Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 35


__ADS_3

Meskipun sudah mendapatkan kebebasan yang diinginkan oleh Quenna, tetapi kenapa rasanya ia masih terpenjara oleh teruji tak kasat mata?


Bodoh. Quenna berharap pada dunia yang sudah nyata tidak pasti. Tidak ada kebahagiaan walaupun ada pasti memiliki konflik setelahnya.


Wanita itu merutuki diri sendiri yang gegabah dan salah memprediksi. Quenna pintar dan menyukai alam bebas karena melihat dari buku-buku pelajarannya juga lebih senang berpetualang.


Mengingat ia juga sudah lulus sekolah yang diajarkan oleh ibu Melisa. Banyak ilmu yang diterimanya dari wanita itu, tapi Quenna tak tahu di mana guru tersebut sekarang.


Belum sempat ia melakukan ujian akhir ia mendengar Melisa telah mengundurkan diri tapi tidak pasti penyebabnya apa. Setelahnya tidak terdengar lagi kabarnya. Mungkinkah Viktor membunuhnya? Guru itu sempat memergoki perbuatan bejat Viktor.


"Jika aku tidak bisa menikmati pendidikan, maka kau yang akan menerimanya," ujar Quenna sembari tersenyum menatap perutnya yang membuncit.


Akhir-akhir ini Quenna lebih bahagia dan sering berinteraksi dengan bayi yang ada di perutnya. Meskipun mungkin mereka belum seutuhnya dan sempurna di dalam sana, tapi Quenna seolah tak mengetahuinya dan terus mengajak anak tersebut berbincang.


Semua curahan hati ia ceritakan kepada anaknya. Kelak ia berharap anak tersebut dapat membantunya.


"Kau satu-satunya harapan ku."


Quenna menarik napas panjang seraya membayangkan masa depan ia dan anaknya nanti. Mengajak dia bermain dan mengantarkan ia bersekolah, rasanya sangat menyenangkan.


Senyum itu perlahan memudar ketika ingat bahwa anak itu nanti akan mendapatkan cacian dan makian. Menurut pengetahuan Quenna hubungan sedarah menyebabkan anak yang dilahirkan akan cacat atau penyakitan.


Tentunya hal tersebut akan menjadi olok-olokan mengingat dunia yang begitu kejam. Mengurung anaknya tak membiarkan ia bertemu dengan orang lain Quenna rasa itu juga sama kejamnya dan perempuan itu tak mau anaknya mengalami hal yang sama ia alami.


"Jika suatu hari mereka tahu siapa ayah mu, mungkin mereka akan berlutut." Quenna berandai-andai, tapi bagaimanapun ia tidak boleh menyerah pada Viktor meskipun pria itu memiliki kekuasaan serta bisa membuat orang bungkam. "Sayangnya kau bukan anak yang kehadirannya diinginkan. Kau adalah kesalahan, tapi aku tidak rela kau pergi dari ku."


Quenna tersenyum kecut lalu mengadah ke atas langit. Hari yang lumayan cerah, sudah berjam-jam lamanya ia duduk di bawah pohon ini.


Quenna pun sudah selesai meratapi dirinya sendiri. Wanita itu beranjak dari duduknya dan membersihkan pakaiannya yang tertempel kotoran ataupun dedaunan.


Ia masuk ke dalam rumah mewah milik Rigel. Sudah terhitung cukup lama ia tinggal di sini, tapi Quenna sadar tak mungkin selamanya ia berada di sini.


Derttt


Ia meraih ponsel yang bergetar tersebut. Wanita itu tanpa memandangnya lagi langsung mengangkatnya.


"Kau baik-baik saja?"


Suara penelpon di sana membuat Quenna terkejut dan menatap layar ponselnya. Ia baru menyadari kecerobohan yang dibuat dirinya. Wanita itu geram kepada diri sendiri.


"Kenapa kau bertanya?"

__ADS_1


"Besok kau harus temui aku di alun-alun kota. Tidak boleh memberitahukan siapapun. Jika kau tidak ingin, kau tahu sendiri kan akibatnya?"


Quenna menatap depan dengan kosong. Lagi-lagi sifat mengancam Viktor terasa sangat kuat.


"Jika aku tetap tidak ingin?"


"Kau paling mengerti diri ku, seharusnya kau tahu apa maksudku."


Quenna menggeser layar merah di ponsel itu. Ia tertawa hambar dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa kau tidak pernah berubah sama sekali?"


Quenna mengusap perutnya dan menatap penuh getir calon bayinya.


Saat ia hendak melanjutkan perjalanan menuju kamar tiba-tiba ia mendengar suara yang meninggi dari salah satu ruangan. Ia yang terkejut langsung mendekati arah bunyi suara itu.


"Viktor... Aku akan menguliti mu hidup-hidup. Tunggu pembalasan ku, ahh ya kau ingin bermain-main dengan ku rupanya. Kita lihat besok, seharusnya Viktor mengira jika aku akan ke California dan besok aku akan memberikan kejutan besar kepada nya. Kau tak takut ingin melakukan aksi mu besok dan mengajak Quenna bertemu. Tapi jangan harap aku membiarkan mu!"


"Tuan tenang saja, anak buah dan penyerangan besok telah diatur. Viktor pasti tidak akan menyangka jika Anda masih di sini. Saya pastikan dia akan mati dengan menggenaskan!"


Deg


Degupan dadanya sangat kencang ketika mengetahui dan mendengar percakapan Rigel. Tubuh Quenna terasa lemas, napasnya terputus-putus.


Ia berlari ke kamarnya dan menyembunyikan diri di sana. Keputusannya untuk meninggalkan kota ini semakin bulat, ia berharap Viktor tidak akan datang ke sana.


____________


Quenna menoleh sekali lagi ke belakang. Hamparan keindahan bandara di Jepang yang tertata rapi. Ia berencana akan meninggalkan negara ini dan memulai hidup baru bersama anaknya.


Begitu besar harapan ia taruh kepada keputusannya. Semoga langkah ini benar.


"Kita akan benar-benar pergi jauh dan meninggalkan ayah mu!" lirih Quenna dan menatap sedih keramaian orang-orang di bandara ini.


Quenna memiliki uang dari hasil pemberian Rigel berbulan-bulan di sini. Ia tak pernah memakainya tapi untuk ditabung. Rencana awal dulu ia ingin menggunakan uang tersebut untuk membuka toko jahit, tapi keadaan sekarang terdesak terpaksa menggunakan uang tersebut.


Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya ketika telah sampai ke negara tujuan. Mungkin mencari pekerjaan baru di sana. Tapi di Inggris adakah lowongan yang cocok untuk orang sepertinya ini?


Ketika diumumkan pesawat akan lepas landas Quenna pun berjalan dengan teratih sembari membawa beban berat di perutnya.


Ia tak merasakan kelelahan sama sekali dan malah menjadikan anaknya sebagai penyemangat dirinya.

__ADS_1


"Berjanjilah ketika kau besar akan membantu ku nanti," ujar Quenna sambil tertawa senang.


Seperti kebiasaannya selalu mengusap perutnya yang bulat. Ia ingin cepat-cepat melihat anaknya di dunia ini, tidak peduli orang-orang akan menolak.


Tapak demi tapak ia melangkahi tangga dan masuk ke dalam pesawat. Ia duduk di kursinya dan meletakkan barang-barang terlebih dahulu.


Quenna menatap keluar jendela dan tidak fokus dengan arahan pramugari. Ia terlalu larut dalam masalahnya.


"Nona!! Hey Nona!!"


Quenna terkejut dan menatap pramugari yang sedang mengajaknya berbicara. Ia tersenyum tipis kepada wanita tersebut dan mendengar instruksi dari pramugari itu.


"Terimakasih."


"Nona! Apakah ingin makan sesuatu? Kami akan menyediakannya untuk Nona!"


"Eumm... Ku rasa tidak perlu, aku sudah kenyang."


"Oh baiklah Nona!"


Quenna tersenyum kepada pramugari itu. Ia menghela napas panjang dan menatap jauh ke dalam masa lalu.


"Kakak nanti kalau Quen udah besal, Quen akan keliling dunia Kak, Quen mau kunjungi banyak negala! Kaka Vik temenin Uen, ya?" ujar Quenna kecil sambil menggoyangkan tangan Viktor yang tengah sibuk belajar.


Viktor menghela napasnya dan berhenti menulis pelajaran. Ia menoleh kepada Quenna dan mengusap rambut wanita itu.


"Kakak janji, dan mau nemenin Uen! Sekarang Quen bobo ya sudah malam, nanti mama marah sama kakak."


"Uen mau bobo sama kakak. Kakak juga belhenti nulisnya temenin Uen bobo," lirih anak kecil itu dan mengambil pena serta buku Viktor dan meletakannya jauh dari Viktor.


Ia menarik-narik tangan Viktor dan terpaksalah pria itu harus melayani Quenna yang selalu tidak ingin pisah dengannya tersebut.


Quenna tersenyum mengingat hal tersebut. Itu adalah salah satu dari banyak kenangan ia bersama kakaknya.


"Aku merasa baru saja kecil dan sekarang aku sudah ingin memiliki si kecil." Quenna tertawa atas kekonyolan ini.


Tak lama akhirnya pesawat itu pun mendarat di udara. Quenna bisa melihat semakin lama ia semakin dekat dengan awan.


__________


Tbc

__ADS_1


Hay teman aku punya rekomendasi baru nih buat kalian. Dijamin bagus ceritanya, kalian bisa masukin ke favorit ya.



__ADS_2