
Mata Quenna membulat melihat pertengkaran yang terjadi di depan matanya. Viktor jelas sudah bukan tandingan Andreas. Melihat ketahanan Andreas yang semakin terkuras saja Quenna bisa menebak jika selanjutnya pasti pria itu akan habis di bawah tangan kakaknya.
Quenna menarik napas panjang lalu dengan panik memisahkan keduanya. Namun, mereka sama-sama keras kepala dan tak mudah untuk menasehati orang seperti mereka.
Sedangkan Carol menangis di dalam pelukan Quenna melihat pertengkaran tersebut. Pemandangan itu sangat asing di mata gadis itu. Anak tersebut sangat ketakutan hingga suara tangisan yang ia keluarkan sangat menyayat hati.
Quenna menarik napas panjang dan sibuk sendiri. Belum lagi memisahkan mereka dan belum lagi untuk menenangkan Caroline.
"Sayang, jangan nangis ya, tidak apa, om Andreas dan Daddy hanya bermain sebentar!" bohong Quenna yang menatap anaknya penuh harap.
Ia mengerutkan keningnya dan mengusap bahu Carol agar anak itu bisa tenang. Perlahan suara tangis Carol pun mereda. Ia mengusap matanya lalu memandang Quenna dengan wajah polos.
"Jadi om Andreas dan Daddy hanya bermain?" Quenna mengangguk mengiyakan.
Wajah wanita tersebut berseri-seri ketika metode itu berhasil memengaruhi Carol. Namun tidak berselang lama ia harus menelan kekecewaan saat nyatanya Carol malah menangis kembali.
"Tapi, om Andreas terluka Ibu!"
Sudah habis cara Quenna untuk menenangkan anaknya. Ia sangat malu ketika menjadi perhatian orang banyak. Jalan satu-satunya memanglah harus memisahkan perseteruan tersebut.
"KALIAN BUKAN ANAK KECIL LAGI! BERHENTI BERSIKAP KEKANAKAN! ANDREAS!! VIKTOR!!! KALIAN MENDENGAR UCAPAN KU?!!!" marah Quenna seraya menarik tubuh Andreas agar berhenti menyerang Viktor.
Laki-laki tersebut sudah diujung tanduk sekarat masih saja dengan lantang menantang Viktor. Ia hanya bisa bertindak pasrah dan berusaha sekuat tenaga mengingatkan keudanya.
"Viktor!!" Viktor menatap sinis Quenna lebih tepatnya menatap ke arah tangan wanita tersebut yang sedang menyentuh tangan Andreas.
Wajah panik perempuan itu yang hanya ditunjukan untuk Andreas sementara ia diabaikan begitu saja. Hal tersebut menjadi kompor yang ingin meledak di dasar jiwa Viktor.
Ia berapi-api dan tidak bisa membiarkan ada pria lain selain dirinya yang menyentuh tangan Quenna. Viktor memang sudah berjanji kepada diri sendiri untuk bersikap baik kepada Quenna, namun hal sekarang menjadi pengecualian. Wanita itu sudah berani memperhatikan pria lain sementara ia tak dianggap keberadaannya.
Tangan Viktor menggenggam sangat kencang. Bahkan jika ia meninjukan kepalan tangan tersebut maka dalam satu detik orang itu akan menghadapi sekaratul mautnya.
Quenna lantas langsung melepaskan tangannya yang menyentuh salah satu bagian dari tubuh Andreas. Ia begitu kaget saat menyadari hal apa yang telah ia lakukan. Tentu itu akan membawa masalah bagi Andreas.
__ADS_1
Mengingat dirinya merupakan pembunuh bayaran yang sangat keji, lantas hal apa yang akan membuatnya takut? Ia akan menghadapi Viktor jika sewaktu-waktu akan membahayakan keadaan.
Wanita tersebut menatap dengan penuh tantangan kepada laki-laki itu. Viktor pun tertarik dengan keberanian Quenna.
"Kau tidak salah ingin menantang ku? Apakah ini sebuah lelucon? Aku tidak akan pernah melawan mu!"
Quenna berdiri dengan tegap seakan tengah membela kebenaran. Ia melindungi Andreas di belakangnya.
"Kakak!! Apa yang kau lakukan?!! Ini di tempat umum! Apa kau gila? Kau menghajarnya seakan ingin membunuh, kau tidak takut orang-orang akan menyebarkan berita mu?!!" nasehat Quenna dengan pandangan sangat berharap.
Viktor mendelik malas. Quenna bahkan mengucapkan kata-kata pembelaannya demi laki-laki siala.n yang bahkan ia tak tahu namanya. Namun, dilihat-lihat selama tak ada dirinya sudah banyak hal yang terjadi di antara mereka.
Memikirkan hal itu malah membuat ia semakin terbakar. Viktor maju selangkah dan mengintimidasi seraya menyeringai licik.
"Dia yang memulainya!! Dia telah berani menantang ku, maka ia harus mati di tangan ku!"
Sangat tidak percaya, itulah yang terlintas di benak Quenna. Ia tertawa masam lalu tanpa terduga tangannya mendarat begitu cepat dan bahkan bersentuhan sangat kasar dengan wajah Viktor.
Saat dahulu Viktor lah yang sering melakukan hal semacam itu kepadanya, maka keadaan sekarang telah berbalik.
"Kak, sadarlah. Ini tempat umum!! Kau tak takut jika mereka semua akan menyebarkan rumor yang tidak-tidak mengenai diri mu? Ingat kau adalah salah satu orang berpengaruh di dunia ini! Reputasi mu akan hancur. Maafkan Andreas."
"Quenna.... Kau bahkan berani melawan ku demi pria ini, maka jangan salahkan aku jika diriku yang dulu akan kembali lagi!! Itu karena mu! Jauhi pria ini atau dia akan mati. Sekarang, nyawanya ada di tangan mu! Jangan sampai keputusan mu membawa penyesalan," ancam Viktor dan berlalu dengan sangat marah dari tempat itu.
"Daddy!!" teriak Carol seraya berlari ke arah Viktor.
Viktor melirik anaknya yang memegang tangannya. Pria itu menarik napas dalam dan menghempaskan tangan Carol.
Quenna sangat sedih melihat Viktor yang kembali kasar. Bahkan Carol sangat ketakutan melihat ayahnya sendiri. Anak itu berjalan pelan ke arahnya kemudian memeluk sang ibu erat.
"Ibu! Kenapa ayah marah kepadaku? Hiks, Carol takut dengan ayah Ibu!"
"Carol tenanglah, ayah mu sedang dalam suasana hati buruk! Nanti dia akan kembali baik kepada mu." Carol mengangguk dengan wajah memerah.
__ADS_1
Quenna tersenyum lega. Ia menatap Andreas yang terluka parah. Orang-orang yang semula menonton mereka juga telah menjauh.
Wanita itu membawa Andreas ke tempat yang sedikit aman. Ia mengoleskan beberapa obat kepada Andreas.
Wanita itu begitu cekatan dengan pekerjaan yang dilakukannya. Ia menatap Andreas yang berdesis kesakitan lalu pada Carol yang sudah tertidur di sampingnya.
"Kenapa kau menghalangi ku untuk membunuh pria tadi?!!"
Quenna memutar bola matanya dengan malas. Andreas tidak tahu saja betapa kejamnya Viktor, laki-laki tersebut tidak sebanding dengan Andreas.
"Kau sedang sekarat begini masih sempat-sempatnya ingin membunuh dia! Kau sangat bodoh, kau kira dia tandingan mu? Bahkan bos saja sampai pikir-pikir kembali ingin menyerang dia. Dia memiliki ilmu bela diri dan handal dalam menembak. Ilmu kemiliteran telah melekat ke dalam dirinya!" Quenna menceritakan penuh harap agar Andreas dapat berubah pikiran setalah mendengar apa yang ia katakan.
Andreas memandang Quenna heran, "kau berbicara seolah sangat mengenalnya. Katakan pada ku, kau dipaksa dengannya bukan hingga memiliki Carol?"
Quenna ingin sekali berteriak jika ucapan Andreas benar bahwa ia dipaksa. Tapi Quenna tak bisa melakukannya, karena perasannya menguasai kewarasan yang ia punya.
"Andreas, aku sedang tidak ingin membahasnya!"
Andreas pun menarik napas dalam dan membuang wajah. Ia dapat merasakan ada bucahan perasaan yang sangat besar di sekitar mereka.
Tapi, Andreas belum mengetahui dengan pasti apa latar belakang mereka dan hubungan seperti apa yang telah terjalin dulu di antara keduanya. Tampaknya ia harus menyelidiki hal ini.
Tak lama datang seorang petugas pusat permainan itu yang hendak membereskan kekacauan yang telah diperbuat Viktor dan Andreas.
"Tuan, maafkan kelancangan kami terhadap pusat permainan ini."
"Nona, tidak apa. Lagian tuan Viktor adalah pemilik tempat permainan ini. Dia baru saja membeli taman bermain ini, katanya untuk anaknya."
"Hah??!! APA YANG BARUSAN KAU KATAKAN??!!" Quenna harap ia sedang salah mendengar. "Ku rasa pria itu sudah sangat tidak waras. Apa yang ada di pikirannya saat membeli tempat ini?"
_______
Tbc
__ADS_1
BUDAYAKAN SETELAH MEMBACA UNTUK MEMBERIKAN LIKE DALAM KOMEN.