Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 18


__ADS_3

Suara hembusan napas lelah memecahkan keheningan ruangan sepi tersebut. Viktor mendesah panjang dan meletakkan berkas di atas mejanya.


Pria itu memijat kepalanya yang berdenyut pening. Akhir-akhir ini ia terlalu banyak pikiran yang membuatnya kelelahan.


Musuhnya juga sudah terang-terangan menunjukan diri dan berbalik menyerangnya. Viktor harus melakukan segala cara untuk mengalihkan mereka.


"Menghentikan seorang Viktor tidak semudah itu," sinis Viktor dan menatap senjata kesayangannya.


Jika musuhnya memiliki berbagai cara untuk melawannya maka ia juga memiliki ribuan cara untuk membalas mereka.


Viktor menarik napas panjang dan tersenyum bangga. Ia membanggakan dirinya yang begitu lihai dalam mengatur strategi.


Lelaki itu beranjak dari kursi yang menopangnya dan meninggalkan ruang kerja tersebut.


Ia berniat untuk meregangkan otot-ototnya yang kebas dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan bekerja.


Viktor berjalan melewati tempat Quenna yang selalu menghabiskan hari-harinya di sana, ruang jahit. Ia masuk ke dalam ruangan itu dan meneliti beberapa barang milik Quenna.


"Kau memang suka menjahit dari kecil Quen, aku harap kau bisa mengembangkan bakat mu di ruangan sini." Viktor tersenyum dan meraih hasil jahitan Quenna.


Pria itu meletakkannya kembali dan tak sengaja melihat tumpukan novel milik Quenna. Viktor meraih buku itu dan meliriknya.


Tiba-tiba satu buku kecil terjatuh ke lantai. Pria itu memungutnya dan melihat buku tersebut. Wajah pria itu berubah tanpa ekspresi.


"Kau memang gigih, aku salut dengan usaha mu." Viktor menatap buku miliknya yang ternyata dicuri oleh Quenna. "Kau pikir aku tidak bisa menemukannya?" tanya Viktor seperti gumaman dan lebih mengarah sedang menyatakan dirinya adalah pihak yang selalu mendominasi


Viktor membawa buku itu dan meninggalkan ruangan jahit Quenna. Ia menutupnya dengan rapat lalu berlalu dari tempat itu.


Ia masuk ke dalam kamarnya dan melihat Quenna yang sudah terlelap. Laki-laki itu masih dirundung emosi dengan hal apa yang telah dilakukan Quenna.


Menjadi pencuri dan menunjukkan sisi beraninya tentu membuat Viktor marah mengetahui kebenarannya. Ia tahu Quenna sudah cerdas dari kecil dan wanita itu juga keras kepala, bagaimana bisa ia membuat dan mengubah sikap adiknya menjadi wanita yang penurut? Sampai kapan pun Quenna-nya tetap Quenna yang dulu.


Viktor menghampiri Quenna dengan aura dingin yang mengintimidasi. Pria itu menatap tubuh Quenna dengan intens.


Jakunnya turun naik merasakan tubuhnya yang panas akibat terangsang dengan tubuh yang sempurna itu. Selimut tersibak dari tubuh Quenna hingga melihatkan tubuh wanita itu yang menggunakan pakaian tidur tipis dan juga pendek begitu menggiurkan.


Dengan susah payah ia menutupi tubuh Quenna dengan selimut. Ia tidak menyangka tubuh kecil yang selalu dipeluknya dulu kini sudah tumbuh dewasa dan mampu menggoyangkan hasratnya.

__ADS_1


"Kau memang bidadari kecil yang menjelma jadi Dewi yang penggoda ku," ucap Viktor dan menarik napas sebanyak mungkin.


Ia duduk di tepi ranjang dan mengamati wajah Quenna dengan seksama. Pria itu tertawan dengan keindahan yang begitu menawan dari wajah wanita itu.


"Aku sudah menebaknya dari dulu jika kau akan secantik ini. Adik ku yang manis lebih manis lagi jika kau menjadi penurut."


Viktor tak dapat melepaskan pandangannya. Ia tertawa kecil lalu dengan gemas mengacak rambut adiknya.


Ia ingat dulu Quenna akan marah jika ia mengacak rambut yang sudah ditatan sang bunda dengan rapi. Anak itu akan menangis dan mengadu pada Maria.


Sekarang Quenna tak punya tempat mengadu lagi. Ia tahu ini sangat kejam tapi Viktor sama sekali tak pernah memikirkan bagaimana perasaan Quenna.


Pria itu menghela napas panjang dan menatap benda di depannya dengan kosong. Berapa banyak dosanya kepada wanita ini, mungkin tak bisa untuk dimaafkan dan Viktor tahu itu.


"Kau boleh membenci ku. Tapi kau tidak bisa meminta ku untuk melepaskan mu."


Alasan ia mengurung Quenna adalah karena obsesinya yang begitu akut. Ia takut jika Quenna ditunjukkan pada dunia luar dan akan banyak pria yang menyukai adiknya.


Dirinya tak ingin dan bersumpah hanya dirinya seorang lah yang boleh mencintai Quenna dan menikmati kecantikan yang dimiliki perempuan itu.


Ia beberapa kali berhenti dan bermain sebentar pada area tertentu. Quenna menggeliat merasakan tubuhnya sedang dijamah. Tapi, ia tidak terbangun.


Viktor tersenyum sebentar lalu membuka topengnya yang terus menutupi wajahnya. Sama sekali tidak ada belang di sana karena ia juga merawat wajahnya.


Hanya ada bekas luka di bawah mata pria itu namun tak menghilangkan ketampanan Viktor.


"Aku tidak tahu jika kau melihat wajah ku, kau akan takut atau akan pergi dari ku."


Viktor melamun beberapa saat. Ia begitu takut jika Quenna akan membencinya karena wajahnya yang cacat. Ia ingin selalu sempurna di mata wanita ini apa pun caranya.


Sementara Quenna yang merasa terganggu dengan kehadiran seseorang membuka matanya perlahan.


Viktor terkejut tat kala melihat Quenna telah bangun. Ia meraih topengnya gelagapan dan mengenakannya dengan cepat.


Ia merasakan gugup di dadanya. Hampir saja ia ketahuan untungnya Viktor cepat sadar hingga Quenna yang masih belum terbangun sepenuhnya itu tak melihat wajahnya.


"Kakak," gumam Quenna dan mengusap kelopak matanya.

__ADS_1


Ia mengerutkan keningnya melihat sang kakak. Wanita itu berusaha bangun dan duduk.


"Hati-hati," ujar Viktor dan membantu wanita itu duduk.


"Terimakasih."


"Kenapa kau bangun?"


"Entahlah, aku merasa ada seseorang yang menyentuh tubuh ku," ujar Quenna yang belum menyadari dengan situasinya. Sedetik kemudian ia menatap Viktor dan mendecih malas ketika tahu akan jawabannya.


"Aku sangat lelah hari ini, bisakah kau memijat tubuh ku?" pinta Viktor dan menyorongkan punggungnya.


Quenna mengangguk dan membuka kemeja Viktor. Ia menahan napas melihat punggung sang kakak yang tegap dan berotot.


Quenna terpana meski ia sudah sering melihat keindahan tubuh ini. Tangannya yang lembut tanpa sadar mengusap punggung Viktor dengan sensual membuat sang empu merasakan merem melek karena nafsu.


Wanita itu belum sadar dengan perbuatannya yang bisa membawanya ke hal yang lebih buruk.


Di balik sana sudah berdiri membuat Viktor sangat tersiksa. Ia menangkap tangan Quenna dan menatap wanita itu tajam.


"Aku meminta mu untuk memijatnya bukan mengusapnya, kau tak paham?" tutur dingin Viktor membuat Quenna ketakutan.


"Maafkan aku Kaka," ujar Quenna menyadari kesalahannya. Tapi belum mengetahui jika kesalahannya itu berakibat fatal bagi Viktor.


Quenna memijat pundak sang kakak meski beberapa kali ia tetap tak bisa fokus. Dadanya berdetak sangat kencang tak karuan.


Ia gugup dengan posisi ini dan perempuan itu berharap semoga bisa secepatnya selesai.


Viktor meresapi rasa lembut yang menyentuh punggungnya. Hasratnya tidak bisa ditundukkan begitu saja, ia sudah sangat tersiksa.


Pria itu menyentuh tangan Quenna dan menahannya.


"Kau yang telah berbuat maka kau yang harus bertanggung jawab."


________


Tbc

__ADS_1


__ADS_2