
Carol sangat senang pada saat ia melihat daddy dan ibunya datang menjemput ia pulang sekolah. Anak itu merasa paling sempurna karena hanya memiliki keluarga yang lengkap.
Bagaimana Carol tidak senang selama ini ia selalu dijemput ibunya saja sebelum ia mengenal siapa ayah kandungnya. Tapi sekarang anak itu merasa kebahagiaan seakan berpihak hanya padanya saja ketika kini anak itu telah dijemput oleh Viktor dan Quenna.
Quenna senang melihat Carol tumbuh dengan perasaan yang gembira setiap harinya. Setidaknya masa kecil Carol jauh lebih baik dari pada masa kecil dirinya yang penuh dengan rasa ketakutan.
Tidak ada yang bisa disalahkan dengan takdir itu. Quenna pun sudah menerima dengan ikhlas dan wanita itu pun mulai mendapatkan kebahagiaannya.
Sudah hampir sebulan mereka kembali berkumpul dan merajut keluarga yang sangat bahagia. Viktor juga sudah mengumumkan kepada media jika ia dan Quenna sudah bertunangan hanya menunggu beberapa Minggu saja mereka akan sah menjadi pasangan suami istri.
Dan itu artinya Carol benar-benar memiliki keluarga yang utuh. Anak itu juga sangat menyayangi seluruh keluarganya terutama sang nenek. Ia sering bermain bersama Celine dan menghabiskan akhir pekan dengan wanita paruh baya itu.
Viktor jelas sangat senang jika Carol bersama sang nenek dan itu artinya ia dapat berduaan dengan Quenna sepuasnya.
"Kau lihat Carol sangat senang." Viktor tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat anak itu yang berlari ke dalam pelukannya.
Dari jauh saja dia sudah menyerukan nama dirinya sambil berlari dengan penuh semangat. Quenna pun setuju dengan apa yang Viktor katakan.
"Kau benar, aku bahagia melihatnya juga bahagia," ucap Quenna seraya memperhatikan anak tersebut.
"Daddy!!" teriak Carol manja dan memeluk kakinya. Quenna mengusap kepala sang anak hingga anak tersebut pun beralih memeluk dirinya.
"Sayang? Kenapa?" tanya Quenna melihat Carol yang berubah sangat manja padanya. Quenna hapal jika Carol sudah begitu maka anak itu sedang ada maunya.
Carol menyengir sambil mengacungkan dua jari. Anak itu menatap kedua orangtuanya bergantian membuat bingung Viktor dan Quenna. Mereka pun saling tatap lalu kemudian Viktor memutuskan bertanya apa yang diinginkan Caroline.
"Kau ingin apa? Ingat Daddy pasti akan memenuhi keinginan mu."
Wajah Carol berbinar mendengar ayahnya menyebut kalimat tersebut. Ia bertepuk tangan lalu menarik baju sang ayah dengan tingkah menggemaskannya.
"Daddy benar akan memenuhi keinginan ku?" tanya Carol sekali lagi pada sang ayah.
__ADS_1
Viktor dengan mantap mengangguk membenarkan ucapan sang anak. Ia pasti akan melakukan apapun demi putri semata wayangnya. Viktor sangat mencintai Carol anak satu-satunya.
"Sudah pasti."
"Aku ingin adik, Revan dia menceritakan jika adiknya sangat menggemaskan." Ucapan Carol yang lolos begitu saja membuat Quenna terkejut.
Ia bergidik ngeri dengan tatapan Viktor yang sengaja menggodanya sambil mengedipkan mata. Pria itu berubah menjadi laki-laki mesum hanya dengan hitungan detik.
"Kau dengar keinginan anak mu itu?"
Quenna kehabisan kata-kata. Viktor sudah pasti senang tidak dengan dirinya yang belum siap untuk kembali hamil lagi. Ia masih trauma dengan masa lalu yang membuatnya kehilangan calon anaknya.
"Tidak semua keinginan Carol harus kau penuhi. Kita tidak bisa memanjakan dia."
"Tapi ini bukan keinginan Carol saja tapi keinginan ku juga," ucap Viktor membuat Quenna harus menahan napas.
"Kalau begitu kau saja yang hamil."
"Ibu kenapa Daddy?"
"Ibu mu sedang malu. Kau tunggu saja beberapa hari, pasti akan mendapatkan kabar baik," ucap Viktor sambil menggendong tubuh Carol.
______________
Akhir-akhir ini Quenna merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya. Ia lebih mudah lelah dan sering merasakan sakit di area tertentu.
Wanita itu semula meremehkan penyakit tersebut namun lama-kelamaan rasanya sangat nyeri membuat Quenna yang sedang sibuk membereskan kamar pun langsung menghentikan kegiatannya karena merasa sakit di area perutnya.
Quenna terduduk di lantai sambil mengeluh sakit. Celine yang mendengar teriakan Quenna dengan panik memanggil pelayan.
"Oh Tuhan apa yang terjadi pada mu Quenna. Katakan bagian mana yang sakit?"
__ADS_1
Quenna menunjuk perutnya dengan tak berdaya. Wanita itu terus mendesis membuat Celine terdiam.
Dengan gemetar ia menyentuh perut calon menantunya itu dan Celine tersentak tatkala merasakan ada yang berbeda dengan perut Quenna.
Cepat Celine menatap wajah Quenna yang kebingungan melihatnya.
"Ada apa Ibu?" khawatir Quenna.
"Kapan terakhir kau haid?"
Deg
Quenna pun tersentak. Apa jangan-jangan? Oh tidak kenapa bisa secepat itu? Namun jika diperkirakan dirinya pun sudah satu bulan berhubungan dengan Viktor.
Quenna memang belum sadar bahwa dia terlambat haid karena jadwal haidnya beberapa hari kemudian. Akan tetapi saat Celine menannyakan itu ia pun langsung paham.
"Ini terlalu cepat," ujar Quenna.
"Mungkin sudah saatnya."
Quenna melirik Celine sembari mengusap perutnya dengan perasaan tak percaya.
"Tapi bagaimana jika aku tak bisa melahirkannya secara normal?"
"Kenapa tidak bisa? Kau pasti bisa. Yakinlah pada keajaiban Tuhan." Quenna takut jika akan terjadi masalah pada saat ia mengandung dengan kondisi yang lemah. Quenna baru saja sembuh dan itu belum sepenuhnya, wanita itu seharusnya tidak hamil dalam waktu dekat ini
__________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1