidak mungkin ia melakukan apa yang diucapkan Prima. Hal konyol apa yang dilakukannya.


"Maafkan saya Tuan!"


"Sudahlah. Apakah ada kabar dari Quenna? Kehamilannya baik-baik saja, kan?"


"Nona baik-baik saja."


Viktor bersyukur mendengar kabar itu. Tapi hatinya tidak akan pernah tenang jika Quenna bersama Rigel, melihat beberapa hari lalu Rigel menyentuh miliknya membuat darah Viktor mendidih. Ia akan menyayat seluruh tubuh Rigel hidup-hidup dan memotong bibir yang lancang merenggut miliknya.


"Rigel kau akan mendapatkan akibat dari diri ku!!"


_________


Tbc


Hay teman aku punya rekomendasi baru nih buat kalian, karya teman aku. Dijamin bagus ceritanya, kalian bisa masukin ke favorit ya.

__ADS_1



__ADS_2