
Quenna memastikan sendiri apakah dugaannya itu benar. Dan pada saat melakukan tes ia kaget melihat dua garis merah. Wanita itu menahan napasnya karena ini adalah untuk kesekian kalinya ia mengandung benih kakaknya itu.
Ada rasa ketakutan sendiri di dada Quenna karena ia masih trauma dengan kehamilan keduanya yang berakhir dengan keguguran. Ia keguguran karena kondisinya yang kritis bahkan jika selamat itu adalah anugerah Tuhan bahkan pada saat pembersihan janin sempat terkendala hingga rahimnya ingin diangkat akan tetapi untung saja dengan beberapa upaya tindakan itu tak jadi dilakukan.
Quenna bersyukur kepada Tuhan karena masih diberikan kesempatan untuk mengandung lagi meski wanita itu pun belum sepenuhnya siap.
Viktor belum mengetahui kabar tersebut dan Quenna sengaja merahasiakannya lebih dulu dari pria itu. Ia berencana ingin memberikan kejutan kepada Viktor.
Dengan sedikit senyum yang terukir di sisi wajahnya, Quenna menyimpan tespeck tersebut lalu keluar dari dalam kamarnya.
Wanita tersebut melihat Celine yang menunggu di luar kamar seakan sengaja menunggu dirinya. Quenna yang tahu maksud Celine pun tersenyum lebar membuat Celine menutup mulutnya tak percaya.
"Jadi benar?" tanya Celine seraya menatap ke perut Quenna.
Quenna mengangguk mengiyakan membuat Celine semakin tak percaya dan tangannya dengan bergetar terangkat menyentuh perut Quenna.
Entah kenapa ada yang berbeda dengan senyuman Celine. Matanya berkaca-kaca karena terharu mendengar kabar calon cucunya yang ketiga.
Tatapan Celine sendu ia teringat adik Viktor yang belum sempat dilahirkan. Ia tahu sangat jika yang melakukan tindak kekejian pada keluarganya adalah ayah dari calon menantunya yang tak lain iparnya.
Celine menarik napas dan berusaha membuang ingatan tersebut. Ia ingin sepenuhnya melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru.
"Quenna jagalah calon cucu ku ini. Suatu hari nanti jika aku sudah tidak ada kenalkan lah aku padanya, aku sangat ingin suatu saat nanti dia mengunjungi makam ku dan menyebut namaku diiringi nama Tuhan." Quenna langsung menyangkal ucapan Celine yang dirasa sangat menyimpang dari pembicaraan.
"Kau mengatakan apa Ibu? Kau pasti akan melihat calon cucu mu nanti," ucap Quenna seraya membawa Celine ke ruang tamu.
Ia memindahkan Celine dari kursi roda ke sofa. Wanita itu melayani Celine dengan baik hingga membuat Celine sangat terharu.
"Kau tahu, aku sangat menyukai mu saat melihat mu waktu kecil. Tak ku sangka kau lah yang akan mendampingi anak ku," ujar Celine sembari menghembuskan napas.
"Ibu. Aku juga tidak menyangka. Hanya kaulah keluarga ku yang masih tersisa."
"Kau benar, aku pun hanya memiliki kalian." Celine menarik tangan Quenna dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Kau sangat cantik mirip dengan ayah dan suami ku."
Quenna terkekeh. Wajar saja ayahnya dengan ayahnya Viktor bersaudara dan dia dengan Viktor saudara sepupu dan juga angkat.
__ADS_1
"Terimakasih Ibu, dulu kau sempat mengurus ku. Maafkan dengan lancang aku pernah meremehkan mu," sesal Quenna yang dulu menganggap Celine hanyalah orang rendahan tatkala menjadi maid di rumahnya.
"Kau bicara apa, Nak? Wajar saja kau beranggapan seperti itu karena kau dulu masih kecil. Lagipula aku tak mempermasalahkannya. Aku senang bisa melihat putra ku. Tapi sayangnya aku malah berpura-pura lupa ingatan demi menahan rasa bersalahku setiap ia datang mengunjungi diriku."
"Kau tidak salah, ayah ku lah yang salah," ucap Quenna sembari menatap dalam wajah Celine.
"Kau tidak perlu mengatakannya dengan sedih. Aku juga menyesalkan sikap Viktor yang membunuh keluargamu. Ini salah ku juga, 'bukan?"
"Tidak. Ini salah ayah ku," ucap Quenna dan memeluk tubuh Celine menjadikan wanita itu sebagai ibu sambungnya.
"Jadi kapan kau akan memberitahukan Viktor kehamilan mu ini?" tanya Celine sambil mengelus kepala Quenna.
"Nanti aja aku ingin memberikannya kejutan. Ah Carol anak itu selalu saja mencuri Viktor dari ku," cemburu Quenna kepada anak perempuannya sendiri.
"Hahah. Kau ini ada-ada saja, mungkin Viktor ingin membayar semua waktu yang terhutang dengan Carol."
Quenna menatap wajah Celine lalu tersenyum dengan sangat lebar. Quenna tidak marah dengan Carol hanya saja dirinya sedikit kesal.
Tapi perasaan itu akan hilang bila melihat tingkah menggemaskan anaknya.
_____________
Ia melihat dari atas balkon lalu menggelengkan kepala menatap anaknya itu yang banyak membawa barang-barang hasil belanja mereka di mall.
Sudah dapat dipastikan oleh Quenna bahwa barang-barang tersebut bukanlah barang yang biasa saja akan tetapi barang yang bernilai fantastis.
Terlihat dari paper bag nya saja sudah bermerk. Anak itu benar-benar sangat dimanjakan oleh Viktor padahal Quenna sudah sangat sering memperingati Viktor agar tidak memanjakannya supaya Carol tidak sombong dan bisa lebih mandiri.
Entah ajaran mana Viktor pakai dalam mendidik anak yang pasti Quenna merasa apa yang selalu ia pelopori kepada anak itu akan berakhir sia-sia.
Quenna keluar menghampiri mereka yang tengah kesulitan membawa barang-barang Carol yang sangat banyak. Anak kecil tentu suka ditawarkan dengan barang-barang seperti itu dan senang hati Viktor membelikannya.
"Kau membalikan semua ini untuknya?" tanya Quenna dengan wajah tidak percaya.
"Kenapa memang?" tanya Viktor dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Kenapa katamu? Kau... Jika kau terus begini Carol akan jadi sombong dan pemalas." Quenna benar-benar marah besar dan ia membuang wajahnya ketika Viktor menghampiri dirinya.
"Sayang kenapa sih? Kenapa kau selalu marah-marah. Dia anak kita memang seharusnya kita memanjakannya."
"Nanti jika dia tidak bisa mandiri dan terus bergantung pada kita, 'bagaimana?" tanya Quenna menatap kesal pria di depannya.
"Dia pasti mandiri."
"Heh, kau pikir saja bagaimana caranya dia mandiri jika semua kebutuhannya kau yang melengkapinya." Viktor menarik napas panjang.
Jika diteruskan maka perdebatan ini sampai kapanpun tidak akan berhenti. Ia pun berinisiatif menghentikannya dan tak melawan lagi ucapan Quenna.
"Ya ya kau yang menang sayang. Nanti aku tidak akan lagi membelikannya barang mahal," ketus Viktor sembari mengangkat tubuh gendut Carol.
"Ibu dan daddy kenapa bertengkar?" Quenna mendengar semuanya apa yang ibunya masalahkan dengan sang ayah.
Ia tahu jika ibunya marah kepada daddy-nya gara-gara dirinya. Wajah anak itu tiba-tiba menjadi mendung dan memeluk leher ayahnya dan menyembunyikan wajahnya di sana.
"Carol kenapa?"
"Ibu marah dengan Daddy gara-gara Carol."
Viktor tertawa tipis dan melirik Quenna yang tiba-tiba merasa sangat bersalah mendengar keluhan anaknya.
Ia meminta agar Carol diserahkan padanya. Viktor pun memberikan tubuh Quenna yang sudah sangat berat itu pada perempuan tersebut.
"Tidak sayang. Ibu tidak marah pada ayah mu. Carol tidak mau cerita Carol ngapain aja tadi sama daddy?"
Carol menghapus air matanya lalu tersenyum dengan sangat lebar. Meraka pun duduk di sofa untuk mendengarkan cerita Carol yang tentunya akan dijelaskan dengan sangat detail oleh anak itu.
Ketiga makhluk Tuhan pun bercengkrama dengan hikmat mengukir gelar keluarga bahagia.
_____________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH