
Setelah kunjungannya di penjara dan bertemu pria muda yang belum sempat ia ketahui namanya, Quenna menjadi lebih sering datang ke tempat itu dan seperti biasanya sambil membawa makanan dan obat-obatan yang dicuri tanpa sepengetahuan Viktor.
Wanita itu mendesah lega melihat penjaga yang ia kerjai sedang sakit perut dan sibuk mencari toilet dan kemudian saatnya untuknya bereaksi.
"Bodoh," ejek Quenna kenapa para penjaga tersebut.
Ia terkikik geli dan lekas berlari masuk ke dalam ruangan yang lembab dan dingin itu.
Para tahanan yang melihat kedatangan Quenna langsung bersemangat. Mereka memanggil Quenna antusias lalu perempuan itu juga menyapanya dan tak lupa memberikan makanan serta obat-obatan kepada para tahanan yang bernasib malang itu.
"Quenna Anda sangat baik, hati-hatilah di sini dan jangan sampai ketahuan," mohon salah satu tahanan kepadanya.
Tidak ada yang tahu identitas Quenna dan Quenna juga tidak ingin memberitahu. Mereka menyangka Quenna adalah pelayan yang berani menyelip ruang bawah tanah.
"Terimakasih, aku akan pastikan dapat menjaga diri ku," ujar Quenna dan tersenyum seraya pergi ke penjara lain dan melakukan hal yang sama.
Mereka sangat antusias ketika Quenna menghampiri penjara. Mereka yang belum pernah diberi makan menjadi saling rebut, untungnya Quenna dapat mengendalikan kondisi.
Wanita muda itu memberikan makanan untuk mereka dengan adil. Ia juga tak luput memberikan minuman.
"Aku harap kalian bisa keluar dari sini secepatnya."
"Terimakasih Nona, jika aku boleh tau kenapa kau bisa ada di sini?" tanyanya yang sudah dari kemarin merasa bingung kenapa Quenna bisa berkeliaran di sekitar sini. "Apa kau pelayan di rumah ini?" tanya salah satu pria tua kepadanya.
Quenna diam untuk sesaat. Benaknya berkecamuk memikirkan dirinya sendiri. Ia tersenyum dan mengangguk membenarkan tebakan pria tua itu.
Ia memang harus menyembunyikan identitasnya. Lagian ia tidak tahu bagaimana sifat mereka semua yang ada di penjara ini.
"Aku pergi dulu," ujar Quenna dan kini saatnya ia akan menuju penjara yang paling menakutkan.
Quenna menarik napas panjang dan merapalkan beberapa ayat berdoa kepada sang kuasa. Ia mantap berjalan menuju penjara itu.
Wanita tersebut meneguk ludahnya dengan susah payah ketika melihat mata elang yang sangat tajam bahkan mampu mengintimidasi dirinya itu mengarah padanya.
Quenna menatap ke bawah dan mencengkram sisi bajunya dengan kuat. Ia memberanikan diri untuk tetap berjalan menuju penjara itu.
Rigel tertawa mengejek menatap penampilan Quenna. Ia mendesah panjang dan bersandar pada tembok penjara. Meski berada di dalam penjara ia tak takut untuk terang-terangan menunjukan sifat angkuhnya.
Matanya tak lepas dari sosok Quenna yang berdiri di luar penjara sembari menatapnya dengan bengong.
"Akhem," dahem Rigel seraya menatap Quenna dengan penuh pertanyaan.
"A, eumm, eh, anu aku membawakan mu makanan dan juga obat untuk mu, sesuai dengan janji ku, aku membawakan mu yang lebih spesial," tutur Quenna dan mengeluarkan beberapa makanan dari dalam rantang.
__ADS_1
Ia menatap Viktor yang sedari tadi terus mengamatinya. Quenna menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menyengir.
Rigel menggeleng tak percaya. Ia pun mendekat dengan pintu penjara dan mengambil makanan yang sudah disiapkan untuknya dari celah penjara.
Ia melahap makanan itu dengan rakus. Pria itu menghabiskan semua lauk pauk yang dimasak sendiri oleh Quenna itu dengan lahap.
Laki-laki tersebut menatap Quenna dengan dingin dan sama sekali tidak berniat memulai pembicaraan.
"Apa enak?" tanya Quenna dengan penuh harap.
"Ya. Pelayan di sini memang hebat memasak," jujur Rigel seraya hendak menjauh dari bibir penjara.
"Etsss... Aku harus mengobati luka mu dulu, mendekatlah." Quenna mengeluarkan beberapa buah obat yang dibawanya diam-diam.
Ia mengambil obat pereda nyeri dan beberapa obat lain. Ia juga membawa perban untuk membalut luka Rigel yang semakin hari makin parah.
"Aku bisa mengobatinya sendiri."
"Kau lemah seperti ini, bagaimana bisa kau ingin mengobatinya sendirian? Kau pasti akan membutuhkan seseorang. Tidak usah banyak tanya buka baju mu."
Rigel menatap Quenna tak percaya. Matanya membulat seraya melirik pakaiannya. Ia dengan kikuk terpaksa menerima keinginan Quenna.
Benar juga apa yang dikatakan Quenna, sekedar bergerak saja ia tak mampu bagaimana bisa ia mengobati luka-lukanya sendiri di punggung belakang?
Wanita itu memerah melihat tubuh Rigel. Sementara Rigel diam tak bisa berkutik melihat wajah Quenna yang merona.
Ia merasakan ada degupan aneh di dadanya. Pria itu menelan ludahnya dan dengan susah payah ia membuang wajahnya.
"Lakukan cepat," ucap Rigel yang sudah tak mampu menahan dadanya yang hendak meledak saking gugupnya.
Wanita itu penuh dengan kemampuan mengobati Rigel. Meski ia tidak terlalu tahu dengan peralatan medis tapi ia mempelajarinya dengan tekun hingga Quenna tak takut sama sekali salah obat saat memberikan obat-obatan itu kepada para tahanan.
Ia meraih sapu tangan dan mengusap darah yang dikeluarkan dari perut Rigel. Ia menghentikan pendarahan tersebut dan memberikan obat di luka itu sebelum diperban.
Ia juga memberikan pengobatan kepada punggung Rigel yang terluka parah akibat cambukan. Wanita itu melakukannya dari luar penjara dengan menyelipkan tangannya di celah-celah sel.
"Sudah," lapor Quenna dan tersenyum melihat karyanya.
Rigel membalikan tubuhnya dan terpana melihat senyum Quenna. Wanita itu mendekat padanya membuat Rigel kaget dan hendak menghindar. Ternyata wanita itu hanya ingin mengusap keringat di dahinya, Rigel sudah terlalu berlebihan dan berpikir terlampau jauh.
Rigel salah tingkah tanpa sepengetahuan Quenna, ia mati-matian menyembunyikan dirinya. Laki-laki itu cepat memakai kembali bajunya dan menatap canggung wanita itu.
"Kau sudah melakukan tugas mu, pergi lah."
__ADS_1
"Kau ingin mengusir ku?" marah Quenna dan mengercutkan bibirnya. "Ah iya aku belum mengetahui nama mu."
"Rigel," timpalnya.
"Rigel," ulang Quenna dan terus mengucapakan nama itu agar mudah diingatnya.
Tidak tahu saja jika jantung Rigel dalam mode tak aman. Ia tidak sanggup lebih lama lagi bersama Quenna.
"Kau tidak mendengar ku? Pergi dari sini."
"Baiklah, lagi pula aku malas dengan pria yang tak tahu terimakasih seperti mu," marah Quenna dan pergi sambil mengambek meninggalkan Rigel di dalam penjara itu.
Rigel menatap punggung Quenna yang perlahan lenyap dari pandangan. Ia menyentuh dadanya dan berusaha mengelak kenyatannya.
Seberapa banyak ia menyangkal tapi bibirnya tetap tak bisa ditahan untuk tersenyum.
"Menarik juga," gumam Rigel.
Mata pria itu berubah dingin dalam sekejap. Ia melihat orang yang diam-diam menyelinap ke tempatnya.
Ia menatap orang tersebut yang tak lain adalah bwahannya.
"Ada apa? Sesuatu terjadi?"
"Viktor telah membunuh keluarga Louis, dia juga telah merebut semua kekayaan Louis, hingga membuatnya menjadi orang terkaya nomor dua sekarang ini."
Rigel tampak berpikir sejenak. Tangannya mengepal dan mengangguk untuk memperlihatkan dirinya telah mengerti.
"Tetap awasi Viktor."
"Bagaimana dengan Anda Tuan Muda? Kapan kita bertindak dan mengeluarkan mu dari sini?"
Rigel menggeleng untuk menanggapi ucapan pria itu.
"Undur dulu rencana kita. Masih ada hal yang menarik ingin ku selidiki."
"Baik Tuan."
Rigel mengangguk dan menyuruh pergi orang itu sebelum diketahui oleh pihak Viktor. Setelahnya Ia tersenyum-senyum mengingat Quenna.
"Aku berjanji akan membawa mu dari sini dan menjadikan kau milikku."
__________
__ADS_1
Tbc