
Suara hening pada malam itu amat selaras dengan suasana hati Quenna yang tengah duduk di tepi jendela. Tatapan matanya amat sendu di bawah sinar rembulan.
Besok adalah mulai dirinya akan melakukan penyelidikan kepada korbannya yang digadang-gadang sangat berbahaya bahkan para pengeksekusi sampai lepas tangan saking tak ingin berhadapan dengan target kali ini.
Tapi, bukan itu masalah Quenna, ia diliputi dengan rasa penasaran tak sabaran ingin mengeksekusi korbannya dan mematahkan rumor mereka.
Ia ingin membuktikan jika dirinya akan menjadi pembunuh paling berkualitas di organisasinya.
Tapi, jika benar yang dikatakan mereka, tampaknya Quenna tak bisa melakukan korbannya kali ini sama dengan korban sebelum-sebelumnya.
Ia harus lebih teliti lagi dan merancang strategi sangat matang. Seharunya ia nanti mampu mematahkan orang yang katanya sangat ahli dalam mengatur strategi.
"Benarkah kau sama dengan yang dirumorkan?" tanya Quenna sambil tertawa seperti tengah mengejek targetnya.
Ia menatap foto yang diberikan atasan kepadanya. Itu adalah target orang tersebut. Ia tak mengenali orang yang berada di foto itu meskipun terus menatapnya berulang-ulang kali. Tapi Quenna menyayangkan sekali di wajah tampan itu harus tergores luka yang cukup dalam hingga meninggalkan bekas.
Ia mengamati dengan seksama foto tersebut. Jika dilihat-lihat pria itu sangat rupawan juga. Namun, kenapa Quenna merasa tak asing. Tapi ia memperhatikan lebih jelas lagi tetap saja Quenna tak mengenalinya.
"Sangat sayang di wajah tampan mu terdapat luka. Heh, apakah kau ingin aku menambah luka lagi di sebelah mata mu l?" tawa Quenna mengejek targetnya.
"Ibu!!" suara sang anak yang memanggilnya membuat Quenna terkejut dan menyimpan foto tersebut.
Tapi, tampaknya Carol melihat Quenna telah menyembunyikan sesuatu. Ia mendekati sang ibu sambil menatap perempuan tersebut dengan mata bulatnya.
"Ada apa sayang?" Quenna mengusap kepala sang anak dan tersenyum kepada anak gadis semata wayangnya.
"Carol mau ibu bacakan dongen buat Carol!" Quenna mengangguk dan menggandeng anak tersebut menuju kamarnya.
Caroline dengan pintarnya berbaring di kasur dan menyerahkan buku dongeng yang memuat sejarah Inggris.
"Tidurlah! Kau janji kan setelah aku membacakan untuk mu, kau akan menuruti perkataan ku?" tanya Quenna penuh dengan senyum hangat di wajahnya.
"Aku berjanji pada mu Ibu." Quenna tersenyum puas dan mulai membacakan bait demi bait dari buku cerita tersebut.
Cukup lama ia membacanya hingga hampir berganti cerita baru. Quenna menghentikan bacaannya dan menatap sang anak yang ternyata masih membuka mata.
"Ada apa? Kenapa kau belum tidur? Apakah sesuatu telah mengganggu mu?"
__ADS_1
Carol menggeleng lemah. Tatapan dari mata besarnya penuh akan arti tersirat di sana.
"Ibu, aku ingin melihat foto yang kau lihat tadi!"
Quenna terkejut dan tiba-tiba ia merasa gugup. Ia berusaha memberitahu Carol bahwa ia tak menyimpan apa pun baik itu foto.
"Aku tak ada menyimpan foto apa pun dari mu, mungkin kau salah lihat. Carol sudahlah, besok kau akan sekolah, kau tak ingin terlambat, bukan?" Quenna berusaha agar tetap tenang dan tak membuat anaknya curiga.
Jika Caroline tak memiliki kecerdasan mungkin Quenna tak akan segugup ini. Ia tak ingin sang anak kecewa padanya hanya pekerjaannya yang ia lakukan demi sang anak.
"Kau berbohong pada ku ibu!" sedih Carol dan menutupi dirinya dengan selimut.
Meskipun Carol merajuk padanya, tapi Quenna merasa senang karena Carol tak jadi ingin menyelidiki foto itu.
Sekarang mungkin ia sudah dapat bernapas lega setelah melihat sang anak yang tak kunjung keluar dari balik selimutnya.
"Kau tidurlah, aku akan ke kamar ku."
Tepat Quenna berbalik Carol keluar dari sarangnya dan cepat merebut foto tersebut dari Quenna. Wanita itu terkejut dan menatap sang anak yang telah menatap foto yang dirampas dari tangannya.
Carol memandang dengan serius foto tersebut. Ia tersenyum menatap sang ibu.
Ia menggeleng dengan panik dan sangat cepat sebelum Carol akan salah paham.
"Nak, itu bukan ayah mu!"
Tampaknya Carol tak melihat gelengan Quenna juga tak begitu mendengarkan ucapan perempuan tersebut. Perhatiannya dikuasai oleh foto tersebut.
Ia seakan dapat menatap secara langsung sang ayah yang tak pernah sama sekali dijumpainya dari kecil.
"Papa kapan akan menemui ku?"
Quenna terjebak dengan keadaan. Ia yang pusing sendiri menghadapi Caroline yang rasa ingin tahunya sangat tinggi.
"Aku tidak tahu, kau tak memiliki ayah. Kau jangan memikirkan ayah mu, kau hanya punya ibu!" tekan Quenna agar kejelasan itu dimengerti oleh Caroline.
Caroline menatap foto di tangannya sangat sedih. Ia menyerahkan foto tersebut kembali ke Quenna.
__ADS_1
"Ayah tak menyayangi ku ya?"
Quenna tersenyum tipis. Ia menatap foto tersebut dan menghela napas panjang. Bahkan anaknya mengira orang yang akan dibunuhnya nanti ayahnya.
____________
Kedatangannya ke Inggris menjadi perdananya Viktor melepas topeng di depan umum yang dulu selalu melekat di wajahnya. Pria itu memutuskan tampil percaya diri dengan keadaan dirinya itu.
Tak peduli mereka akan mengumpati wajahnya, tenang saja karena mereka semua akan menjadi sate panggang.
"Di mana hotel kita?" Prima mempersilakan Viktor masuk ke dalam mobil.
Mereka baru saja tiba di Inggris untuk sebuah pekerjaan. Pria tersebut masuk ke dalam mobil yang telah disediakan untuknya.
"Apakah ada jadwal lagi malam ini?"
"Tuan Albert akan merayakan kedatangan mu malam ini dan akan melakukan pesta topeng!"
Viktor menatap lurus ke depan tak merespon dengan sepatah kata pun. Ia menarik napas panjang dan memejamkan matanya.
"Aku penasaran jebakan seperti apa yang telah disiapkan untuk ku, apakah masih sama murahannya?" ejek Viktor sembari membayangkan wajah pria yang berpura-pura baik dan berpihak padanya itu.
Nyatanya Viktor akan mengetahui sesuatu dengan cepat. Ia tersenyum smirk dan akan mengikuti permainan pria tersebut.
"Anda tenang saja, saya telah menciptakan keamanan untuk Anda!"
Viktor mengangguk. Ia tak akan takut sama sekali meskipun siap siaga tak disebarkan. Satu hal lagi kedatangannya ke Inggris adalah perihal ingin mengeksekusi orang-orang tersebut dan membunuhnya di tanah kelahiran mereka sendiri.
"Siapakan jas mahal ku, malam ini aku ingin mengenakan pakaian yang berkelas." Ucapan tersebut bermakna ia akan menghantarkan mereka ke depan pintu neraka.
"Baik Tuan! Ana sudah menyiapkannya untuk Anda."
Ana tetap setia kepada Viktor, dahulu ketika Quenna menghilang hampir tiap hari ia sekarat. Untung raja sangat baik padanya dan mau membebaskan ia dari siksaan pria di itu..
______
Tbc
__ADS_1
Hay teman-teman seperti biasa jangan lupa buat mampir ke sini juga yah.