
Quenna menatap keindahan alam dari ketinggian di gedung bak istana yang ditempatinya. Ia hanya mampu memandangnya dari tempat itu tidak dengan bersentuhan langsung dengan alam.
Sangat sayang sekali keindahan ini hanya mampu ditatapnya dengan mata tapi tak dapat dinikmatinya. Meski begitu Quenna sudah sangat merasa bersyukur.
Setidaknya ia masih diizinkan kakaknya untuk berdiri di atas balkon dan menatap sekitar yang isinya semua hanya pepohonan.
Ya yang Quenna tahu ia dikurung di tengah-tengah hutan hingga sama sekali tidak mengetahui keberadaannya. Tempat Viktor sangat rahasia.
Quenna memandang burung yang saling bercengkrama dengan sesamanya. Senyum pahit terpatri di wajahnya, kapan ia bisa bebas dan menikmati hidup seperti burung itu?
Entahlah mungkin besok atau nanti atau bahkan tidak akan pernah sama sekali, hanya waktu yang bisa menjawab.
Quenna menunggu kapan waktu itu hingga akhir hayatnya. Di tengah lamunannya mata Quenna tidak sengaja menangkap seorang pekerja mengangkut kayu yang baru saja ditebang nya.
"Siapa dia?" tanya Quenna heran, pakaian pria itu tidak seperti anak buah sang kakak, jelas dia bukan pekerja Viktor, tapi kenapa bisa masuk ke wilayah sini?
Sungguh aneh bukan? Seketika Quenna merasa bahagia. Mungkin ini jawaban Tuhan terhadap semua doa-doanya. Quenna tidak menyangka jika Tuhan sangat baik kepadanya.
"Oh Tuhan aku sangat berterima kasih kepada-Mu." Quenna melambaikan tangannya kepada pekerja hutan tersebut.
Dari buku-buku yang dipelajarinya Quenna tahu jika orang tersebut adalah polisi hutan. Ia mengetahuinya dari pakaian pria itu yang mirip dengan di bukunya.
Ia juga tahu cara isyarat meminta tolong. Awalnya orang itu tidak melihat ke arahnya. Tapi Quenna memanggil tanpa henti hingga laki-laki itu merasa ada orang di sini.
Ia menatap ke atas dan melihat Quenna yang memberikan bahasa isyarat permintaan tolong.
Polisi itu sempat bingung dan menatap rumah megah yang berada di tengah-tengah hutan. Tidak perlu berpikir panjang ia tahu jika wanita ini disekap.
Ia membalas isyarat Quenna agar wanita itu tenangkan diri lebih dulu. Ia akan mencari bantuan.
Quenna menangis terharu tidak menyangka jika penderitaannya akan berakhir dan ia akan keluar dari tempat jahanam ini secepatnya.
"Aku tidak percaya dengan semua ini. Aku akan lolos rasanya itu hanya mimpi," lirih Quenna dan menghapus air matanya, ia tak henti tertawa sambil menangis.
"Ya memang semuanya hanya di mimpi mu," bisik seseorang sensual di telinga Quenna.
Quenna terperanjat dan dadanya berdetak sangat cepat. Tubuhnya bergetar dengan pelan ia membalikkan badan.
Napasnya tertahan dan tangisan kebahagian digantikan dengan tangisan ketakutan.
__ADS_1
Viktor tersenyum mematikan sebelum wajah itu dingin dan berubah mengerikan. Ia memukul tembok di sampingnya.
Dari atas ketinggian ia menembak mati polisi yang lagi mencari cara membantu adiknya bebas. Quenna yang mendengar suara tembakan tersebut terkejut dan berteriak histeris melihat polisi tersebut terkapar menggenaskan.
Quenna melirik Viktor dengan wajah lemas. Hilang sudah harapannya dan sesuai dengan perkataan pria itu, hanya ada di mimpinya, itu artinya tidak akan pernah ada orang yang akan menolongnya.
Plakk
Quenna ditampar dan Viktor yang sudah hilang akal itu merapatkan tubuh Quenna ke dinding dan mencekik wanita itu kuat membuat Quenna tak mampu untuk bersuara.
"Ka_ ka-kakk," ujarnya terbata-bata sambil menjauhkan tangan Viktor yang mencengkram lehernya sangat kuat.
Viktor tidak kasihan melihat Quenna yang sudah sekarat. Ia makin mengencangkan cekikan nya membuat Quenna merasa sisa hidupnya tinggal seberapa.
"QUENNA!! Berani-beraninya kau ingin kabur dari ku, jala*Ng!!" marah Viktor dan memukul tubuh Quenna.
Ia menyentak kasar leher Quenna dan melepaskan cengkeramannya. Pria itu menarik napas dalam dan memberikan tatapan tajam.
Quenna merasakan tubuhnya sudah letih dan tidak memiliki daya lagi untuk hidup. Quenna merosot ke lantai dengan napas ngos-ngosan.
Ia sayu-sayu menatap sang kakak. Isakan tangisnya tak membuat Viktor melunak.
"Kak maafkan aku," lirih Quenna hampir seperti berbisik.
"Kau pikir bisa lari dari ku? Lakukan saja jika kau bisa bi*tch!!"
Viktor mengangkat tubuh rapuh Quenna dan melemparkannya ke atas sofa di ruangan tersebut. Quenna merasakan seluruh tubuhnya remuk.
Ia menggeleng dengan tangis melihat sang kakak hendak membuka bajunya. Ia berusaha menahannya sekuat tenaga tapi nihil semuanya hanya sia-sia.
Bajunya disobek dan dilemparkan ke sembarangan arah. Quenna mati-matian menutupi tubuhnya yang hanya tertutupi pakaian dalam.
Dan kini semuanya mulus tidak adalagi apa pun yang menutupi tubuhnya. Quenna menahan napas ketika tahu apa yang akan dilakukan pria itu, padahal ia masih belum sanggup tapi dipaksa dengan cara menggenaskan hingga milik Quenna terasa sakit.
Viktor melakukan hal tersebut dengan kasar tanpa ampun hingga Quenna yang pada dasarnya belum berdaya hanya bisa menerima penyiksaan bukan kenikmatan.
"Kak berhenti aku lelah!!" ujar Quenna tapi tak dihiraukan, Viktor terus mengejar pelepasannya dan mengeluarkannya di dalam.
"Adik ku yang manis." Viktor mencium puncak kepala sang adik sebelum menjatuhkan tubuhnya di samping wanita itu.
__ADS_1
_________
"Akhh!!" Quenna meringis merasakan selangkangannya sangat perih.
Hendak bangun pun ia tak sanggup. Ia menatap ke samping Viktor sudah tidak ada. Mungkin pria itu sudah pergi.
Quenna menangis sesugukan meratapi nasibnya. Sungguh bengis dan kejam sang kakak memperlakukannya bak binatang.
"Aku lelah Bunda," lirih Quenna hanya mampu bercerita dengan angin.
Quenna tak lelah untuk berusaha tegar dan mengangkat betisnya. Tapi hanya rasa sakit yang lagi-lagi menyelimutinya. Quenna tak sanggup lagi, tenaganya juga sudah habis.
Viktor masuk ke dalam kamar dan menatap Quenna dengan dingin. Quenna terkejut melihat pria itu di depan pintu.
Ia membuang wajahnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Viktor menghela napas dan mengangkat tubuh Quenna membawanya ke kamar mandi dan membantu wanita itu mandi.
Quenna khawatir jika bukan mandi nantinya. Ia sangat malu ketika tubuhnya digosok oleh Viktor.
"Aku akan menyediakan pelayan besok untuk mu."
Quenna menatap Viktor sangat dalam penuh makna. Ia tertawa kecil dan menatap depan dengan berkaca-kaca.
"Aku tidak butuh pelayan Kak. Yang aku inginkan pergi dari mu."
Viktor meredam emosinya, ia tidak ingin marah-marah pagi ini.
"Quenna!!"
"Kak, kita ini adik kakak, kenapa kau melakukan hal itu kepada ku? Kau memang sudah tidak waras Kak."
"Kau tidak jera rupanya?"
Quenna menarik napas dan lebih memilih diam. Itu adalah unek-uneknya yang sudah lama ingin ia sampaikan. Pada akhirnya tersampaikan juga.
"Aku lelah, kau bukan kakak yang ku kenal!'
"Quenna jangan membuat ku marah. Kau sebagai adik harus menurut."
"Ya."
__ADS_1
______
Tbc